“Dan hendaklah takut (kepada Allah SWT ) orang-orang yang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.
Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar
(QS. An-Nisa’ : 9)
Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia pulang
(HR. Tirmidzi)
AJF
Rabu, 14 Desember 2016
Selasa, 22 November 2016
Ciri Pemimpin Ideal dalam Islam
Sahabat,
siapapun kita pastinya bahagia manakala mempunyai pemimpin yang adil bijaksana, dan dapat menunjukkan dengan tepat.
Senantiasa menjadi teladan kebaikan dan menjadi sarana mensejahterakan makmumnya (yang dipimpin) menjadi mandiri, madani dan penuh keberkahan dari Ilahi.
Berikut beberapa ciri pemimpin ideal menurut Islam, yaitu :
1. Niat yang lurus
2. Lelaki Muslim & beramal shalih serta mempunyai sifat Sidiq, Amanah, Tabligh, Fathonah
3. Tidak meminta jabatan
4. Berpegang pada hukum Ilahi
6. Mampu menyelesaikan problem dengan adil
7. Tidak menerima hadiah
8. Kuat & sehat jasadnya
9. Bersikap lemah lembut
10. Tegas dan bukan peragu
siapapun kita pastinya bahagia manakala mempunyai pemimpin yang adil bijaksana, dan dapat menunjukkan dengan tepat.
Senantiasa menjadi teladan kebaikan dan menjadi sarana mensejahterakan makmumnya (yang dipimpin) menjadi mandiri, madani dan penuh keberkahan dari Ilahi.
Berikut beberapa ciri pemimpin ideal menurut Islam, yaitu :
1. Niat yang lurus
2. Lelaki Muslim & beramal shalih serta mempunyai sifat Sidiq, Amanah, Tabligh, Fathonah
3. Tidak meminta jabatan
4. Berpegang pada hukum Ilahi
6. Mampu menyelesaikan problem dengan adil
7. Tidak menerima hadiah
8. Kuat & sehat jasadnya
9. Bersikap lemah lembut
10. Tegas dan bukan peragu
Jumat, 30 September 2016
yang BAIK itu tetap BAIK, jangan ragu
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anh, ia berkata :
“Telah bersabda Rasululloh Saw :
“ Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan
sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa
yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman: Wahai
para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih.
Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang
baik yang telah Kami berikan kepadamu.’ Kemudian beliau menceritakan kisah
seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu
menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhan, wahai
Tuhan” , sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan
dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan
do’anya"
Kata “thayyib (baik)” berkenaan dengan sifat Allah maksudnya ialah bersih dari
segala kekurangan. Hadits ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan
hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran membelanjakan sebagian dari harta yang
halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian dan
sebagainya hendaknya benar-benar yang halal tanpa bercampur yang
syubhat.
Orang yang ingin memohon kepada Allah hendaklah memperhatikan persyaratan yang tersebut pada Hadits ini. Hadits ini juga menyatakan bahwa seseorang yang membelanjakan hartanya dalam kebaikan berarti ia telah membersihkan dan menumbuhkan hartanya. Makanan yang enak tetapi tidak halal menjadi malapetaka bagi yang memakannya dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.
Kalimat “kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu”, maksudnya ialah menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan kebaikan seperti haji, jihad, dan perbuatan baik lainnya. Amal kebajikan tersebut tidak akan diterima oleh Allah bila yang bersangkutan makan, minum dan berpakaian dari hasil yang haram. Lalu bagaimana lagi nasib orang-orang yang berbuat dosa di dunia atau berlaku zhalim kepada orang lain atau mengabaikan ibadah dan amal kebajikan?
Kalimat “menengadahkan kedua tangannya” maksudnya berdo’a kepada Allah memohon sesuatu, namun dia tetap berbuat dosa dan melanggar aturan agama.
Kalimat “makanannya haram…, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya”, maksudnya bagaimana orang yang perbuatannya semacam itu akan dikabulkan do’anya, karena dia bukanlah orang yang layak dikabulkan do’anya. Akan tetapi walaupun demikian, boleh saja Allah mengabulkannya sebagai tanda kemurahan, kasih sayang dan pemberian karunia.
Orang yang ingin memohon kepada Allah hendaklah memperhatikan persyaratan yang tersebut pada Hadits ini. Hadits ini juga menyatakan bahwa seseorang yang membelanjakan hartanya dalam kebaikan berarti ia telah membersihkan dan menumbuhkan hartanya. Makanan yang enak tetapi tidak halal menjadi malapetaka bagi yang memakannya dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.
Kalimat “kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu”, maksudnya ialah menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan kebaikan seperti haji, jihad, dan perbuatan baik lainnya. Amal kebajikan tersebut tidak akan diterima oleh Allah bila yang bersangkutan makan, minum dan berpakaian dari hasil yang haram. Lalu bagaimana lagi nasib orang-orang yang berbuat dosa di dunia atau berlaku zhalim kepada orang lain atau mengabaikan ibadah dan amal kebajikan?
Kalimat “menengadahkan kedua tangannya” maksudnya berdo’a kepada Allah memohon sesuatu, namun dia tetap berbuat dosa dan melanggar aturan agama.
Kalimat “makanannya haram…, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya”, maksudnya bagaimana orang yang perbuatannya semacam itu akan dikabulkan do’anya, karena dia bukanlah orang yang layak dikabulkan do’anya. Akan tetapi walaupun demikian, boleh saja Allah mengabulkannya sebagai tanda kemurahan, kasih sayang dan pemberian karunia.
Wallaahua'lam bish showab
Rabu, 17 Agustus 2016
8 M
Sahabat, ada setidaknya 8 M "Cara Mendidik Anak & Istri" :
1.Mau terus belajar
2.Mengamalkan ilmu, bukan sekedar teori aja
3.Menjadi teladan, bukan sekedar suka memerintah & melarang
4.Menjalin komunikasi dua arah
5.Memilihkan lingkungan yg baik
6.Menjadikan rumah sebagai tempat yg aman & dirindukan
7.Menafkahi dg harta halal & baik
8.Memperbanyak do'a kebaikan
Minggu, 14 Agustus 2016
Do'a Hendak Pergi Haji
Sahabat,
yaitu :
1- Do’a orang yang hendak
pergi haji pada orang yang ditinggalkan
أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ
وَدَائِعُهُ
“Astawdi’ukallaha alladzi
laa tadhi’u wa daa-i’uhu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak
mungkin menyia-nyiakan titipannya).”
Dalilnya adalah,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ وَدَّعَنِى
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى
لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ »
Dari Abu Hurairah, ia berkata
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi meninggalkanku dan
beliau mengucapkan, “Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu
(Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan
titipannya)” (HR. Ibnu Majah no. 2825 dan Ahmad 2: 358. Al Hafizh Abu Thohir
mengatakan bahwa hadits ini shahih).
2– Do’a orang yang ditinggalkan pada orang yang hendak pergi
haji
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ
وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
“Astawdi’ullaha diinaka,
wa amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu,
amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)”.
Dalilnya adalah,
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ لِلرَّجُلِ
إِذَا أَرَادَ سَفَرًا ادْنُ مِنِّى أُوَدِّعْكَ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى
الله عليه وسلم- يُوَدِّعُنَا.فَيَقُولُ « أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ
وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ »
Sesungguhnya Ibnu ‘Umar
pernah mengatakan pada seseorang yang hendak bersafar, “Mendekatlah padaku, aku
akan menitipkan engkau sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menitipkan kami, lalu beliau berkata: “Astawdi’ullaha diinaka, wa
amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan
perbuatan terakhirmu kepada Allah)”.(HR. Tirmidzi no. 3443 dan Ahmad 2: 7.
Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir
mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan
bahwa hadits ini shahih).
Begitu pula bisa membaca do’a
pada orang yang pergi berhaji,
زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ
ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ
“Zawwadakallahut taqwa wa
ghofaro dzanbaka wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta (Semoga Allah
membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkanmu di mana saja
engkau berada).”
Dalilnya adalah,
عَنْ أَنَسٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى
النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُرِيدُ
سَفَرًا فَزَوِّدْنِى. قَالَ « زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى ». قَالَ زِدْنِى.
قَالَ « وَغَفَرَ ذَنْبَكَ ». قَالَ زِدْنِى بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى. قَالَ «
وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ »
Dari Anas, ia berkata,
“Seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata
pada beliau, “Wahai Rasulullah, aku ingin bersafar, bekalilah aku.” Beliau
bersabda, “Zawwadakallahut taqwa (moga Allah membekalimu dengan ketakwaan).”
“Tambahkan lagi padaku”, mintanya. Beliau bersabda, “Wa ghofaro dzanbaka
(moga Allah ampuni dosamu).” “Tambahkan lagi padaku, demi ayah dan ibuku”,
mintanya. Beliau bersabda, “Wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta (moga
Allah memudahkanmu di mana saja engkau berada).” (HR. Tirmidzi no.
3444. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al
Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Adapun membuat acara ritual atau do’a khusus untuk
mendo’akan jama’ah haji atau orang yang hendak pergi haji dengan berjama’ah
atau dikomandoi, maka seperti itu tidak ada tuntunannya dalam Islam.
Bersederhana dalam amalan yang ada tuntunan dari Rasul tentu lebih baik
daripada banyak amalan namun mengada-ada.
Langganan:
Postingan (Atom)




