“Dan hendaklah takut (kepada Allah SWT ) orang-orang yang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.

Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar
(QS. An-Nisa’ : 9)

Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia pulang

(HR. Tirmidzi)

AJF

AJF
"DALAM KEBERSAMAAN KITA ADA KEMUDAHAN. . . DALAM KEMUDAHAN ADA KEBERHASILAN & DALAM KEBERHASILAN AKAN LAHIR KEBAHAGIAN" " M A R I JALIN UKHUWAH. . . INDAHKAN DUNIA DENGAN KEBAIKAN. . . " SATUKAN TEKAD RAIHLAH IMPIAN KITA. . . S E L A M A - L A M A N Y A "

Rabu, 22 Maret 2017

Sahabat, jangan jauhi Al-Qur'án

Sebagai insan beriman kita harus tahu, 
bahwa diantara fungsi Al-Qur’an yang diturunkan Allah SWt yakni sebagai cahaya dan petunjuk, dan obat bagi hati manusia. 
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra’: 82).
Kata Ibnu Qayyim, yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui Al-Quran, 

Caranya ada 2 hal : 

  1. Pertama, hendaknya kita mengalihkan hati ini dari dunia, lalu menempatkannya di akhirat.   
  2. Kedua, menghadapkan hati kita kepada pengertian-pengertian Al-Qur’an, memikirkan dan memahami apa yang dimaksud dan mengapa ia diturunkan. berusaha mengamati semua ayat-ayat-Nya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengobati hati, maka dengan izin Allah hati itu pun akan sembuh.”

Selasa, 07 Februari 2017

Istiqomah itu KONSISTEN..



Istiqomah itu : KONSISTEN, PERSISTEN, & KONSEKUEN

Ketika membicarakan apa itu istiqamah, akan banyak sekali interpretasi yang muncul berkaitan dengan maknanya.
Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata :
“Aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah.’
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 38), Ahmad (III/413; IV/384-385), at-Tirmidzi (no. 2410), an-Nasâ-i dalam as-Sunanul Kubra (no. 11425, 11426, 11776), Ibnu Mâjah (no. 3972), ad-Dârimi (II/298), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 6396, 6397, 6398), ath-Thayâlisi (no. 1327), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 21-22), Ibnu Abid Dun-ya dalam ash-Shamt (no. 7), al-Hâkim (IV/313), Ibnu Hibbân (no. 938, 5668, 5669, 5670, 5672-at-Ta’lîqâtul Hisân), al-Baihaqi dalam Syu’abul Imân (no. 4572, 4574, 4575), dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 16).
Karena amalan yang paling disukai oleh Allah bukan sekedar amalan yang besar semata, tapi juga amal yang dijalankan secara kontinyu dan terus mengalami peningkatan.
Saya teringat dengan sebuah kajian yang disampaikan oleh Ust. Arief Munandar beberapa tahun yang lalu di Masjid Fakultas Kehutanan UGM, beliau menjelaskan bahwa ada beberapa makna istiqamah yang bisa kita ambil hikmahnya, di antaranya adalah, Konsisten, Persisten, dan Konsekuen. Ketiga unsur makna ini adalah bentuk dari perwujudan sebuah makna keistiqamahan dalam berjuang dengan idealisme dakwah yang tinggi, yang akan tetap memperjuangkan dakwah dengan keistiqamahan idealisme hingga syahid menjadi penutup akhir hidup seorang manusia.

1. Konsisten
Idealisme tidak dibatasi oleh waktu. Ia tak hanya berumur 5 atau 6 tahun dan bersemayam di jiwa hanya ketika berada di Sekolah/Kampus. Idealisme harus dibentuk dengan penuh pemahaman bahwa apa yang selama ini diperjuangkan dan diyakini adalah memang sebuah kebenaran. Bukan hanya sekedar taklid, mengikut tanpa tahu maksud. Idealisme tidak akan bertahan lama bila dibangun di atas fondasi pemahaman yang rapuh serta tidak ditegakkan secara konsisten. Karena hanya orang-orang beridealisme tinggilah yang mampu menghadapi berbagai gelombang ujian kehidupan. Konsisten berarti apa yang dikatakannya hari ini adalah juga merupakan perkataannya hari esok.

2. Persisten
Ketika sebuah usaha mengalami kegagalan atau menemui berbagai macam benturan kepentingan yang saling melemahkan, maka persistensi seseorang yang memiliki idealisme tinggi harus menjadi senjata ampuh untuk bisa menjadi tameng dalam menghadapi beratnya cobaan itu. Ketika terjatuh, ia harus kembali bangkit, bukan sekedar menyesali kesalahannya. Introspeksi memang penting, tapi jauh lebih penting lagi bila kita tak hanya menyesali kesalahan, akan tetapi juga mampu mencari solusi untuk bangkit dari kegagalan. Karena orang yang kuat bukan hanya yang mampu melewati terpaan ujian semata, tapi mampu kembali mendongakkan wajah saat raganya mulai tersungkur dan mampu mengepalkan kembali semangat juang dari keterjatuhan. Persisten harus dibangun dalam diri setiap mujahid-mujahid dakwah karena akan banyak sekali tenaga yang dibutuhkan dalam memperjuangkan kalimatullah dan kemenangan dakwah di muka bumi ini.

3. Konsekuen
Hal yang menjadi penting bagi seseorang yang memiliki idealisme adalah ia harus konsekuen dengan apapun yang ia perbuat. Ia harus mampu berada di garis terdepan ketika banyak orang yang mencela. Bukan sembunyi dibalik ketakutan yang menghantui. Apapun yang telah kita perjuangkan pasti ada konsekuensinya. Memperjuangkan dakwah berarti kita harus siap dengan segala macam hambatan dan musuh-musuh dakwah yang pasti akan selalu mencari celah untuk menghancurkan kita. Memperjuangkan dakwah berarti kita harus rela mengorbankan segala potensi yang kita miliki, selama itu masih bisa kita lakukan. Harta, waktu, tenaga bahkan jiwa adalah potensi-potensi itu. Dakwah ini membutuhkan orang-orang yang tetap tegar memperjuangkan dakwah sehingga ia mampu menjadi seorang pejuang yang tak kenal lelah. Karena kelelahan hanya akan membuat kita semakin terpedaya untuk meminimalisir waktu perjuangan yang ada. Kelelahan hanya akan membuat produktivitas dakwah ini menurun. Oleh karena itu sangat dibutuhkan sekali energi pembaharu semangat dakwah yang akan menjadi obat bagi kelelahan menyusuri jalan perjuangan ini. (Jupri Supriadi, Yogyakarta)


Senin, 30 Januari 2017

Mencintai Allah & Rasul-Nya

Dari Anas bin Malik ra, dari Nabi Muhammad Saw bersabda :

"Ada tiga hal yang apabila seseorang memilikinya, maka ia akan merasakan kelezatan iman, yakni 
hendaklah Allah dan Rasul=Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, 
ia mencintai seseorang karena Allah 
dan ia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam api neraka"

(Muttafaqun Alaih)