“Dan hendaklah takut (kepada Allah SWT ) orang-orang yang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.

Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar
(QS. An-Nisa’ : 9)

Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia pulang

(HR. Tirmidzi)

AJF

AJF
"DALAM KEBERSAMAAN KITA ADA KEMUDAHAN. . . DALAM KEMUDAHAN ADA KEBERHASILAN & DALAM KEBERHASILAN AKAN LAHIR KEBAHAGIAN" " M A R I JALIN UKHUWAH. . . INDAHKAN DUNIA DENGAN KEBAIKAN. . . " SATUKAN TEKAD RAIHLAH IMPIAN KITA. . . S E L A M A - L A M A N Y A "
Tampilkan postingan dengan label AL-QUR'AN AL-HADITS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AL-QUR'AN AL-HADITS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 April 2024

Jangan Putuskan Silaturahmi Gaes..

 PENTINGNYA SILATURAHMI :

v  Perintah Allah Swt

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah mengembang biakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (perilaharalah) HUBUNGAN SILATURAHIM. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."  (An-Nisa : 1)

 

وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡجَارِ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالٗا فَخُورًا ٣٦

"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan BERBUAT-BAIKLAH kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (An-Nisa : 36)

يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَنفَالِۖ قُلِ ٱلۡأَنفَالُ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَصۡلِحُواْ ذَاتَ بَيۡنِكُمۡۖ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١

"Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: 'Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan PERBAIKILAH PERHUBUNGAN DI ANTARA SESAMAMU; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman." (Al-Anfal : 1)

v  Manusia tidak dapat hidup sendirian, butuh orang lain ; Nabi Adam AS. di Surga butuh Hawa, dst

Senin, 12 Juni 2023

7 HAL YANG MERUSAK

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan!"

Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa sajakah tujuh perkara tersebut?"

Beliau Saw. Menjawab :

Senin, 05 Desember 2022

MEMAHAMI MAHRAM KITA

Tahukah Anda, Apa itu Mahram ?

Apa itu Muhrim ?

jawabannya : Mahram berbeda dengan Muhrim

Ø  Mahram       Laki-laki atau perempuan yang masih termasuk sanak saudara dekat karena keturunan, sesusuan, dan hubungan perkawinan sehingga tidak boleh menikah di antara keduanya.

Ø  Muhrim        : orang yang sedang berihram.

 

Macam-macam Mahram :

ü  Mahram Mu’abbad (Permanen/Abadi) : perempuan-perempuan yang tidak boleh dinikahi selamanya.

ü  Mahram Mu’aqqat (Sementara) : perempuan-perempuan yang haram dinikah karena sebab tertentu. Jika sebabnya hilang, maka hilang pula keharamannya.  

Bagaimana penjelasannya ? mari kita pelajari bersama..

Kamis, 07 Juli 2022

TAQWA & IKHLAS DALAM BERQURBAN - AL-HAJJ : 37

 

 

TAQWA & IKHLAS DALAM BERQURBAN

Allah Ta’ala berfirman :

 

“ Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. “ (Al Hajj: 37)

Syaikh As Sa’di mengenai ayat di atas : “bukanlah yang dimaksudkan hanyalah menyembelih saja dan yang Allah harap bukanlah daging dan darah kurban tersebut karena Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu dan Dialah yang pantas diagung-agungkan. Yang Allah harapkan dari kurban tersebut adalah KEIKHLASAN, IHTISAB (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya) dan NIAT YANG SHOLIH. Oleh karena itu, Allah katakan (yang artinya), “Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nya”. Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berkurban yaitu ikhlas, bukan riya’ atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan. Inilah yang mesti ada dalam ibadah lainnya. Jangan sampai amalan kita hanya nampak kulit saja yang tak terlihat isinya atau nampak jasad yang tak ada ruhnya.” (Tafsir Al Karimir Rahman, hal. 539).

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar,

mudarris tafsir Universitas Islam Madinah :

ü  (Daging-daging unta itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah) Yakni : daging-daging unta yang kalian sedekahkan ini tidak akan naik kepada-Nya dan mencapai keridhaan-Nya.

ü  (dan begitu pula darahnya) Yakni : darah yang tumpah pada saat penyembelihannya.

ü  (tetapi yang dapat mencapainya) Yakni : yang dapat mencapainya adalah ketakwaan dari hati kalian, itulah yang akan diterima Allah dan akan dibalas.

ü  (Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah) Yakni : ucapan penyembelih “Allahu Akbar” ketika menyembelih. Ini merupakan dalil disyariatkan untuk mengucapkan basmalah dan takbir saat menyembelihnya.

ü  (terhadap hidayah-Nya kepada kamu) Sesuai dengan apa yang ditunjukkan Allah kepada kalian berupa pengetahuan tentang cara mendekatkan diri kepada Allah.

ü  (Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik) Yakni : semua orang yang mengerjakan kebaikan karena mengharap ridha Allah dengan penuh kesungguhan dalam beramal dan perasaan diawasi Allah.

Ibnu Mundzir mengeluarkan hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: dahulu orang-orang musyrik apabila menyembelih hewan, mereka mengarahkan darahnya ke Ka’bah agar darah itu mengucur ke Ka’bah. Kemudian kaum muslimin hendak melakukan hal itu. Maka Allah menurunkan ayat tersebut.

BAHAYA RIYA’

عDari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?

 (HR. Ahmad 5: 429. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Contoh Riya : ingin pamer, dipuji orang lain, dst

 

Referensi :

rumaysho.com

tafsirweb.com

 

 


Kamis, 15 Agustus 2019

Semangat Bekerja Sahabat


ETOS KERJA SEORANG MUSLIM
(Joko S. Al-Hanif, S.Pd.I.)

Allah SWT berfirman :
Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah :105)
 “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” 
(Al-Baqarah : 274)
Rasulullah SAW bersabda : “barangsiapa di malam hari kelelahan karena bekerja mencarai rejeki yang halal (di siang hari), maka di malam hari itu ia mendapatkan ampunan (dari Allah SWT)”
(HR. Ibnu Asakir dari Anas ra. dishahihkan oleh Imam Suyuti dalam Al-Jami'ish Shaghir 8546)

Kamis, 05 Oktober 2017

Sudahkah kita mengenal sifat Rasul ?



Sifat-sifat Rasul


1.      Manusia/Basyariyah (14 : 11)

Para Rasul mempunyai sifat sebagaimana manusia pada umumnya seperti makan, minum, menikah, dll. Akan tetapi Rasulullah SAW dan para Rasul lainnya tidak berhak mendatangkan hal baru yang tidak dikehendaki Allah SWT.



2.      Terpelihara dari kesalahan dan dosa/Íshmah/Ma’shum (5 : 67, 66 : 1)

Sebagaimana manusia biasa, beliau SAW pernah salah namun kesalahan tersebut segera diingatkan oleh Allah SWT.


Rabu, 22 Maret 2017

Sahabat, jangan jauhi Al-Qur'án

Sebagai insan beriman kita harus tahu, 
bahwa diantara fungsi Al-Qur’an yang diturunkan Allah SWt yakni sebagai cahaya dan petunjuk, dan obat bagi hati manusia. 
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra’: 82).
Kata Ibnu Qayyim, yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui Al-Quran, 

Seperti apa caranya.. ?!

Selasa, 07 Februari 2017

Istiqomah itu KONSISTEN..



Istiqomah itu : KONSISTEN, PERSISTEN, & KONSEKUEN

Ketika membicarakan apa itu istiqamah, akan banyak sekali interpretasi yang muncul berkaitan dengan maknanya.
Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata :
“Aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah.’ 

Senin, 30 Januari 2017

Mencintai Allah & Rasul-Nya

Dari Anas bin Malik ra, dari Nabi Muhammad Saw bersabda :

"Ada tiga hal yang apabila seseorang memilikinya, maka ia akan merasakan kelezatan iman, yakni 
hendaklah Allah dan Rasul=Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, 
ia mencintai seseorang karena Allah 
dan ia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam api neraka"

(Muttafaqun Alaih)

Jumat, 30 September 2016

yang BAIK itu tetap BAIK, jangan ragu

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anh, ia berkata : 
“Telah bersabda Rasululloh Saw : “ Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.’ Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhan, wahai Tuhan” , sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya"

 Kata “thayyib (baik)” berkenaan dengan sifat Allah maksudnya ialah bersih dari segala kekurangan. Hadits ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian dan sebagainya hendaknya benar-benar yang halal tanpa bercampur yang syubhat.

Orang yang ingin memohon kepada Allah hendaklah memperhatikan persyaratan yang tersebut pada Hadits ini. Hadits ini juga menyatakan bahwa seseorang yang membelanjakan hartanya dalam kebaikan berarti ia telah membersihkan dan menumbuhkan hartanya. Makanan yang enak tetapi tidak halal menjadi malapetaka bagi yang memakannya dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.

Kalimat “kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu”, maksudnya ialah menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan kebaikan seperti haji, jihad, dan perbuatan baik lainnya. Amal kebajikan tersebut tidak akan diterima oleh Allah bila yang bersangkutan makan, minum dan berpakaian dari hasil yang haram. Lalu bagaimana lagi nasib orang-orang yang berbuat dosa di dunia atau berlaku zhalim kepada orang lain atau mengabaikan ibadah dan amal kebajikan?

Kalimat “menengadahkan kedua tangannya” maksudnya berdo’a kepada Allah memohon sesuatu, namun dia tetap berbuat dosa dan melanggar aturan agama.

Kalimat “makanannya haram…, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya”, maksudnya bagaimana orang yang perbuatannya semacam itu akan dikabulkan do’anya, karena dia bukanlah orang yang layak dikabulkan do’anya. Akan tetapi walaupun demikian, boleh saja Allah mengabulkannya sebagai tanda kemurahan, kasih sayang dan pemberian karunia. 
Wallaahua'lam bish showab

Rabu, 17 Agustus 2016

8 M

Sahabat, ada setidaknya 8 M "Cara Mendidik Anak & Istri" :

1.Mau terus belajar
2.Mengamalkan ilmu, bukan sekedar teori aja
3.Menjadi teladan, bukan sekedar suka memerintah & melarang
4.Menjalin komunikasi dua arah
5.Memilihkan lingkungan yg baik
6.Menjadikan rumah sebagai tempat yg aman & dirindukan
7.Menafkahi dg harta halal & baik
8.Memperbanyak do'a kebaikan



#‎KeluargakuSurgaku‬

Minggu, 14 Agustus 2016

Do'a Hendak Pergi Haji



Sahabat, 
Ada beberapa do'a yang penting untuk kita pelajari berkaitan dengan ibadah Haji, 

yaitu :
1- Do’a orang yang hendak pergi haji pada orang yang ditinggalkan
أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ
Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya).”
Dalilnya adalah,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ وَدَّعَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ »
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi meninggalkanku dan beliau mengucapkan, “Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya)” (HR. Ibnu Majah no. 2825 dan Ahmad 2: 358. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
2– Do’a orang yang ditinggalkan pada orang yang hendak pergi haji
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
Astawdi’ullaha diinaka, wa  amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)”.
Dalilnya adalah,
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ لِلرَّجُلِ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا ادْنُ مِنِّى أُوَدِّعْكَ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوَدِّعُنَا.فَيَقُولُ « أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ »
Sesungguhnya Ibnu ‘Umar pernah mengatakan pada seseorang yang hendak bersafar, “Mendekatlah padaku, aku akan menitipkan engkau sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkan kami, lalu beliau berkata: “Astawdi’ullaha diinaka, wa  amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)”.(HR. Tirmidzi no. 3443 dan Ahmad 2: 7. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Begitu pula bisa membaca do’a pada orang yang pergi berhaji,
زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ  وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ
Zawwadakallahut taqwa wa ghofaro dzanbaka wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta (Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkanmu di mana saja engkau berada).”
Dalilnya adalah,
عَنْ أَنَسٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُرِيدُ سَفَرًا فَزَوِّدْنِى. قَالَ « زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى ». قَالَ زِدْنِى. قَالَ « وَغَفَرَ ذَنْبَكَ ». قَالَ زِدْنِى بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى. قَالَ « وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ »
Dari Anas, ia berkata, “Seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, aku ingin bersafar, bekalilah aku.” Beliau bersabda, “Zawwadakallahut taqwa (moga Allah membekalimu dengan ketakwaan).” “Tambahkan lagi padaku”, mintanya. Beliau bersabda, “Wa ghofaro dzanbaka (moga Allah ampuni dosamu).” “Tambahkan lagi padaku, demi ayah dan ibuku”, mintanya. Beliau bersabda, “Wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta (moga Allah memudahkanmu di mana saja engkau berada).”  (HR. Tirmidzi no. 3444. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Adapun membuat acara ritual atau do’a khusus untuk mendo’akan jama’ah haji atau orang yang hendak pergi haji dengan berjama’ah atau dikomandoi, maka seperti itu tidak ada tuntunannya dalam Islam. Bersederhana dalam amalan yang ada tuntunan dari Rasul tentu lebih baik daripada banyak amalan namun mengada-ada.