“Dan hendaklah takut (kepada Allah SWT ) orang-orang yang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.

Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar
(QS. An-Nisa’ : 9)

Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia pulang

(HR. Tirmidzi)

AJF

AJF
"DALAM KEBERSAMAAN KITA ADA KEMUDAHAN. . . DALAM KEMUDAHAN ADA KEBERHASILAN & DALAM KEBERHASILAN AKAN LAHIR KEBAHAGIAN" " M A R I JALIN UKHUWAH. . . INDAHKAN DUNIA DENGAN KEBAIKAN. . . " SATUKAN TEKAD RAIHLAH IMPIAN KITA. . . S E L A M A - L A M A N Y A "
Tampilkan postingan dengan label AQIDAH ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AQIDAH ISLAM. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 April 2022

MENGENAL HARGA IMAN ISLAM

 HARGA IMAN ISLAM

Pada tahun 80-an penduduk Muslim di Indonesia masih lebih dari : 90 %, lalu tahun 2000 populasi muslim turun ke angka : 88,2 % 

(sumber : http://www.dakta.com)

Berdasarkan data tahun 2021 :  

Jumlah penduduk/populasi di dunia yang diperkirakan mencapai : 8,94 miliar jiwa.

Jumlah penduduk muslim di dunia diperkirakan : 1,93 miliar jiwa. (sekitar 22% dari jumlah penduduk dunia)

Total Umat Islam di Indonesia :  86,88% (Juni 2021)

 (sumber : https://databoks.katadata.co.id)

Tidak ada yang lebih berharga dari iman Islam

----

Allah Swt berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (Surah Ali-Imron 91)

Tafsir Ibnu Katsir :

Maksudnya, barang siapa yang mati dalam keadaan kafir, maka tidak akan diterima darinya suatu kebaikan pun untuk selama-lamanya, sekalipun dia telah menginfakkan emas sepenuh bumi yang menurutnya dianggap sebagai amal taqarrub.


Seperti yang pernah ditanyakan kepada Nabi Saw. tentang hal Abdullah ibnu Jad'an (orang yang dermawan tapi kafir). Abdullah ibnu Jad'an semasa hidupnya gemar menjamu tamu, memberikan pertolongan kepada orang miskin, dan memberi makan orang kelaparan. Pertanyaan yang diajukan kepada beliau ialah, "Apakah hal itu bermanfaat baginya?"

Diriwayatkan Shahih Muslim bahwa Aisyah r.a pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, Ibnu Jad'an dahulu gemar memberi makanan dan menjamu para tamu, apakah perbuatan itu bermanfaat baginya di hari kiamat ?

Maka Rasulullah Saw. menjawab:

«لَا، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا مِنَ الدهر: ربي اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ»

Beliau menjawab,"Tidak", karena seharipun ia tidak pernah mengucapkan, "Tuhanku, ampunilah dosaku pada Hari Pembalasan". (Muslim dan Ibnu Katsir).

Berkenaan dengan hadits tersebut, Imam An-Nawawi menjelaskan, bahwa pengertian hadits tersebut di atas adalah menjalin persaudaraan, memberi makan, dan melakukan berbagai kebaikan tidaklah bermanfaat baginya di akhirat kelak, karena dia seorang kafir. Jadi, makna dalam sabda Rasulullah Saw, tidak pernah mengucapkan "Tuhanku, ampunilah dosaku di Hari Pembalasan" tersebut adalah mengandung pengertian bahwa ia (Ibnu Jad'an) tidak mempercayai Hari Kebangkitan, dan orang yang tidak mempercayainya berarti kafir dan segala amal perbuatannya tidak bermanfaat baginya kelak.

 

Al Qadhi Ibnu Iyadh rahimahuLlahu berkata, bahwa sabda Rasulullah SAW, "Disepakati bahwa orang-orang kafir tidak akan memperoleh manfaat dari segala amal perbuatan mereka, tidak akan diberi pahala, dan tidak pula diberi keringanan siksaan. Bahkan, siksaan sebagian mereka lebih keras daripada sebagian lainnya sesuai dengan tingkat kejahatannya". (Muslim).

وَلَوِ افْتَدى بِهِ

“walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu”

Demikian pula seandainya dia menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi, niscaya hal itu TIDAK AKAN DITERIMA DARINYA. Seperti yang dinyatakan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَلا يُقْبَلُ مِنْها عَدْلٌ وَلا تَنْفَعُها شَفاعَةٌ

dan tidak akan diterima suatu tebusan pun darinya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya. (Al-Baqarah: 123)

لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خِلالٌ

Yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. (Ibrahim: 31)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذابِ يَوْمِ الْقِيامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. (Al-Maidah: 36).

 

Dalam ayat di atas perumpamaan harga iman adalah lebih mahal daripada emas sepenuh bumi, lalu berapakah harga emas sepenuh bumi ?!, jika rumusnya : Berat Bumi x Harga Emas.,. maka :

Berat Bumi: 6.000.000.000.000.000.000.000.000 Kg (dibulatkan) x Harga Emas per kilo (kisaran) 500.000.000 = 3.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.

Jadi harga iman itu lebih dari 3 Milyar Triliun Triliun.

 

WALLAHU A'LAM BISH-SHOWAB

Minggu, 24 September 2017

Lagi., VIRUS "PACARAN" ABG



 Semua harapan miliknya pemuda..
 harapan Agama.. pemuda
harapan Bangsa.. pemuda
harapan Negara.. pemuda
harapan masyarakat.. pemuda
harapan pemudi.. hemm pemuda juga.. hehhe

Sobat muda-mudi, masa puber emang sangat menggebu-gebu.. ada manis, asam, asin, pedas, pahit, rame rasanya.. :) 
mari ikuti tulisan sederhana ini agar terbuka wawasan kamu tentang 

P-A-C-A-R-A-N 
Mau tahu "Aneka VIRUS Pacaran" ?! ini dia :..

Rabu, 22 Maret 2017

Sahabat, jangan jauhi Al-Qur'án

Sebagai insan beriman kita harus tahu, 
bahwa diantara fungsi Al-Qur’an yang diturunkan Allah SWt yakni sebagai cahaya dan petunjuk, dan obat bagi hati manusia. 
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra’: 82).
Kata Ibnu Qayyim, yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui Al-Quran, 

Seperti apa caranya.. ?!

Senin, 30 Januari 2017

Mencintai Allah & Rasul-Nya

Dari Anas bin Malik ra, dari Nabi Muhammad Saw bersabda :

"Ada tiga hal yang apabila seseorang memilikinya, maka ia akan merasakan kelezatan iman, yakni 
hendaklah Allah dan Rasul=Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, 
ia mencintai seseorang karena Allah 
dan ia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam api neraka"

(Muttafaqun Alaih)

Jumat, 30 September 2016

yang BAIK itu tetap BAIK, jangan ragu

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anh, ia berkata : 
“Telah bersabda Rasululloh Saw : “ Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.’ Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhan, wahai Tuhan” , sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya"

 Kata “thayyib (baik)” berkenaan dengan sifat Allah maksudnya ialah bersih dari segala kekurangan. Hadits ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian dan sebagainya hendaknya benar-benar yang halal tanpa bercampur yang syubhat.

Orang yang ingin memohon kepada Allah hendaklah memperhatikan persyaratan yang tersebut pada Hadits ini. Hadits ini juga menyatakan bahwa seseorang yang membelanjakan hartanya dalam kebaikan berarti ia telah membersihkan dan menumbuhkan hartanya. Makanan yang enak tetapi tidak halal menjadi malapetaka bagi yang memakannya dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.

Kalimat “kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu”, maksudnya ialah menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan kebaikan seperti haji, jihad, dan perbuatan baik lainnya. Amal kebajikan tersebut tidak akan diterima oleh Allah bila yang bersangkutan makan, minum dan berpakaian dari hasil yang haram. Lalu bagaimana lagi nasib orang-orang yang berbuat dosa di dunia atau berlaku zhalim kepada orang lain atau mengabaikan ibadah dan amal kebajikan?

Kalimat “menengadahkan kedua tangannya” maksudnya berdo’a kepada Allah memohon sesuatu, namun dia tetap berbuat dosa dan melanggar aturan agama.

Kalimat “makanannya haram…, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya”, maksudnya bagaimana orang yang perbuatannya semacam itu akan dikabulkan do’anya, karena dia bukanlah orang yang layak dikabulkan do’anya. Akan tetapi walaupun demikian, boleh saja Allah mengabulkannya sebagai tanda kemurahan, kasih sayang dan pemberian karunia. 
Wallaahua'lam bish showab

Rabu, 17 Agustus 2016

8 M

Sahabat, ada setidaknya 8 M "Cara Mendidik Anak & Istri" :

1.Mau terus belajar
2.Mengamalkan ilmu, bukan sekedar teori aja
3.Menjadi teladan, bukan sekedar suka memerintah & melarang
4.Menjalin komunikasi dua arah
5.Memilihkan lingkungan yg baik
6.Menjadikan rumah sebagai tempat yg aman & dirindukan
7.Menafkahi dg harta halal & baik
8.Memperbanyak do'a kebaikan



#‎KeluargakuSurgaku‬

Minggu, 14 Agustus 2016

Do'a Hendak Pergi Haji



Sahabat, 
Ada beberapa do'a yang penting untuk kita pelajari berkaitan dengan ibadah Haji, 

yaitu :
1- Do’a orang yang hendak pergi haji pada orang yang ditinggalkan
أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ
Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya).”
Dalilnya adalah,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ وَدَّعَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ »
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi meninggalkanku dan beliau mengucapkan, “Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya)” (HR. Ibnu Majah no. 2825 dan Ahmad 2: 358. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
2– Do’a orang yang ditinggalkan pada orang yang hendak pergi haji
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
Astawdi’ullaha diinaka, wa  amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)”.
Dalilnya adalah,
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ لِلرَّجُلِ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا ادْنُ مِنِّى أُوَدِّعْكَ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوَدِّعُنَا.فَيَقُولُ « أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ »
Sesungguhnya Ibnu ‘Umar pernah mengatakan pada seseorang yang hendak bersafar, “Mendekatlah padaku, aku akan menitipkan engkau sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkan kami, lalu beliau berkata: “Astawdi’ullaha diinaka, wa  amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)”.(HR. Tirmidzi no. 3443 dan Ahmad 2: 7. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Begitu pula bisa membaca do’a pada orang yang pergi berhaji,
زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ  وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ
Zawwadakallahut taqwa wa ghofaro dzanbaka wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta (Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkanmu di mana saja engkau berada).”
Dalilnya adalah,
عَنْ أَنَسٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُرِيدُ سَفَرًا فَزَوِّدْنِى. قَالَ « زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى ». قَالَ زِدْنِى. قَالَ « وَغَفَرَ ذَنْبَكَ ». قَالَ زِدْنِى بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى. قَالَ « وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ »
Dari Anas, ia berkata, “Seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, aku ingin bersafar, bekalilah aku.” Beliau bersabda, “Zawwadakallahut taqwa (moga Allah membekalimu dengan ketakwaan).” “Tambahkan lagi padaku”, mintanya. Beliau bersabda, “Wa ghofaro dzanbaka (moga Allah ampuni dosamu).” “Tambahkan lagi padaku, demi ayah dan ibuku”, mintanya. Beliau bersabda, “Wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta (moga Allah memudahkanmu di mana saja engkau berada).”  (HR. Tirmidzi no. 3444. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Adapun membuat acara ritual atau do’a khusus untuk mendo’akan jama’ah haji atau orang yang hendak pergi haji dengan berjama’ah atau dikomandoi, maka seperti itu tidak ada tuntunannya dalam Islam. Bersederhana dalam amalan yang ada tuntunan dari Rasul tentu lebih baik daripada banyak amalan namun mengada-ada.

Rabu, 11 Mei 2016

Do'a Ketegaran Iman



Sahabat hebat, 
Kita ini sebagai Muslim belum tentu akhir hidup kita sebagai Muslim. 
Begitu juga orang kafir, siapa tahu akhir hidupnya sebagai seorang muslim. Mengenai hal ini Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) pernah bersabda yang tercatat dalam riwayat Imam Tirmidzi, sebagai berikut :
Nabi Muhammad  bersabda : “lngatlah, sesung­guhnya anak Adam (umat manusia) diciptakan dari berbagai macam lapisan. Diantara mereka ada yang dilahirkan sebagai orang mukmin, hidup sebagai orang mukmin, dan mati dalam keadaan beriman. Ada pula yang dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup sebagai orang kafir, dan matipun dalam keadaan kafir. Juga ada yang dilahirkan sebagai orang mukmin, lalu hidup sebagai orang mukmin, tetapi mati dalam keadaan kafir. Sebaliknya ada yang lahir dalam keadaan kafir, dan hidup sebagai orang kafir, tetapi ia mati dalam keadaan beriman.”
(HR. Tirmidzi dari Abu Sa`id Al-Khudri raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) dengan sanad sahih)

Oleh karena itu, hendaknya kita sering-seringlah membaca doa yang tercantum dalam al Qur’an dan Hadits :
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa wa Hab Lanaa Mil-Ladunka Rahmatan Innaka Antal-Wahhaab”
Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 7)
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbiy ‘Ala Diinik”
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Allaahumma Musharrifal Quluub, Sharrif Quluubanaa ‘Alaa Thaa’atik”
Artinya: “Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu.” (HR. Muslim)
Semoga bermanfaat.

Rabu, 30 September 2015

Hijrah Bersama Islam

HIJRAH

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (At-Taubah : 20)



Esensi ayat
1). Hijrah harus dilakukan semata-mata karena Allah swt.
2). Orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad, sesungguhnya merekalah yang dimaksud mukmin sejati.
3). Hijrah dan Jihad, keduanya adalah bagian dari perjuangan yang dilakukan dengan mengorbankan harta bahkan jiwa.
4). Terkandung tiga prinsip kehidupan : Iman yang bermakna keyakinan, Hijrah yang bermakna perubahan, dan Jihad yang bermakna perjuangan.
5). Kemenangan yang hakiki dalam perjuangan adalah ketika Allah mengangkat derajat kemuliaan seseorang. Itulah beruntungan manusia yang sebenarnya.

Pengertian Hijrah
Kata Hijrah berasal dari bahasa Arab yang berarti berpisah; pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain; berjalan pada tengah hari, dll.
Raqib al-Isfahani, pakar bahasa al-qur’an, berpendapat bahwa sebagai istilah, kata hijrah biasa mengacu pada tiga pengertian, yaitu :
1). Meninggalkan negeri yang berpenduduk kafir menuju negeri yang berpenduduk muslim, sebagaimana hijrahkan Rasulullah saw dan para shahabat dari Makkah ke Madinah.
2). Meninggalkan syahwat, mengganti perbuatan buruk dan dosa-dosa dengan perbuatan baik yang diperintahkan Allah dan Rasul saw.
3). Mujahadah an-nafs, yakni menundukkan hawa nafsu untuk mencapai hakikat kemanusiaan yang hakiki.

Makna Hijrah
Secara garis besar, hijrah dibedakan menjadi dua macam yakni Hijrah Makaniyah dan Hijrah Maknawiyah.
Hijrah Makaniyah (pindah atau ganti tempat) yaitu berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain karena dalam rangka mempertahankan keimanan, gangguan kesehatan, keamanan harta dan jiwa, dll.
Hijrah Maknawiyah (berubah atau berganti keyakinan), didasari 4 kategori:
a.     Hijrah I’tiqodiyah, berpindah keyakinan dari kemusyrikan dan kekufuran menuju keimanan.
b.     Hijrah Fikriyah, meninggalkan pemikiran komunisme, sekularisme, kapitalisme, liberalism, pluralisme, sosialisme, dan isme-isme lain kepada pola dan pemikiran Islam yang murni.
c.      Hijrah Syu’uriyah, meninggalkan kesenangan, kegemaran, hobbi, maupun citarasa yang kurang atau tidak Islami kepada yang Islami.
d.     Hijrah Sulukiyah, meninggalkan kepribadian, tingkahlaku atau akhlak tercela menuju akhlaqul karimah (kepribadian yang terpuji).

Refleksi Diri
Berakhirnya tahun 1436 H dan datangnya tahun 1437 H, adalah sebuah jawaban bahwa usia kita bertambah dan jatah umur kita semakin berkurang. Maka, hendaknya kita segera menghisab diri sebelum datangnya penghisaban Allah.
-). Evaluasi diri, apakah kita lebih banyak melakukan ketaatan kepada Allah atau sebaliknya banyak melanggar aturan Allah?
-). Apakah kehidupan kita banyak disibukkan dengan ibadah atau maksiat?
-). Apakah kita sudah termasuk ahlu sholah (sudah baik shalatnya, senantiasa menjaga kualitas ) atau belum?
-). Apakah kehidupan kita sudah bermanfaat bagi orang lain atau belum?
-). Apakah harta benda kita sudah terbebas dari nilai-nilai syubhat (tidak pasti kehalalannya) dan haram?
-). Apakah lisan kita sudah baik atau malah banyak membicarakan perkara yang sia-sia bahkan dusta? Dan lain-lain.

Tanda-tanda orang yang celaka di akhirat menurut syaikh Utsman ibn Hasan ibn Ahmad As-Syakir :
1.     Terlalu gampang melupakan dosa.
Orang seperti ini akan cenderung malas bertaubat, memperbaiki kesalahan, dan bahkan ringan mengulangi perbuatan dosa.
2.     Bangga atas jasa dan amal shalih yang dilakukan.
Orang seperti ini akan mudah takabur sehingga cenderung enggan bahkan berat mengulangi perbuatan baiknya.
3.     Selalu merasa iri dalam urusan dunia.
Orang seperti ini akan selalu kagum dengan keadaan dunia yang ada pada orang lain, selalu mengejar dunia seperti mereka. Sehingga, hidupnya tidak terhiasai dengan cahaya tawadhu’.
4.     Selalu merasa cukup dalam urusan agama.
Orang seperti ini akan cepat puas diri dalam kebaikan, sebab ia selalu merasa lebih shalih daripada orang lain.
                                 
Wallahu a’lam