“Dan hendaklah takut (kepada Allah SWT ) orang-orang yang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.
Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar
(QS. An-Nisa’ : 9)
Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia pulang
(HR. Tirmidzi)
AJF
Selasa, 07 April 2015
Minggu, 08 Maret 2015
Menjaga Iman Islam
Sahabat, ada beberapa sebab mengapa tema ini begitu sangat perlu mendapat perhatian serius, apa saja itu ? mari simak :
Pertama, pada zaman ini kaum muslimin hidup di tengah berbagai macam fitnah, syahwat dan syubhat. Semua itu sangat berpotensi menggerogoti iman. Maka kekuatan iman merupakan kebutuhan muthlak. Bahkan lebih dibutuhkan dibanding pada masa generasi sahabat, karena kerusakan manusia di segala bidang telah menjadi fenomena umum.
Kedua, banyak terjadi pemurtadan dan konversi (perpindahan) agama. Jika pada awal kemerdekaan jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 90 % maka saat ini jumlah itu telah berkurang hampir 10%. Ini tentu menimbulkan kekhawatiran mendalam. Untuk mengatasinya diperlukan jalan keluar, sehingga setiap muslim tetap memiliki kekuatan iman.
Ketiga, pembahasan masalah tsabat berkait erat dengan masalah hati. Padahal Rasululullah saw bersabda:
إِنَّمَا سُمِّيَ الْقَلْبُ مِنْ تَقَلُّبِهِ إِنَّمَا مَثَلُ الْقَلْبِ كَمَثَلِ رِيشَةٍ مُعَلَّقَةٍ فِي أَصْلِ شَجَرَةٍ يُقَلِّبُهَا الرِّيحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ
“Dinamakan hati karena ia (selalu) berbolak-balik. Perumpamaan hati itu bagaikan bulu yang ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin.” (HR. Ahmad)
Dibawah ini hanya beberapa tips dari sekian banyak yang dapat kita lakukan agar iman tetap kuat dalam hati.
1. Akrab dengan Al Qur’an.
Al Qur’an merupakan petunjuk utama mencapai tsabat. Al Qur’an adalah tali penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan Rabbnya. Siapa akrab dan berpegang teguh dengan Al Qur’an niscaya Allah memeliharanya; siapa mengikuti Al Qur’an, niscaya Allah menyelamatkannya; dan siapa yang mendakwahkan Al Qur’an, niscaya Allah menunjukinya ke jalan yang lurus. Dalam hal ini Allah berfirman: “Orang-orang kafir berkata, mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami teguhkan hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (Al Furqan: 32-33)
2. Iltizam (komitmen) terhadap syari’at Allah.
Allah berfirman: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akherat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim. Dan Allah berbuat apa saja yang Ia kehendaki.” (Ibrahim: 27)
Di ayat lain Allah menjelaskan jalan mencapai tsabat yang dimaksud. “Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (hati mereka di atas kebenaran).” (An Nisa’: 66)
3. Mempelajari Kisah Para Nabi.
Mempelajari kisah dan sejarah itu penting. Apalagi sejarah para Nabi. Ia bahkan bisa menguatkan iman seseorang. Secara khusus Allah menyinggung masalah ini dalam firman-Nya: “Dan Kami ceritakan kepadamu kisah-kisah para rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran , pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)
4. Berdo’a.
Di antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman adalah mereka memohon kepada Allah agar diberi keteguhan iman, seperti do’a yang tertulis dalam firmanNya:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Rabb, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (Ali Imran: 8).
Agar hati tetap teguh maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam banyak memanjatkan do’a berikut ini terutama pada waktu duduk takhiyat akhir dalam shalat.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
“Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada din-Mu.” (HR. Turmudzi)
5. Berdakwah
Jika tidak digerakkan, jiwa seseorang tentu akan rusak. Untuk menggerakkan jiwa maka perlu dicarikan medan yang tepat. Di antara medan pergerakan yang paling agung adalah berdakwah. Dan berdakwah merupakan tugas para rasul untuk membebaskan manusia dari adzab Allah.
Maka tidak benar jika dikatakan, fulan itu tidak ada perubahan. Jiwa manusia, bila tidak disibukkan oleh ketaatan maka dapat dipastikan akan disibukkan oleh kemaksiatan. Sebab, iman itu bisa bertambah dan berkurang. Jika seorang da’i menghadapi berbagai tantangan dari ahlul bathil dalam perjalanan dakwahnya, tetapi ia tetap terus berdakwah maka Allah akan semakin menambah dan mengokohkan keimanannya.
6. Dekat dengan Ulama
Senantiasa bergaul dengan ulama akan semakin menguatkan iman seseorang. Tercatat dalam sejarah bahwa berbagai fitnah telah terjadi dan menimpa kaum muslimin, lalu Allah meneguhkan iman kaum muslimin melalui ulama. Di antaranya seperti diutarakan Ali bin Al Madini Rahimahullah: “Di hari riddah (pemurtadan) Allah telah memuliakan din ini dengan Abu Bakar dan di hari mihnah (ujian) dengan Imam Ahmad.”
7. Meyakini Pertolongan Allah
Mungkin pernah terjadi, seseorang tertimpa musibah dan meminta pertolongan Allah, tetapi pertolongan yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang, bahkan yang dialaminya hanya bencana dan ujian. Dalam keadaan seperti ini manusia banyak membutuh-kan tsabat agar tidak berputus asa.
Dan berapa banyak nabi yang berperang yang diikuti oleh sejumlah besar pengikutnya yang bertaqwa, mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan, Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami. Tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akherat. ” (Ali Imran: 146-148)
8. Mengetahui Hakekat Kebatilan
Allah berfirman: “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak dalam negeri .” (Ali Imran: 196)
“Dan demikianlah Kami terang-kan ayat-ayat Al Qur’an (supaya jelas jalan orang-orang shaleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berbuat jahat (musuh-musuh Islam).” (Al An’am: 55)
“Dan Katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah sirna, sesungguhnya yang batil itu pastilah lenyap.” (Al Isra’: 81)
Berbagai keterangan ayat di atas sungguh menentramkan hati setiap orang beriman. Mengetahui bahwa kebatilan akan sirna dan kebenaran akan menang akan mengukuhkan seseorang untuk tetap teguh berada dalam keimanannya.
9. Memiliki Akhlak Pendukung Tsabat
Akhlak pendukung tsabat yang utama adalah sabar. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam:”Tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabar-an.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Tanpa kesabaran iman yang kita miliki akan mudah terombang-ambingkan oleh berbagai musibah dan ujian. Karena itu, sabar termasuk senjata utama mencapai tsabat.
10. Mendengar nasehat Orang Shalih
Nasehat para shalihin sungguh amat penting artinya bagi keteguhan iman. Karena itu, dalam segala tindakan yang akan kita lakukan hendaklah kita sering-sering meminta nasehat mereka. Kita perlu meminta nasehat orang-orang shalih saat mengalami berbagai ujian, saat diberi jabatan, saat mendapat rezki yang banyak dan lain-lain.
Jumat, 23 Januari 2015
FAKTA fitnah WANITA
WANITA memang menjadi sumber fitnah
terbesar bagi para laki-laki sebagaimana sabda Nabi SAW. Seraut wajah seorang
wanita, bisa saja membuat seorang lelaki terbayang-bayang dan mabuk kepayang.
Oleh karena itu, ada sebagian utama yang mewajibkan menutup wajah karena
besarnya peluang fitnah yang bisa ditimbulkan.
Terlepas dari pendapat mana yang kita pilih antara sufur (membuka wajah) atau menutupnya dengan niqab (cadar), yang harus diperhatikan adalah penjagaan fitnah yang harus dilakukan. Karena, hari ini banyak kita temui kurangnya ihtimam terhadap penjagaan tersebut.
Banyak kita temui di jejaring sosial, para akhawat memasang profilepicture alias foto dirinya baik yang bercadar atau pun tidak. Ada yang rame-rame bersama akhawat lain, ada juga yang sendirian. Termasuk, ada pula yang memasang foto closeup-nya lengkap dengan cadarnya. Padahal tidak jelas apa tujuannya dan kepentingannya.
Pun demikian dengan akhawatyang membuka wajahnya. Dengan pede-nya ia tebar senyuman dan pesona. Berdandan dengan maksud supaya terlihat cantik dan menarik. Ditambah suara yang dibuat serenyah mungkin dan gesture yang
sok manis. Justru ketika dirinya berada di tempat bertemunya ia dengan para ikhwan, seperti di kampus, pameran buku, atau selainnya. Lengkap sudah menjadi sumber fitnah. Naudzubillah!
Untuk bisa selamat dari fitnah kecantikan, kita harus jelas memaknai potensi kecantikan yang kita miliki agar kecantikan tersebut justru membawa pahala dan barakah untuk kita. Bukannya menjadi peluang fitnah dan maksiat, balk bagi diri kita maupun orang lain.
Cantik Barakah vs Penuh Fitnah
Kecantikan yang barakah adalah kecantikan lahiriah seseorang yang mensyukuri bahwa hal itu adalah karunia Allah. Takpatut rasanya jika ia merasa bangga dan sombong atas kecantikannya. Ia juga menjaga kecantikan itu dari dua hal. Pertama, menjaganya dari perkaraperkara yang diharamkan Allah dan tetap menjaga kesucian diri dan kehormatannya. Kedua, menjaga dan merawat kecantikan yang dimilikinya. Selain itu, ia tidak memamerkannya kepadaorang-orangyang tidak berhak menikmati kecantikannya, juga tidak melakukan tabarruj atas wajah cantiknya.
Ia julurkan di, atas kecantikannya pakaian ketakwaan yang merupakan
sebaik-baik pakaian dan menutup auratnya. Ia hiasi paras ayu nya dengan hiasan kesalehan yang merupakan sebaikbaik perhiasan. Ia kendalikan hawa nafsunya untuk tidak melanggar perintah dan mengerjakan larangan, terutama yang berkaitan dengan kecantikan miliknya. Orang-orang cantik inilah yang akan selamat dari ujian kesabaran atas karunia kecantikan. Bersabar untuk tidak bermaksiat dan tetap taat. Bersabar supaya tidak mengikuti dorongan nafsu untuk mengeksploitasi kecantikannya. Sabar dan syukur, itulah sifat yang dimiliki oleh pemilik kecantikan yang barakah. lnilah kecantikan yang mendatangkan kecintaan Allah ataspemiliknya.
Berlawanan dengan itu, kecantikan penuh fitnah adalah kecantikan yang merugikan
sipemilik dan mengundang kemuraan Allah atasnya.
Yaitu kecantikan yang digunakan sebagai sarana untuk bermakslat kepada Allah.Kecantikan yang mana pemiliknya 'diperkosa' oleh nafsunya supaya mau memamerkan kecantikannya, menyombongkannya dan menonjolkannya. Bahkan ia merasa bangga jika dapat memuaskan penglihatan lawanjenis (yang tidak berhak) atas kecantikan miliknya.
Dengan kecantikan yang ia miliki, ia justru terseret jauh dari keridhaan Allah. Karena ia telah menyia-nyiakan karunia kecantikan yang diberikanoleh-Nya. Bukannya menjaga keindahan dirinya dari fitnah, ia justru menjadikannya sebagai peluang fitnah. Kecantikan yang seharusnya menjadi potensi ketaatan, malah ia jadikan sebagai modal kemaksiatan. Inilah kecantikan penuh fitnah, yang sia-sia dan dibencioleh Allah. Walaupun kecantikannya tiada tara, namun tak ada artinya (di sisi Allah).
Suami yang Paling Berhak Menikmati
Kecantikan yang mendatangkan pahala adalah yang tepat penikmatnya. Suami adalah situ-satunya penikmat
kecantikan kita yang paling tepat. Karena itulah, berhias dan tampil cantik harusnya ditujukan khusus untuk suami kita.
Meski sering kali kita temui, banyak yang begitu rebut dan ribet dalam memperhatikan penampilan ketika akan keluar rumah. Berbagai persiapan akan dilakukan untuk sebisa mungkin tampil cantik dan mengundang perhatian publik.
Padahal ketika berada di rumah, mereka cuek dan acuh terhadap dandanan mereka, meski di hadapan suami tercinta. Cukup tampil apaadanya, kusut, semrawut dan berantakan, plus daster yang sudah using dan perludi tambal. Bukanlah hal yang mengherankan jika suami akhirnya lebih memilih untuk mencari "pemandangan" di luar yang lebih indah dan menarik.
Oleh karena itu, bagi akhawat yang telah menikah, suami mendapat prioritas penting sebagai tujuan utama berhias. Berdandan untuk suami bernilai ibadah. Seorang istri yang sadar akan kewajibannya, akan berupaya maksimal untuk dapat menarik perhatian suami dengan mengerahkan setiap potensi keindahan dan kecantikannya. Sehingga, ia bias tampil untuk menjadi penyejuk mata, penyenang jiwa dan penentram hati bagi suami. Pun ia sanggup, menjaga pandangan suami dan kemaluannya, hingga tak ada. kata berpaling kecuali hanya pada istrinya.
Dan jika belum menikah, jaga dan rawat kecantikan tersebut hingga pada saat yang tepat nanti, kita bisa menampilkannya dengan baik.Jangan biarkan laki-laki lain sedikit pun men ikmatinya. Karena tak ada hak secuil pun baginya. Kecantikan kita adalah sesuatu yang spesial. Hanya orang spesial yang bisa mendapatkannya. Dialah suami kita nantinya.
Berhias pun dapat berpahala, jika kita meniatkannya karena Allah dan tepat dalam menempatkannya.
Terlepas dari pendapat mana yang kita pilih antara sufur (membuka wajah) atau menutupnya dengan niqab (cadar), yang harus diperhatikan adalah penjagaan fitnah yang harus dilakukan. Karena, hari ini banyak kita temui kurangnya ihtimam terhadap penjagaan tersebut.
Banyak kita temui di jejaring sosial, para akhawat memasang profilepicture alias foto dirinya baik yang bercadar atau pun tidak. Ada yang rame-rame bersama akhawat lain, ada juga yang sendirian. Termasuk, ada pula yang memasang foto closeup-nya lengkap dengan cadarnya. Padahal tidak jelas apa tujuannya dan kepentingannya.
Pun demikian dengan akhawatyang membuka wajahnya. Dengan pede-nya ia tebar senyuman dan pesona. Berdandan dengan maksud supaya terlihat cantik dan menarik. Ditambah suara yang dibuat serenyah mungkin dan gesture yang
sok manis. Justru ketika dirinya berada di tempat bertemunya ia dengan para ikhwan, seperti di kampus, pameran buku, atau selainnya. Lengkap sudah menjadi sumber fitnah. Naudzubillah!
Untuk bisa selamat dari fitnah kecantikan, kita harus jelas memaknai potensi kecantikan yang kita miliki agar kecantikan tersebut justru membawa pahala dan barakah untuk kita. Bukannya menjadi peluang fitnah dan maksiat, balk bagi diri kita maupun orang lain.
Cantik Barakah vs Penuh Fitnah
Kecantikan yang barakah adalah kecantikan lahiriah seseorang yang mensyukuri bahwa hal itu adalah karunia Allah. Takpatut rasanya jika ia merasa bangga dan sombong atas kecantikannya. Ia juga menjaga kecantikan itu dari dua hal. Pertama, menjaganya dari perkaraperkara yang diharamkan Allah dan tetap menjaga kesucian diri dan kehormatannya. Kedua, menjaga dan merawat kecantikan yang dimilikinya. Selain itu, ia tidak memamerkannya kepadaorang-orangyang tidak berhak menikmati kecantikannya, juga tidak melakukan tabarruj atas wajah cantiknya.
Ia julurkan di, atas kecantikannya pakaian ketakwaan yang merupakan
sebaik-baik pakaian dan menutup auratnya. Ia hiasi paras ayu nya dengan hiasan kesalehan yang merupakan sebaikbaik perhiasan. Ia kendalikan hawa nafsunya untuk tidak melanggar perintah dan mengerjakan larangan, terutama yang berkaitan dengan kecantikan miliknya. Orang-orang cantik inilah yang akan selamat dari ujian kesabaran atas karunia kecantikan. Bersabar untuk tidak bermaksiat dan tetap taat. Bersabar supaya tidak mengikuti dorongan nafsu untuk mengeksploitasi kecantikannya. Sabar dan syukur, itulah sifat yang dimiliki oleh pemilik kecantikan yang barakah. lnilah kecantikan yang mendatangkan kecintaan Allah ataspemiliknya.
Berlawanan dengan itu, kecantikan penuh fitnah adalah kecantikan yang merugikan
sipemilik dan mengundang kemuraan Allah atasnya.
Yaitu kecantikan yang digunakan sebagai sarana untuk bermakslat kepada Allah.Kecantikan yang mana pemiliknya 'diperkosa' oleh nafsunya supaya mau memamerkan kecantikannya, menyombongkannya dan menonjolkannya. Bahkan ia merasa bangga jika dapat memuaskan penglihatan lawanjenis (yang tidak berhak) atas kecantikan miliknya.
Dengan kecantikan yang ia miliki, ia justru terseret jauh dari keridhaan Allah. Karena ia telah menyia-nyiakan karunia kecantikan yang diberikanoleh-Nya. Bukannya menjaga keindahan dirinya dari fitnah, ia justru menjadikannya sebagai peluang fitnah. Kecantikan yang seharusnya menjadi potensi ketaatan, malah ia jadikan sebagai modal kemaksiatan. Inilah kecantikan penuh fitnah, yang sia-sia dan dibencioleh Allah. Walaupun kecantikannya tiada tara, namun tak ada artinya (di sisi Allah).
Suami yang Paling Berhak Menikmati
Kecantikan yang mendatangkan pahala adalah yang tepat penikmatnya. Suami adalah situ-satunya penikmat
kecantikan kita yang paling tepat. Karena itulah, berhias dan tampil cantik harusnya ditujukan khusus untuk suami kita.
Meski sering kali kita temui, banyak yang begitu rebut dan ribet dalam memperhatikan penampilan ketika akan keluar rumah. Berbagai persiapan akan dilakukan untuk sebisa mungkin tampil cantik dan mengundang perhatian publik.
Padahal ketika berada di rumah, mereka cuek dan acuh terhadap dandanan mereka, meski di hadapan suami tercinta. Cukup tampil apaadanya, kusut, semrawut dan berantakan, plus daster yang sudah using dan perludi tambal. Bukanlah hal yang mengherankan jika suami akhirnya lebih memilih untuk mencari "pemandangan" di luar yang lebih indah dan menarik.
Oleh karena itu, bagi akhawat yang telah menikah, suami mendapat prioritas penting sebagai tujuan utama berhias. Berdandan untuk suami bernilai ibadah. Seorang istri yang sadar akan kewajibannya, akan berupaya maksimal untuk dapat menarik perhatian suami dengan mengerahkan setiap potensi keindahan dan kecantikannya. Sehingga, ia bias tampil untuk menjadi penyejuk mata, penyenang jiwa dan penentram hati bagi suami. Pun ia sanggup, menjaga pandangan suami dan kemaluannya, hingga tak ada. kata berpaling kecuali hanya pada istrinya.
Dan jika belum menikah, jaga dan rawat kecantikan tersebut hingga pada saat yang tepat nanti, kita bisa menampilkannya dengan baik.Jangan biarkan laki-laki lain sedikit pun men ikmatinya. Karena tak ada hak secuil pun baginya. Kecantikan kita adalah sesuatu yang spesial. Hanya orang spesial yang bisa mendapatkannya. Dialah suami kita nantinya.
Berhias pun dapat berpahala, jika kita meniatkannya karena Allah dan tepat dalam menempatkannya.
Dalam hal ini..
Hanya wanita shalihah yang senantiasa selamat di segala zaman..
Hanya wanita shalihah saja.. yang tidak menjadi fitnah..
#nurisfm
Hanya wanita shalihah yang senantiasa selamat di segala zaman..
Hanya wanita shalihah saja.. yang tidak menjadi fitnah..
#nurisfm
Wanita
memang menjadi sumber fitnah terbesar bagi para laki-laki sebagaimana
sabda Nabi SAW. Seraut wajah seorang wanita, bisa saja membuat seorang
lelaki terbayang-bayang dan mabuk kepayang. Oleh karena itu, ada
sebagian utama yang mewajibkan menutup wajah karena besarnya peluang
fitnah yang bisa ditimbulkan.
Terlepas dari pendapat mana yang kita pilih antara sufur (membuka wajah) atau menutupnya dengan niqab (cadar), yang harus diperhatikan adalah penjagaan fitnah yang harus dilakukan. Karena, hari ini banyak kita temui kurangnya ihtimam terhadap penjagaan tersebut.
Banyak kita temui di jejaring sosial, para akhawat memasang profilepicture alias foto dirinya baik yang bercadar atau pun tidak. Ada yang rame-rame bersama akhawat lain, ada juga yang sendirian. Termasuk, ada pula yang memasang foto closeup-nya lengkap dengan cadarnya. Padahal tidak jelas apa tujuannya dan kepentingannya.
Pun demikian dengan akhawatyang membuka wajahnya. Dengan pede-nya ia tebar senyuman dan pesona. Berdandan dengan maksud supaya terlihat cantik dan menarik. Ditambah suara yang dibuat serenyah mungkin dan gesture yang
sok manis. Justru ketika dirinya berada di tempat bertemunya ia dengan para ikhwan, seperti di kampus, pameran buku, atau selainnya. Lengkap sudah menjadi sumber fitnah. Naudzubillah!
Untuk bisa selamat dari fitnah kecantikan, kita harus jelas memaknai potensi kecantikan yang kita miliki agar kecantikan tersebut justru membawa pahala dan barakah untuk kita. Bukannya menjadi peluang fitnah dan maksiat, balk bagi diri kita maupun orang lain.
Cantik Barakah vs Penuh Fitnah
Kecantikan yang barakah adalah kecantikan lahiriah seseorang yang mensyukuri bahwa hal itu adalah karunia Allah. Takpatut rasanya jika ia merasa bangga dan sombong atas kecantikannya. Ia juga menjaga kecantikan itu dari dua hal. Pertama, menjaganya dari perkaraperkara yang diharamkan Allah dan tetap menjaga kesucian diri dan kehormatannya. Kedua, menjaga dan merawat kecantikan yang dimilikinya. Selain itu, ia tidak memamerkannya kepadaorang-orangyang tidak berhak menikmati kecantikannya, juga tidak melakukan tabarruj atas wajah cantiknya.
Ia julurkan di, atas kecantikannya pakaian ketakwaan yang merupakan
sebaik-baik pakaian dan menutup auratnya. Ia hiasi paras ayu nya dengan hiasan kesalehan yang merupakan sebaikbaik perhiasan. Ia kendalikan hawa nafsunya untuk tidak melanggar perintah dan mengerjakan larangan, terutama yang berkaitan dengan kecantikan miliknya. Orang-orang cantik inilah yang akan selamat dari ujian kesabaran atas karunia kecantikan. Bersabar untuk tidak bermaksiat dan tetap taat. Bersabar supaya tidak mengikuti dorongan nafsu untuk mengeksploitasi kecantikannya. Sabar dan syukur, itulah sifat yang dimiliki oleh pemilik kecantikan yang barakah. lnilah kecantikan yang mendatangkan kecintaan Allah ataspemiliknya.
Berlawanan dengan itu, kecantikan penuh fitnah adalah kecantikan yang merugikan
sipemilik dan mengundang kemuraan Allah atasnya.
Yaitu kecantikan yang digunakan sebagai sarana untuk bermakslat kepada Allah.Kecantikan yang mana pemiliknya 'diperkosa' oleh nafsunya supaya mau memamerkan kecantikannya, menyombongkannya dan menonjolkannya. Bahkan ia merasa bangga jika dapat memuaskan penglihatan lawanjenis (yang tidak berhak) atas kecantikan miliknya.
Dengan kecantikan yang ia miliki, ia justru terseret jauh dari keridhaan Allah. Karena ia telah menyia-nyiakan karunia kecantikan yang diberikanoleh-Nya. Bukannya menjaga keindahan dirinya dari fitnah, ia justru menjadikannya sebagai peluang fitnah. Kecantikan yang seharusnya menjadi potensi ketaatan, malah ia jadikan sebagai modal kemaksiatan. Inilah kecantikan penuh fitnah, yang sia-sia dan dibencioleh Allah. Walaupun kecantikannya tiada tara, namun tak ada artinya (di sisi Allah).
Suami yang Paling Berhak Menikmati
Kecantikan yang mendatangkan pahala adalah yang tepat penikmatnya. Suami adalah situ-satunya penikmat
kecantikan kita yang paling tepat. Karena itulah, berhias dan tampil cantik harusnya ditujukan khusus untuk suami kita.
Meski sering kali kita temui, banyak yang begitu rebut dan ribet dalam memperhatikan penampilan ketika akan keluar rumah. Berbagai persiapan akan dilakukan untuk sebisa mungkin tampil cantik dan mengundang perhatian publik.
Padahal ketika berada di rumah, mereka cuek dan acuh terhadap dandanan mereka, meski di hadapan suami tercinta. Cukup tampil apaadanya, kusut, semrawut dan berantakan, plus daster yang sudah using dan perludi tambal. Bukanlah hal yang mengherankan jika suami akhirnya lebih memilih untuk mencari "pemandangan" di luar yang lebih indah dan menarik.
Oleh karena itu, bagi akhawat yang telah menikah, suami mendapat prioritas penting sebagai tujuan utama berhias. Berdandan untuk suami bernilai ibadah. Seorang istri yang sadar akan kewajibannya, akan berupaya maksimal untuk dapat menarik perhatian suami dengan mengerahkan setiap potensi keindahan dan kecantikannya. Sehingga, ia bias tampil untuk menjadi penyejuk mata, penyenang jiwa dan penentram hati bagi suami. Pun ia sanggup, menjaga pandangan suami dan kemaluannya, hingga tak ada. kata berpaling kecuali hanya pada istrinya.
Dan jika belum menikah, jaga dan rawat kecantikan tersebut hingga pada saat yang tepat nanti, kita bisa menampilkannya dengan baik.Jangan biarkan laki-laki lain sedikit pun men ikmatinya. Karena tak ada hak secuil pun baginya. Kecantikan kita adalah sesuatu yang spesial. Hanya orang spesial yang bisa mendapatkannya. Dialah suami kita nantinya.
Berhias pun dapat berpahala, jika kita meniatkannya karena Allah dan tepat dalam menempatkannya. Semoga barakahlah yang kita raih atas kecantikan kita. - See more at: http://nurisfm.blogspot.com/2012/04/fitnah-kecantikan.html#sthash.n7I10KZN.dpuf
Terlepas dari pendapat mana yang kita pilih antara sufur (membuka wajah) atau menutupnya dengan niqab (cadar), yang harus diperhatikan adalah penjagaan fitnah yang harus dilakukan. Karena, hari ini banyak kita temui kurangnya ihtimam terhadap penjagaan tersebut.
Banyak kita temui di jejaring sosial, para akhawat memasang profilepicture alias foto dirinya baik yang bercadar atau pun tidak. Ada yang rame-rame bersama akhawat lain, ada juga yang sendirian. Termasuk, ada pula yang memasang foto closeup-nya lengkap dengan cadarnya. Padahal tidak jelas apa tujuannya dan kepentingannya.
Pun demikian dengan akhawatyang membuka wajahnya. Dengan pede-nya ia tebar senyuman dan pesona. Berdandan dengan maksud supaya terlihat cantik dan menarik. Ditambah suara yang dibuat serenyah mungkin dan gesture yang
sok manis. Justru ketika dirinya berada di tempat bertemunya ia dengan para ikhwan, seperti di kampus, pameran buku, atau selainnya. Lengkap sudah menjadi sumber fitnah. Naudzubillah!
Untuk bisa selamat dari fitnah kecantikan, kita harus jelas memaknai potensi kecantikan yang kita miliki agar kecantikan tersebut justru membawa pahala dan barakah untuk kita. Bukannya menjadi peluang fitnah dan maksiat, balk bagi diri kita maupun orang lain.
Cantik Barakah vs Penuh Fitnah
Kecantikan yang barakah adalah kecantikan lahiriah seseorang yang mensyukuri bahwa hal itu adalah karunia Allah. Takpatut rasanya jika ia merasa bangga dan sombong atas kecantikannya. Ia juga menjaga kecantikan itu dari dua hal. Pertama, menjaganya dari perkaraperkara yang diharamkan Allah dan tetap menjaga kesucian diri dan kehormatannya. Kedua, menjaga dan merawat kecantikan yang dimilikinya. Selain itu, ia tidak memamerkannya kepadaorang-orangyang tidak berhak menikmati kecantikannya, juga tidak melakukan tabarruj atas wajah cantiknya.
Ia julurkan di, atas kecantikannya pakaian ketakwaan yang merupakan
sebaik-baik pakaian dan menutup auratnya. Ia hiasi paras ayu nya dengan hiasan kesalehan yang merupakan sebaikbaik perhiasan. Ia kendalikan hawa nafsunya untuk tidak melanggar perintah dan mengerjakan larangan, terutama yang berkaitan dengan kecantikan miliknya. Orang-orang cantik inilah yang akan selamat dari ujian kesabaran atas karunia kecantikan. Bersabar untuk tidak bermaksiat dan tetap taat. Bersabar supaya tidak mengikuti dorongan nafsu untuk mengeksploitasi kecantikannya. Sabar dan syukur, itulah sifat yang dimiliki oleh pemilik kecantikan yang barakah. lnilah kecantikan yang mendatangkan kecintaan Allah ataspemiliknya.
Berlawanan dengan itu, kecantikan penuh fitnah adalah kecantikan yang merugikan
sipemilik dan mengundang kemuraan Allah atasnya.
Yaitu kecantikan yang digunakan sebagai sarana untuk bermakslat kepada Allah.Kecantikan yang mana pemiliknya 'diperkosa' oleh nafsunya supaya mau memamerkan kecantikannya, menyombongkannya dan menonjolkannya. Bahkan ia merasa bangga jika dapat memuaskan penglihatan lawanjenis (yang tidak berhak) atas kecantikan miliknya.
Dengan kecantikan yang ia miliki, ia justru terseret jauh dari keridhaan Allah. Karena ia telah menyia-nyiakan karunia kecantikan yang diberikanoleh-Nya. Bukannya menjaga keindahan dirinya dari fitnah, ia justru menjadikannya sebagai peluang fitnah. Kecantikan yang seharusnya menjadi potensi ketaatan, malah ia jadikan sebagai modal kemaksiatan. Inilah kecantikan penuh fitnah, yang sia-sia dan dibencioleh Allah. Walaupun kecantikannya tiada tara, namun tak ada artinya (di sisi Allah).
Suami yang Paling Berhak Menikmati
Kecantikan yang mendatangkan pahala adalah yang tepat penikmatnya. Suami adalah situ-satunya penikmat
kecantikan kita yang paling tepat. Karena itulah, berhias dan tampil cantik harusnya ditujukan khusus untuk suami kita.
Meski sering kali kita temui, banyak yang begitu rebut dan ribet dalam memperhatikan penampilan ketika akan keluar rumah. Berbagai persiapan akan dilakukan untuk sebisa mungkin tampil cantik dan mengundang perhatian publik.
Padahal ketika berada di rumah, mereka cuek dan acuh terhadap dandanan mereka, meski di hadapan suami tercinta. Cukup tampil apaadanya, kusut, semrawut dan berantakan, plus daster yang sudah using dan perludi tambal. Bukanlah hal yang mengherankan jika suami akhirnya lebih memilih untuk mencari "pemandangan" di luar yang lebih indah dan menarik.
Oleh karena itu, bagi akhawat yang telah menikah, suami mendapat prioritas penting sebagai tujuan utama berhias. Berdandan untuk suami bernilai ibadah. Seorang istri yang sadar akan kewajibannya, akan berupaya maksimal untuk dapat menarik perhatian suami dengan mengerahkan setiap potensi keindahan dan kecantikannya. Sehingga, ia bias tampil untuk menjadi penyejuk mata, penyenang jiwa dan penentram hati bagi suami. Pun ia sanggup, menjaga pandangan suami dan kemaluannya, hingga tak ada. kata berpaling kecuali hanya pada istrinya.
Dan jika belum menikah, jaga dan rawat kecantikan tersebut hingga pada saat yang tepat nanti, kita bisa menampilkannya dengan baik.Jangan biarkan laki-laki lain sedikit pun men ikmatinya. Karena tak ada hak secuil pun baginya. Kecantikan kita adalah sesuatu yang spesial. Hanya orang spesial yang bisa mendapatkannya. Dialah suami kita nantinya.
Berhias pun dapat berpahala, jika kita meniatkannya karena Allah dan tepat dalam menempatkannya. Semoga barakahlah yang kita raih atas kecantikan kita. - See more at: http://nurisfm.blogspot.com/2012/04/fitnah-kecantikan.html#sthash.n7I10KZN.dpuf
Wanita
memang menjadi sumber fitnah terbesar bagi para laki-laki sebagaimana
sabda Nabi SAW. Seraut wajah seorang wanita, bisa saja membuat seorang
lelaki terbayang-bayang dan mabuk kepayang. Oleh karena itu, ada
sebagian utama yang mewajibkan menutup wajah karena besarnya peluang
fitnah yang bisa ditimbulkan.
Terlepas dari pendapat mana yang kita pilih antara sufur (membuka wajah) atau menutupnya dengan niqab (cadar), yang harus diperhatikan adalah penjagaan fitnah yang harus dilakukan. Karena, hari ini banyak kita temui kurangnya ihtimam terhadap penjagaan tersebut.
Banyak kita temui di jejaring sosial, para akhawat memasang profilepicture alias foto dirinya baik yang bercadar atau pun tidak. Ada yang rame-rame bersama akhawat lain, ada juga yang sendirian. Termasuk, ada pula yang memasang foto closeup-nya lengkap dengan cadarnya. Padahal tidak jelas apa tujuannya dan kepentingannya.
Pun demikian dengan akhawatyang membuka wajahnya. Dengan pede-nya ia tebar senyuman dan pesona. Berdandan dengan maksud supaya terlihat cantik dan menarik. Ditambah suara yang dibuat serenyah mungkin dan gesture yang
sok manis. Justru ketika dirinya berada di tempat bertemunya ia dengan para ikhwan, seperti di kampus, pameran buku, atau selainnya. Lengkap sudah menjadi sumber fitnah. Naudzubillah!
Untuk bisa selamat dari fitnah kecantikan, kita harus jelas memaknai potensi kecantikan yang kita miliki agar kecantikan tersebut justru membawa pahala dan barakah untuk kita. Bukannya menjadi peluang fitnah dan maksiat, balk bagi diri kita maupun orang lain.
Cantik Barakah vs Penuh Fitnah
Kecantikan yang barakah adalah kecantikan lahiriah seseorang yang mensyukuri bahwa hal itu adalah karunia Allah. Takpatut rasanya jika ia merasa bangga dan sombong atas kecantikannya. Ia juga menjaga kecantikan itu dari dua hal. Pertama, menjaganya dari perkaraperkara yang diharamkan Allah dan tetap menjaga kesucian diri dan kehormatannya. Kedua, menjaga dan merawat kecantikan yang dimilikinya. Selain itu, ia tidak memamerkannya kepadaorang-orangyang tidak berhak menikmati kecantikannya, juga tidak melakukan tabarruj atas wajah cantiknya.
Ia julurkan di, atas kecantikannya pakaian ketakwaan yang merupakan
sebaik-baik pakaian dan menutup auratnya. Ia hiasi paras ayu nya dengan hiasan kesalehan yang merupakan sebaikbaik perhiasan. Ia kendalikan hawa nafsunya untuk tidak melanggar perintah dan mengerjakan larangan, terutama yang berkaitan dengan kecantikan miliknya. Orang-orang cantik inilah yang akan selamat dari ujian kesabaran atas karunia kecantikan. Bersabar untuk tidak bermaksiat dan tetap taat. Bersabar supaya tidak mengikuti dorongan nafsu untuk mengeksploitasi kecantikannya. Sabar dan syukur, itulah sifat yang dimiliki oleh pemilik kecantikan yang barakah. lnilah kecantikan yang mendatangkan kecintaan Allah ataspemiliknya.
Berlawanan dengan itu, kecantikan penuh fitnah adalah kecantikan yang merugikan
sipemilik dan mengundang kemuraan Allah atasnya.
Yaitu kecantikan yang digunakan sebagai sarana untuk bermakslat kepada Allah.Kecantikan yang mana pemiliknya 'diperkosa' oleh nafsunya supaya mau memamerkan kecantikannya, menyombongkannya dan menonjolkannya. Bahkan ia merasa bangga jika dapat memuaskan penglihatan lawanjenis (yang tidak berhak) atas kecantikan miliknya.
Dengan kecantikan yang ia miliki, ia justru terseret jauh dari keridhaan Allah. Karena ia telah menyia-nyiakan karunia kecantikan yang diberikanoleh-Nya. Bukannya menjaga keindahan dirinya dari fitnah, ia justru menjadikannya sebagai peluang fitnah. Kecantikan yang seharusnya menjadi potensi ketaatan, malah ia jadikan sebagai modal kemaksiatan. Inilah kecantikan penuh fitnah, yang sia-sia dan dibencioleh Allah. Walaupun kecantikannya tiada tara, namun tak ada artinya (di sisi Allah).
Suami yang Paling Berhak Menikmati
Kecantikan yang mendatangkan pahala adalah yang tepat penikmatnya. Suami adalah situ-satunya penikmat
kecantikan kita yang paling tepat. Karena itulah, berhias dan tampil cantik harusnya ditujukan khusus untuk suami kita.
Meski sering kali kita temui, banyak yang begitu rebut dan ribet dalam memperhatikan penampilan ketika akan keluar rumah. Berbagai persiapan akan dilakukan untuk sebisa mungkin tampil cantik dan mengundang perhatian publik.
Padahal ketika berada di rumah, mereka cuek dan acuh terhadap dandanan mereka, meski di hadapan suami tercinta. Cukup tampil apaadanya, kusut, semrawut dan berantakan, plus daster yang sudah using dan perludi tambal. Bukanlah hal yang mengherankan jika suami akhirnya lebih memilih untuk mencari "pemandangan" di luar yang lebih indah dan menarik.
Oleh karena itu, bagi akhawat yang telah menikah, suami mendapat prioritas penting sebagai tujuan utama berhias. Berdandan untuk suami bernilai ibadah. Seorang istri yang sadar akan kewajibannya, akan berupaya maksimal untuk dapat menarik perhatian suami dengan mengerahkan setiap potensi keindahan dan kecantikannya. Sehingga, ia bias tampil untuk menjadi penyejuk mata, penyenang jiwa dan penentram hati bagi suami. Pun ia sanggup, menjaga pandangan suami dan kemaluannya, hingga tak ada. kata berpaling kecuali hanya pada istrinya.
Dan jika belum menikah, jaga dan rawat kecantikan tersebut hingga pada saat yang tepat nanti, kita bisa menampilkannya dengan baik.Jangan biarkan laki-laki lain sedikit pun men ikmatinya. Karena tak ada hak secuil pun baginya. Kecantikan kita adalah sesuatu yang spesial. Hanya orang spesial yang bisa mendapatkannya. Dialah suami kita nantinya.
Berhias pun dapat berpahala, jika kita meniatkannya karena Allah dan tepat dalam menempatkannya. Semoga barakahlah yang kita raih atas kecantikan kita. - See more at: http://nurisfm.blogspot.com/2012/04/fitnah-kecantikan.html#sthash.n7I10KZN.dpuf
Terlepas dari pendapat mana yang kita pilih antara sufur (membuka wajah) atau menutupnya dengan niqab (cadar), yang harus diperhatikan adalah penjagaan fitnah yang harus dilakukan. Karena, hari ini banyak kita temui kurangnya ihtimam terhadap penjagaan tersebut.
Banyak kita temui di jejaring sosial, para akhawat memasang profilepicture alias foto dirinya baik yang bercadar atau pun tidak. Ada yang rame-rame bersama akhawat lain, ada juga yang sendirian. Termasuk, ada pula yang memasang foto closeup-nya lengkap dengan cadarnya. Padahal tidak jelas apa tujuannya dan kepentingannya.
Pun demikian dengan akhawatyang membuka wajahnya. Dengan pede-nya ia tebar senyuman dan pesona. Berdandan dengan maksud supaya terlihat cantik dan menarik. Ditambah suara yang dibuat serenyah mungkin dan gesture yang
sok manis. Justru ketika dirinya berada di tempat bertemunya ia dengan para ikhwan, seperti di kampus, pameran buku, atau selainnya. Lengkap sudah menjadi sumber fitnah. Naudzubillah!
Untuk bisa selamat dari fitnah kecantikan, kita harus jelas memaknai potensi kecantikan yang kita miliki agar kecantikan tersebut justru membawa pahala dan barakah untuk kita. Bukannya menjadi peluang fitnah dan maksiat, balk bagi diri kita maupun orang lain.
Cantik Barakah vs Penuh Fitnah
Kecantikan yang barakah adalah kecantikan lahiriah seseorang yang mensyukuri bahwa hal itu adalah karunia Allah. Takpatut rasanya jika ia merasa bangga dan sombong atas kecantikannya. Ia juga menjaga kecantikan itu dari dua hal. Pertama, menjaganya dari perkaraperkara yang diharamkan Allah dan tetap menjaga kesucian diri dan kehormatannya. Kedua, menjaga dan merawat kecantikan yang dimilikinya. Selain itu, ia tidak memamerkannya kepadaorang-orangyang tidak berhak menikmati kecantikannya, juga tidak melakukan tabarruj atas wajah cantiknya.
Ia julurkan di, atas kecantikannya pakaian ketakwaan yang merupakan
sebaik-baik pakaian dan menutup auratnya. Ia hiasi paras ayu nya dengan hiasan kesalehan yang merupakan sebaikbaik perhiasan. Ia kendalikan hawa nafsunya untuk tidak melanggar perintah dan mengerjakan larangan, terutama yang berkaitan dengan kecantikan miliknya. Orang-orang cantik inilah yang akan selamat dari ujian kesabaran atas karunia kecantikan. Bersabar untuk tidak bermaksiat dan tetap taat. Bersabar supaya tidak mengikuti dorongan nafsu untuk mengeksploitasi kecantikannya. Sabar dan syukur, itulah sifat yang dimiliki oleh pemilik kecantikan yang barakah. lnilah kecantikan yang mendatangkan kecintaan Allah ataspemiliknya.
Berlawanan dengan itu, kecantikan penuh fitnah adalah kecantikan yang merugikan
sipemilik dan mengundang kemuraan Allah atasnya.
Yaitu kecantikan yang digunakan sebagai sarana untuk bermakslat kepada Allah.Kecantikan yang mana pemiliknya 'diperkosa' oleh nafsunya supaya mau memamerkan kecantikannya, menyombongkannya dan menonjolkannya. Bahkan ia merasa bangga jika dapat memuaskan penglihatan lawanjenis (yang tidak berhak) atas kecantikan miliknya.
Dengan kecantikan yang ia miliki, ia justru terseret jauh dari keridhaan Allah. Karena ia telah menyia-nyiakan karunia kecantikan yang diberikanoleh-Nya. Bukannya menjaga keindahan dirinya dari fitnah, ia justru menjadikannya sebagai peluang fitnah. Kecantikan yang seharusnya menjadi potensi ketaatan, malah ia jadikan sebagai modal kemaksiatan. Inilah kecantikan penuh fitnah, yang sia-sia dan dibencioleh Allah. Walaupun kecantikannya tiada tara, namun tak ada artinya (di sisi Allah).
Suami yang Paling Berhak Menikmati
Kecantikan yang mendatangkan pahala adalah yang tepat penikmatnya. Suami adalah situ-satunya penikmat
kecantikan kita yang paling tepat. Karena itulah, berhias dan tampil cantik harusnya ditujukan khusus untuk suami kita.
Meski sering kali kita temui, banyak yang begitu rebut dan ribet dalam memperhatikan penampilan ketika akan keluar rumah. Berbagai persiapan akan dilakukan untuk sebisa mungkin tampil cantik dan mengundang perhatian publik.
Padahal ketika berada di rumah, mereka cuek dan acuh terhadap dandanan mereka, meski di hadapan suami tercinta. Cukup tampil apaadanya, kusut, semrawut dan berantakan, plus daster yang sudah using dan perludi tambal. Bukanlah hal yang mengherankan jika suami akhirnya lebih memilih untuk mencari "pemandangan" di luar yang lebih indah dan menarik.
Oleh karena itu, bagi akhawat yang telah menikah, suami mendapat prioritas penting sebagai tujuan utama berhias. Berdandan untuk suami bernilai ibadah. Seorang istri yang sadar akan kewajibannya, akan berupaya maksimal untuk dapat menarik perhatian suami dengan mengerahkan setiap potensi keindahan dan kecantikannya. Sehingga, ia bias tampil untuk menjadi penyejuk mata, penyenang jiwa dan penentram hati bagi suami. Pun ia sanggup, menjaga pandangan suami dan kemaluannya, hingga tak ada. kata berpaling kecuali hanya pada istrinya.
Dan jika belum menikah, jaga dan rawat kecantikan tersebut hingga pada saat yang tepat nanti, kita bisa menampilkannya dengan baik.Jangan biarkan laki-laki lain sedikit pun men ikmatinya. Karena tak ada hak secuil pun baginya. Kecantikan kita adalah sesuatu yang spesial. Hanya orang spesial yang bisa mendapatkannya. Dialah suami kita nantinya.
Berhias pun dapat berpahala, jika kita meniatkannya karena Allah dan tepat dalam menempatkannya. Semoga barakahlah yang kita raih atas kecantikan kita. - See more at: http://nurisfm.blogspot.com/2012/04/fitnah-kecantikan.html#sthash.n7I10KZN.dpuf
Wanita
memang menjadi sumber fitnah terbesar bagi para laki-laki sebagaimana
sabda Nabi SAW. Seraut wajah seorang wanita, bisa saja membuat seorang
lelaki terbayang-bayang dan mabuk kepayang. Oleh karena itu, ada
sebagian utama yang mewajibkan menutup wajah karena besarnya peluang
fitnah yang bisa ditimbulkan.
Terlepas dari pendapat mana yang kita pilih antara sufur (membuka wajah) atau menutupnya dengan niqab (cadar), yang harus diperhatikan adalah penjagaan fitnah yang harus dilakukan. Karena, hari ini banyak kita temui kurangnya ihtimam terhadap penjagaan tersebut.
Banyak kita temui di jejaring sosial, para akhawat memasang profilepicture alias foto dirinya baik yang bercadar atau pun tidak. Ada yang rame-rame bersama akhawat lain, ada juga yang sendirian. Termasuk, ada pula yang memasang foto closeup-nya lengkap dengan cadarnya. Padahal tidak jelas apa tujuannya dan kepentingannya.
Pun demikian dengan akhawatyang membuka wajahnya. Dengan pede-nya ia tebar senyuman dan pesona. Berdandan dengan maksud supaya terlihat cantik dan menarik. Ditambah suara yang dibuat serenyah mungkin dan gesture yang
sok manis. Justru ketika dirinya berada di tempat bertemunya ia dengan para ikhwan, seperti di kampus, pameran buku, atau selainnya. Lengkap sudah menjadi sumber fitnah. Naudzubillah!
Untuk bisa selamat dari fitnah kecantikan, kita harus jelas memaknai potensi kecantikan yang kita miliki agar kecantikan tersebut justru membawa pahala dan barakah untuk kita. Bukannya menjadi peluang fitnah dan maksiat, balk bagi diri kita maupun orang lain.
Cantik Barakah vs Penuh Fitnah
Kecantikan yang barakah adalah kecantikan lahiriah seseorang yang mensyukuri bahwa hal itu adalah karunia Allah. Takpatut rasanya jika ia merasa bangga dan sombong atas kecantikannya. Ia juga menjaga kecantikan itu dari dua hal. Pertama, menjaganya dari perkaraperkara yang diharamkan Allah dan tetap menjaga kesucian diri dan kehormatannya. Kedua, menjaga dan merawat kecantikan yang dimilikinya. Selain itu, ia tidak memamerkannya kepadaorang-orangyang tidak berhak menikmati kecantikannya, juga tidak melakukan tabarruj atas wajah cantiknya.
Ia julurkan di, atas kecantikannya pakaian ketakwaan yang merupakan
sebaik-baik pakaian dan menutup auratnya. Ia hiasi paras ayu nya dengan hiasan kesalehan yang merupakan sebaikbaik perhiasan. Ia kendalikan hawa nafsunya untuk tidak melanggar perintah dan mengerjakan larangan, terutama yang berkaitan dengan kecantikan miliknya. Orang-orang cantik inilah yang akan selamat dari ujian kesabaran atas karunia kecantikan. Bersabar untuk tidak bermaksiat dan tetap taat. Bersabar supaya tidak mengikuti dorongan nafsu untuk mengeksploitasi kecantikannya. Sabar dan syukur, itulah sifat yang dimiliki oleh pemilik kecantikan yang barakah. lnilah kecantikan yang mendatangkan kecintaan Allah ataspemiliknya.
Berlawanan dengan itu, kecantikan penuh fitnah adalah kecantikan yang merugikan
sipemilik dan mengundang kemuraan Allah atasnya.
Yaitu kecantikan yang digunakan sebagai sarana untuk bermakslat kepada Allah.Kecantikan yang mana pemiliknya 'diperkosa' oleh nafsunya supaya mau memamerkan kecantikannya, menyombongkannya dan menonjolkannya. Bahkan ia merasa bangga jika dapat memuaskan penglihatan lawanjenis (yang tidak berhak) atas kecantikan miliknya.
Dengan kecantikan yang ia miliki, ia justru terseret jauh dari keridhaan Allah. Karena ia telah menyia-nyiakan karunia kecantikan yang diberikanoleh-Nya. Bukannya menjaga keindahan dirinya dari fitnah, ia justru menjadikannya sebagai peluang fitnah. Kecantikan yang seharusnya menjadi potensi ketaatan, malah ia jadikan sebagai modal kemaksiatan. Inilah kecantikan penuh fitnah, yang sia-sia dan dibencioleh Allah. Walaupun kecantikannya tiada tara, namun tak ada artinya (di sisi Allah).
Suami yang Paling Berhak Menikmati
Kecantikan yang mendatangkan pahala adalah yang tepat penikmatnya. Suami adalah situ-satunya penikmat
kecantikan kita yang paling tepat. Karena itulah, berhias dan tampil cantik harusnya ditujukan khusus untuk suami kita.
Meski sering kali kita temui, banyak yang begitu rebut dan ribet dalam memperhatikan penampilan ketika akan keluar rumah. Berbagai persiapan akan dilakukan untuk sebisa mungkin tampil cantik dan mengundang perhatian publik.
Padahal ketika berada di rumah, mereka cuek dan acuh terhadap dandanan mereka, meski di hadapan suami tercinta. Cukup tampil apaadanya, kusut, semrawut dan berantakan, plus daster yang sudah using dan perludi tambal. Bukanlah hal yang mengherankan jika suami akhirnya lebih memilih untuk mencari "pemandangan" di luar yang lebih indah dan menarik.
Oleh karena itu, bagi akhawat yang telah menikah, suami mendapat prioritas penting sebagai tujuan utama berhias. Berdandan untuk suami bernilai ibadah. Seorang istri yang sadar akan kewajibannya, akan berupaya maksimal untuk dapat menarik perhatian suami dengan mengerahkan setiap potensi keindahan dan kecantikannya. Sehingga, ia bias tampil untuk menjadi penyejuk mata, penyenang jiwa dan penentram hati bagi suami. Pun ia sanggup, menjaga pandangan suami dan kemaluannya, hingga tak ada. kata berpaling kecuali hanya pada istrinya.
Dan jika belum menikah, jaga dan rawat kecantikan tersebut hingga pada saat yang tepat nanti, kita bisa menampilkannya dengan baik.Jangan biarkan laki-laki lain sedikit pun men ikmatinya. Karena tak ada hak secuil pun baginya. Kecantikan kita adalah sesuatu yang spesial. Hanya orang spesial yang bisa mendapatkannya. Dialah suami kita nantinya.
Berhias pun dapat berpahala, jika kita meniatkannya karena Allah dan tepat dalam menempatkannya. Semoga barakahlah yang kita raih atas kecantikan kita. - See more at: http://nurisfm.blogspot.com/2012/04/fitnah-kecantikan.html#sthash.n7I10KZN.dpuf
Terlepas dari pendapat mana yang kita pilih antara sufur (membuka wajah) atau menutupnya dengan niqab (cadar), yang harus diperhatikan adalah penjagaan fitnah yang harus dilakukan. Karena, hari ini banyak kita temui kurangnya ihtimam terhadap penjagaan tersebut.
Banyak kita temui di jejaring sosial, para akhawat memasang profilepicture alias foto dirinya baik yang bercadar atau pun tidak. Ada yang rame-rame bersama akhawat lain, ada juga yang sendirian. Termasuk, ada pula yang memasang foto closeup-nya lengkap dengan cadarnya. Padahal tidak jelas apa tujuannya dan kepentingannya.
Pun demikian dengan akhawatyang membuka wajahnya. Dengan pede-nya ia tebar senyuman dan pesona. Berdandan dengan maksud supaya terlihat cantik dan menarik. Ditambah suara yang dibuat serenyah mungkin dan gesture yang
sok manis. Justru ketika dirinya berada di tempat bertemunya ia dengan para ikhwan, seperti di kampus, pameran buku, atau selainnya. Lengkap sudah menjadi sumber fitnah. Naudzubillah!
Untuk bisa selamat dari fitnah kecantikan, kita harus jelas memaknai potensi kecantikan yang kita miliki agar kecantikan tersebut justru membawa pahala dan barakah untuk kita. Bukannya menjadi peluang fitnah dan maksiat, balk bagi diri kita maupun orang lain.
Cantik Barakah vs Penuh Fitnah
Kecantikan yang barakah adalah kecantikan lahiriah seseorang yang mensyukuri bahwa hal itu adalah karunia Allah. Takpatut rasanya jika ia merasa bangga dan sombong atas kecantikannya. Ia juga menjaga kecantikan itu dari dua hal. Pertama, menjaganya dari perkaraperkara yang diharamkan Allah dan tetap menjaga kesucian diri dan kehormatannya. Kedua, menjaga dan merawat kecantikan yang dimilikinya. Selain itu, ia tidak memamerkannya kepadaorang-orangyang tidak berhak menikmati kecantikannya, juga tidak melakukan tabarruj atas wajah cantiknya.
Ia julurkan di, atas kecantikannya pakaian ketakwaan yang merupakan
sebaik-baik pakaian dan menutup auratnya. Ia hiasi paras ayu nya dengan hiasan kesalehan yang merupakan sebaikbaik perhiasan. Ia kendalikan hawa nafsunya untuk tidak melanggar perintah dan mengerjakan larangan, terutama yang berkaitan dengan kecantikan miliknya. Orang-orang cantik inilah yang akan selamat dari ujian kesabaran atas karunia kecantikan. Bersabar untuk tidak bermaksiat dan tetap taat. Bersabar supaya tidak mengikuti dorongan nafsu untuk mengeksploitasi kecantikannya. Sabar dan syukur, itulah sifat yang dimiliki oleh pemilik kecantikan yang barakah. lnilah kecantikan yang mendatangkan kecintaan Allah ataspemiliknya.
Berlawanan dengan itu, kecantikan penuh fitnah adalah kecantikan yang merugikan
sipemilik dan mengundang kemuraan Allah atasnya.
Yaitu kecantikan yang digunakan sebagai sarana untuk bermakslat kepada Allah.Kecantikan yang mana pemiliknya 'diperkosa' oleh nafsunya supaya mau memamerkan kecantikannya, menyombongkannya dan menonjolkannya. Bahkan ia merasa bangga jika dapat memuaskan penglihatan lawanjenis (yang tidak berhak) atas kecantikan miliknya.
Dengan kecantikan yang ia miliki, ia justru terseret jauh dari keridhaan Allah. Karena ia telah menyia-nyiakan karunia kecantikan yang diberikanoleh-Nya. Bukannya menjaga keindahan dirinya dari fitnah, ia justru menjadikannya sebagai peluang fitnah. Kecantikan yang seharusnya menjadi potensi ketaatan, malah ia jadikan sebagai modal kemaksiatan. Inilah kecantikan penuh fitnah, yang sia-sia dan dibencioleh Allah. Walaupun kecantikannya tiada tara, namun tak ada artinya (di sisi Allah).
Suami yang Paling Berhak Menikmati
Kecantikan yang mendatangkan pahala adalah yang tepat penikmatnya. Suami adalah situ-satunya penikmat
kecantikan kita yang paling tepat. Karena itulah, berhias dan tampil cantik harusnya ditujukan khusus untuk suami kita.
Meski sering kali kita temui, banyak yang begitu rebut dan ribet dalam memperhatikan penampilan ketika akan keluar rumah. Berbagai persiapan akan dilakukan untuk sebisa mungkin tampil cantik dan mengundang perhatian publik.
Padahal ketika berada di rumah, mereka cuek dan acuh terhadap dandanan mereka, meski di hadapan suami tercinta. Cukup tampil apaadanya, kusut, semrawut dan berantakan, plus daster yang sudah using dan perludi tambal. Bukanlah hal yang mengherankan jika suami akhirnya lebih memilih untuk mencari "pemandangan" di luar yang lebih indah dan menarik.
Oleh karena itu, bagi akhawat yang telah menikah, suami mendapat prioritas penting sebagai tujuan utama berhias. Berdandan untuk suami bernilai ibadah. Seorang istri yang sadar akan kewajibannya, akan berupaya maksimal untuk dapat menarik perhatian suami dengan mengerahkan setiap potensi keindahan dan kecantikannya. Sehingga, ia bias tampil untuk menjadi penyejuk mata, penyenang jiwa dan penentram hati bagi suami. Pun ia sanggup, menjaga pandangan suami dan kemaluannya, hingga tak ada. kata berpaling kecuali hanya pada istrinya.
Dan jika belum menikah, jaga dan rawat kecantikan tersebut hingga pada saat yang tepat nanti, kita bisa menampilkannya dengan baik.Jangan biarkan laki-laki lain sedikit pun men ikmatinya. Karena tak ada hak secuil pun baginya. Kecantikan kita adalah sesuatu yang spesial. Hanya orang spesial yang bisa mendapatkannya. Dialah suami kita nantinya.
Berhias pun dapat berpahala, jika kita meniatkannya karena Allah dan tepat dalam menempatkannya. Semoga barakahlah yang kita raih atas kecantikan kita. - See more at: http://nurisfm.blogspot.com/2012/04/fitnah-kecantikan.html#sthash.n7I10KZN.dpuf
Sang Pemuja Kecantikan Wanita
Sudah menjadi lumrah kehidupan di dunia
Cabaran dan dugaan mendewasakan usia
Rintangan dilalui tambah pengalaman diri
Sudah sunnah ketetapan ilahi
Deras arus dunia menghanyutkan yang terleka
Indah fatamorgana melalaikan menipu daya
Dikejar dicintai bak bayangan tak bertepi
Tiada sudahnya dunia yang dicari
Begitu indah dunia siapa pun tergoda
Harta pangkat dan wanita melemahkan jiwa
Tanpa iman dalam hati kita kan dikuasai
Syaitan nafsu dalam diri musuh yang tersembunyi
Pulanglah kepada tuhan
Cahaya kehidupan
Keimanan ketaqwaan kepadanya
Senjata utama
Sabar menempuh jalan tetapkan iman di hati
Yakinkan janji tuhan syurga yang sedia menanti
Imanlah penyelamat dunia penuh pancaroba
Hidup akhirat kita kekal selamanya #hijjaz
Cabaran dan dugaan mendewasakan usia
Rintangan dilalui tambah pengalaman diri
Sudah sunnah ketetapan ilahi
Deras arus dunia menghanyutkan yang terleka
Indah fatamorgana melalaikan menipu daya
Dikejar dicintai bak bayangan tak bertepi
Tiada sudahnya dunia yang dicari
Begitu indah dunia siapa pun tergoda
Harta pangkat dan wanita melemahkan jiwa
Tanpa iman dalam hati kita kan dikuasai
Syaitan nafsu dalam diri musuh yang tersembunyi
Pulanglah kepada tuhan
Cahaya kehidupan
Keimanan ketaqwaan kepadanya
Senjata utama
Sabar menempuh jalan tetapkan iman di hati
Yakinkan janji tuhan syurga yang sedia menanti
Imanlah penyelamat dunia penuh pancaroba
Hidup akhirat kita kekal selamanya #hijjaz
Sabtu, 10 Januari 2015
Rabu, 03 Desember 2014
Terimakasih Guruku # Evaluasi Bersama
#Guruku Pahlawanku#
Tulisan ini bukan merupakan kesimpulan atas kinerja guru secara umum,
tetapi hanyalah merupakan temuan penulis selama melaksanakan supervisi
kunjungan kelas pada beberapa sekolah yang menjadi binaan penulis
ditambah dengan pengamatan penulis pada saat mengikuti kegiatan lesson
study MGMP Bahasa Inggris beberapa waktu yang lalu. Sengaja diberi judul
demikian karena yang akan dipaparkan adalah kelemahan-kelemahan yang
nyata ditemukan penulis. Hal ini dimaksudkan agar bisa menjadi input
bagi para guru untuk memperbaiki kegiatan pembelajarannya. Dari pengamatan penulis terhadap kegiatan pembelajaran di kelas dapat dikemukakan beberapa kelemahan antara lain :
1. Guru tidak menggunakan RPP sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran
RPP adalah skenario pembelajaran yang dibuat oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam dokumen tersebut tidak hanya berisi kompetensi apa yang akan dicapai tetapi juga memuat secara rinci berapa lama waktu tatap muka dilakukan. Bahkan dirinci pula berapa menit kegiatan awal untuk melaksanakan kegiatan rutin, apersepsi dan penjajagan untuk mengenal bekal awal siswa. Waktu yang digunakan untuk kegiatan inti, dan rincian waktu untuk kegiatan akhir.
Dalam RPP juga tercantum secara jelas alat bantu mengajar apa yang diperlukan dan sumber belajar apa yang digunakan. Demikian pula di dalam RPP juga telah dicantumkan rencana kegiatan penilaian yang merupakan upaya untuk mendapatkan umpan balik keberhasilan guru dalam mengajar.
Kenyataannya RPP tidak difungsikan, bahkan ada guru yang mengajar tanpa bertpedoman pada RPP. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak terarah.
2. Guru tidak mempersiapkan alat bantu mengajar.
Alat bantu mengajar sangat diperlukan untuk membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, sehingga siswa mengetahui secara nyata melalui benda-benda yang nyata. Dengan alat bantu ini pengetahuan tidak hanya berupa verbal, dan bisa mengatasi kesenjangan komunikasi guru dengan siswa.
Kenyataannya guru tidak membawa alat bantu mengajar sehingga yang dilakukan hanyalah ceramah-dan ceramah saja.
3. Guru kurang memperhatikan kemampuan awal siswa.
Pengetahuan ten tang kemampuan awal siswa diperlukan oleh guru untuk menetapkan strategi mengajar, bahkan untuk mengajukan pertanyaanpun diperlukan pemahaman tentang kemampuan awal siswa. Dengan memahami kemampuan awal siswa ini guru dapat membantu siswa memperlancar proses pe,mbelajaran yang dilkukan dan memperkecil peluang kesulitan yang dihadapi siswa. Adakalanya satu materi tertentu memerlukan prasarat pengetahuan sebelumnya. Jika pengetahuan prasyarat ini belum dikuasi dan guru sudah melanjutkan pada materi berikutnya bisa dipastikan bahwa siswa akan kesultan mengikuti pelajaran. Hal ini bisa dideteksi melalui perilaku siswa. Siswa yang tidak dapat mengikuti materi yangs edang dibahas oleh guru cenderung berperilaku "menyimpang" seperti: melamun, menulis atau menggambar yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, berbicara sendiri atau kegiatan-kegiatan lain yang tidak terkait dengan isi pembelajaran.
4. Penggunaan papan tulis yang kurang tepat
pada umumnya guru langsung memulai pelajaran tanpa menuliskan Pokok persoalan yang akan dibahas dan tujuan pembelajarannya. Penulisan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran ini bergna sebagai kontrol bagi guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar tidak keluar dari jalur. Kecenderungan lainnya adalah penggunaan papan tulis yang kaacau. Siswa tidak tahu apa sebenarnya yang dibahas, dan untuk apa hal itu dibahas. Guru terlalu sibuk menulis dan membuat ilustrasi di papan tulis yang kadang-kadang sulit ditangkap siswa dan tidak disimpulkan.
5. Tidak melaksanakan evaluasi
Dengan alasan kekurangan waktu seringkali guru tidak melaksanakan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Evaluasi ini bertguna bagi guru untuk mengetahui seberapa besar keefektifan pembelajaran yang dilakukannya. Dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir kegiatan /bahasan akan bisa mendeteksi siswa mana yang masih kesulitas dan pada bagian apa siswa merasa sulit. Hal ini akan sangat berguna bagi guru dalam membantu siswa
Apabila 5 macam kelemahan guru ini dapat diperbaiki, maka proses pembelajaran akan menjadi lebih bermutu dan muaranya nanti pada hasil belajar yang lebih baik. Perubahan pada kelima kelemahan tersebut tidak memerlukan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran diri untuk memberikan yang terbaik kepada siswa. Kepala sekolah dapat berperan dalam perbaikan proses pembelajaran ini dengan cara lebih sering melaksanakan supervisi kunjungan kelas.
sumber : http://edu-articles.com
Langganan:
Postingan (Atom)








