“Dan hendaklah takut (kepada Allah SWT ) orang-orang yang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.

Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar
(QS. An-Nisa’ : 9)

Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia pulang

(HR. Tirmidzi)

AJF

AJF
"DALAM KEBERSAMAAN KITA ADA KEMUDAHAN. . . DALAM KEMUDAHAN ADA KEBERHASILAN & DALAM KEBERHASILAN AKAN LAHIR KEBAHAGIAN" " M A R I JALIN UKHUWAH. . . INDAHKAN DUNIA DENGAN KEBAIKAN. . . " SATUKAN TEKAD RAIHLAH IMPIAN KITA. . . S E L A M A - L A M A N Y A "

Jumat, 27 April 2012

Istilah-istilah dalam Hadits

Mereka berkata:
"Sebenarnya untuk apa mempelajari Al-Qur'an dan Al-Hadits ?"


Setiap manusia dan jin diperintahkan oleh Allah SWT agar mengabdi kepadaNya, pengabdian tersebut dinamakan 'ibadah'. Namun, tidak sedikit diantara kita yang memaknai ibadah hanya seputar rutinitas di masjid, berpuasa, berzakat dan haji, padahal segala sesuatu yang positif dan bermanfaat kepada sesama termasuk juga ibadah. 

Oleh karena itu agar dalam bertindak tidak keliru, wajib bagi kita mempelajari Al-Qur'an dan Al-Hadits. 


Al-Qur'an adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah SAW melalui perantara Malaikat Jibril sebagai petunjuk umat manusia seluruhnya, agar dapat selamat dan sejahtera di dunia dan akhirat.
Sedangkan hadits ialah perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi Muhammad SAW yang mendapat bimbingan langsung dari Allah SWT. 
Secara akal sehat, betapa jahilnya manusia jika tidak mempelajari dan mengamalkan Al-Qur'an dan Al-Hadit, sebab kita adalah makhluk ciptaanNya, hidup di bumiNya bahkan juga memakan rizqi dari Allah SWT serta kan kembali kepadaNya meniggalkan dunia ini. 

Maka mengapakah masih ada sebagian manusia khususnya umat Islam, yang mengabaikan Al-Qur'an dan Al-Hadits ??



Pembahasan tentang Hadits sangatlah panjang dan berliku, hendaknya umat Islam menyadari dan berkenan mempelajari Al-Qur'an Hadits. 

Berikut diantara beberapa istilah dalam Hadits :


Al-Adalah: Potensi (baik) yang dapat membawa pemiliknya kepada takwa, dan (menyebabkannya mampu) menghindari hal-hal tercela dan segala hal yang dapat merusak nama baik dalam pandangan orang banyak. Predikat ini dapat diraih seseorang dengan syarat-syarat: Islam, baligh, berakal sehat, takwa, dan meninggalkan hal-hal yang merusak nama baik.

Al-Jarh (at-Tajrih): Celaan yang dialamatkan pada rawi hadits yang dapat mengganggu (atau bahkan menghilangkan) bobot predikat “al- Adalah” dan “hafalan yang bagus”, dari dirinya.

Al-Jarh wa at-Ta’dil: Pernyataan adanya cela dan cacat, dan pernyataan adanya “al- Adalah” dan “hafalan yang bagus” pada seorang rawi hadits.

An’anah: Menyampaikan hadits kepada rawi lain dengan lafazh ’an (dari) yang mengisyaratkan bahwa dia tidak mendengar langsung dari syaikhnya. Ini menjadi illat suatu sanad hadits apabila digunakan oleh seorang rawi yang mudallis.

Ashhab As-Sunan: Para ulama penyusun kitab-kitab “Sunan” yaitu: Abu Dawud, at- Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah.

Ash-Shahihain: Dua kitab shahih yaitu Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Asy-Syaikhain: Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

At-Ta’dil: Pernyataan adanya “al-Adalah” pada diri seorang rawi hadits.

At-Tashhif: Perubahan yang terjadi pada lafazh hadits yang dapat menyebabkan maknanya berubah.

Berdasarkan syarat mereka berdua: Maksudnya berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim.

Hadits Ahad: Hadits yang sanadnya tidak mencapai derajat mutawatir.

Hadits Dha’if: Hadits yang tidak memenuhi syarat hadits maqbul (yang diterima dan dapat dijadikan hujjah), dengan hilangnya salah satu syarat-syaratnya.

Hadits Gharib: Hadits yang diriwayatkan sendirian oleh seorang rawi dalam salah satu periode rangkaian sanadnya.

Hadits Hasan: Hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh rawi yang adil dan memiliki hafalan yang sedang-sedang saja (khafif adh-Dhabt) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, serta tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.

Hadits Masyhur: Hadits yang memiliki jalan-jalan riwayat yang terbatas, lebih dari dua jalan, dan belum mencapai derajat mutawatir.

Hadits Matruk: Hadits yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh sebagai pendusta.

Hadits Maudhu’: Hadits dusta, palsu dan dibuat-buat yang dinisbatkan kepada Rasulullah.

Hadits Mudhtharib: Hadits yang diriwayatkan dari seorang rawi atau lebih dalam berbagai versi riwayat yang berbeda-beda, yang tidak dapat ditarjihkan dan tidak mungkin dipertemukan antara satu dengan lainnya. Mudhtharib: (guncang).

Hadits Mudraj: Hadits yang di dalamnya terdapat tambahan yang bukan darinya, baik dalam matan atau sanadnya.

Hadits Munkar: Hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang dha’if dan riwayatnya bertentangan dengan riwayat para rawi tsiqah.

Hadits Mutawatir: Hadits yang diriwayatkan oleh banyak orang rawi dalam setiap tabaqah, sehingga mustahil mereka semua sepakat untuk berdusta.

Hadits Shahih: Hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh rawi yang adil dan memiliki tamam adh-Dhabt (hafalan yang hebat) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, sehingga tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.
I’dhal: Terputusnya rangkaian sanad hadits, dua orang atau lebih secara berurutan.

Idraj: Tambahan (sisipan) pada matan atau sanad hadits, yang bukan darinya.

Ihalah: Isyarat yang diberikan seorang mu’allif, berupa tempat yang perlu dirujuk berkaitan dengan hadits atau masalah bersangkutan.

Illat: Sebab yang samar yang terdapat di dalam hadits yang dapat merusak keshahihannya.

Inqitha’: Terputusnya rangkaian sanad. Dalam sanadnya terdapat inqitha’, artinya: dalam sanad itu ada rangkaian yang terputus.

Jahalah: Tidak diketahui secara pasti, yang berkaitan dengan identitas dan jati diri seorang rawi.

Jayyid: Baik

Layyin: Lemah

Lidzatihi: Pada dirinya (karena faktor internal). Misalnya: Shahih Lidzatihi, ialah hadits yang shahih berdasarkan persyaratan shahih yang ada di dalamnya, tanpa membutuhkan penguat atau faktor eksternal.

Lighairihi: Karena didukung yang lain (karena faktor eksternal). Misalnya: Shahih Lighairihi, ialah, hadits yang hakikatnya adalah hasan, dan karena didukung oleh hadits hasan yang lain, maka dia menjadi Shahih Lighairihi.

Majhul: Rawi yang tidak diriwayatkan darinya kecuali oleh seorang saja.

Majhul al-‘Adalah: Tidak diketahui kredibilitasnya.

Majhul al-‘Ain: Tidak diketahui identitasnya. Yaitu rawi yang tidak dikenal menuntut ilmu dan tidak dikenal oleh para ulama, bahkan termasuk di dalamnya adalah rawi yang tidak dikenal memiliki hadits kecuali dari seorang rawi.

Majhul al-Hal: Tidak diketahui jati dirinya.

Maqthu’: Riwayat yang disandarkan kepada tabi’in atau setelahnya, berupa ucapan, atau perbuatan, baik sanadnya bersambung atau tidak bersambung.

Marfu’: Yang disandarkan kepada Nabi baik ucapan, perbuatan, persetujuan (taqrir), atau sifat; baik sanadnya bersambung atau terputus.

Mauquf: (Riwayat) yang disandarkan kepada sahabat, baik perbuatan, ucapan atau taqrir. Atau, riwayat yang sanadnya hanya sampai kepada sahabat, dan tidak sampai kepada Nabi, baik sanadnya bersambung ataupun terputus.

Mu’allaq: (Hadits) yang sanadnya terbuang dari awal satu orang rawi atau lebih secara berturut-turut, bahkan sekalipun terbuang semuanya.

Mubham: Rawi yang tidak diketahui nama (identitas)nya.

Mudallis: Rawi yang melakukan tadlis.

Mu’dhal: Hadits yang di tengah sanadnya ada dua orang rawi atau lebih yang terbuang secara berturut-turut.

Munqathi’: Hadits yang di tengah sanadnya ada rawi yang terbuang, satu orang atau lebih, secara tidak berurutan.

Mursal: (Hadits) yang sanadnya terbuang dari akhir sanadnya, sebelum tabi’in. Gambarannya, adalah apabila seorang tabi’in mengatakan,”Rasulullah bersabda,…” atau “Adalah Rasulullah melakukan ini dan itu…”.

Musnad: Hadits yang sanadnya bersambung dari awal sampai akhir.

Mutaba’ah: Hadits yang para perawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadits gharib, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari seorang sahabat yang sama.

Nakarah: Makna hadits yang bertentangan dengan makna riwayat yang lebih kuat. Bila dikatakan,”Dalam hadits tersebut terdapat “nakarah” artinya, di dalamnya terdapat penggalan kalimat atau kata yang maknanya bertentangan dengan riwayat yang shahih.

Rawi La Ba’sa Bihi (tidak mengapa): Rawi yang masuk dalam kategori tsiqah.

Rawi Matsur: Sama dengan Majhul al- Hal (Rawi yang tidak diketahui jati dirinya).

Rawi Matruk: Rawi yang dituduh berdusta, atau rawi yang banyak melakukan kekeliruan (sehingga riwayat riwayatnya bertentangan dengan riwayat riwayat rawi yang tsiqah, atau rawi yang seringkali meriwayatkan hadits-hadits yang tidak dikenal dari rawi-rawi yang terkenal tsiqah. Kadang-kadang diungkapkan dengan, haditsnya matruk.

Rawi Mudhtharib: Rawi yang menyampaikan riwayat secara tidak akurat, di mana riwayat yang disampaikannya kepada rawi-rawi di bawahnya berbeda antara yang satu dengan lainnya, yang menyebabkan tidak dapat ditarjih; riwayat siapa yang mahfuzh (terjaga).

Rawi Mukhtalith: Rawi yang akalnya terganggu, yang menyebabkan hafalannya menjadi campur aduk dan ucapannya menjadi tidak teratur.

Rawi yang tidak dijadukan sebagai hujjah: Rawi yang haditsnya diriwayatkan dan ditulis tapi haditsnya tersebut tidak bisa dijadikan sebagai dalil hujjah.

Saqith: Tidak berharga karena terlalu lemah (parahnya illat yang ada di dalamnya).

Syadz: Apa yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang pada hakikatnya kredibel, tetapi riwayatnya tersebut bertentangan dengan riwayat rawi yang lebih utama dan lebih kredibel dari dirinya. Lawan dari syadz adalah rajih (yang lebih kuat) dan sering diistilahkan dengan mahfuzh (terjaga).

Syahid: Hadits yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadits, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari sahabat yang berbeda.

Syawahid: Hadits-hadits pendukung, jamak dari kata syahid. Haditsnya layak dalam kapasitas syawahid, artinya, dapat diterima apabila ada hadits lain yang memperkuatnya, atau sebagai yang menguatkan hadits lain yang sederajat dengannya.
Tadh’if: Pernyataan bahwa hadits atau rawi bersangkutan dha’if (lemah).

Tadlis: Menyembunyikan cela (cacat) yang terdapat di dalam sanad hadits, dan membaguskannya secara zahir.

Tadlis at-Taswiyah ialah, seorang rawi meriwayatkan suatu hadits dari seorang rawi yang dha’if, yang menjadi perantara antara dua orang rawi tsiqah, di mana kedua orang yang tsiqah tersebut pernah bertemu (karena sempat hidup semasa), kemudian rawi (yang melakukan tadlis disebut mudallis) membuang atau menggugurkan rawi yang dha’if tersebut, dan menjadikan sanad hadits tersebut seakan antara dua orang yang tsiqah dan bersambung. Ini adalah jenis tadlis yang paling buruk. Dalam kitab ini seringkali muncul, fulan”melakukan tadlis bahkan tadlis taswiyah’, artinya rawi bersangkutan adalah seorang yang mudallis bahkan melakukan tadlis taswiyah.

Tahqiq: Penelitian secara seksama tentang suatu hadits, sehingga mencapai kebenaran yang paling tepat.

Tahsin: Pernyataan bahwa hadits bersangkutan adalah hasan.

Takhrij: Mengeluarkan suatu hadits dari sumber-sumbernya, berikut memberikan hukum atasnya; shahih atau dha’if.

Ta’liq: Komentar, atau penjelasan terhadap suatu potongan kalimat, atau derajat hadits dan sebagainya yang biasanya berbentuk catatan kaki.

Targhib: Anjuran, atau dorongan, atau balasan baik.

Tarhib: Ancaman, atau balasan buruk.

Tashhih: Pernyataan shahih.

Tsiqah: Kredibel, di mana pada diri seorang rawi terkumpul sifat al-Adalah dan adh-Dhabt (hafalan yang bagus).

Daftar Pustaka
 
  1. Ushul al-Hadits, Dr.Muhammad Ajjaj al-Khathib.
  2. Taisir Mushthalah al-Hadits, Dr.Mahmud ath-Thahhan.
  3. Manhaj an-Naqd Fi Ulum al-Hadits, Dr.Nuruddin Ithir.
  4. Ar-Ra’fu Wa at-Takmil Fi al-Jarhi Wa at-Ta’dil, Abul Hasanat Muhammad bin Abdul Hayyi al-Kanawi al-hindi.
  5. Taujih al-Qari’ Ila al-Qawa’id Wa al- Fawa’id al-Ushuliyah Wa al- Haditsiyah Wa al- Isnadiyah Fi Fath al-Bari, al-Hafizh Tsanallah az-Zahidi. 
  6. Program CD Harf-Musu’ah al-Hadits asy-Syarif (Ar-Rajihi).

Kamis, 26 April 2012

Kelahiranku Kehidupanku

video

saat ku dilahirkan tak ada apapun yang kubawa..
ketika ku dilahirkan tak ada harta, jabatan nan apapun kubawa..



kecuali..

ruhku telah bersaksi 
untuk berani mengabdi
mencari kebenaran hakiki
terus berjuang di jalan Ilahi

kelahiranku
bukanlah sekedar semu
namun ku kan hidup
mencari hidayah dan rahmat-Mu

selamanya...
dan akhirnya
ku kan pulang jua
kembali ke alam akhirat

Rabu, 25 April 2012

ISLAM dan ISLAMI


 "cantiknya Islam..
"manisnya akhlak Islami..


Ada di antara kita yang salah berfikir tentang apa yang disebut Islami.
Ketika seseorang berkunjung ke Jepang lalu melihat di sana se­galanya tampak teratur, antrian rapi, dan hal-hal lain yang dia­jarkan oleh Islam, serta merta ia mengatakan orang-orang Jepang itu Islami. Lebih Islami dari orang Islam. Dalam suatu pe­ngajian di perkumpulan mahasis­wa muslim Indonesia di Canber­ra, seorang ustadz yang baru datang dari Kalimantan dan pertamakali menginjakkan kaki di airport Sydney  lalu naik bis ke Canberra terkagum-kagum me­lihat jalan-jalan tampak rapi dan bersih.  Lalu lintas begitu teratur.  Ia melihat seuatu yang tak dijumpainya, baik di Banjarmasin maupun di Jakarta.  Serta merta ustadz itu, sambil mengisahkan dirinya yang kecopetan dan diperlakukan semena-mena oleh sopir metromini di Jakarta, me­ngatakan bahwa ia heran tidak menemukan Islam di Jakarta, malah menemukan Islam di Sydney.

Komentar dan kesimpulan seperti itu sepintas kelihatan be­nar. Namun kalau ditinjau lebih dalam akan kelihatan bahwa ke­simpulan seperti itu kurang tepat.  Kenapa demikian?  Apa yang di­maksud dengan perbuatan yang Islami? Apa kaitannya dengan sikap jiwa Islami? Tulisan ini akan menjelaskannya.

Perbuatan Islami ?

Kenapa manusia berbuat atau beraktivitas? 
Jawabannya adalah karena dia  ingin meme­nuhi kebutuhannya.  Manusia mi­num karena haus.  Ia makan ka­rena lapar. Ia mencari  nafkah untuk bisa membeli makanan dan minuman.Ia menikah agar syahwatnya tersalurkan. Ia mem­beli rumah untuk tempat ber­teduh dan berdiam bersama istri dan anak-anaknya.
Ia membeli baju bagus agar penampilannya tidak memalukan.  Ia naik bis dari Bogor ke Jakarta agar bisa cepat datang ke  kantornya.  Ia gemar membaca agar otaknya tidak "tulalit".  Ia selalu mengikuti be­rita agar tidak kekurangan infor­masi dan tidak bengong dalam diskusi. Ia selalu berolah raga agar badannya tetap segar dan fit.  Ia selalu bersikap tenang, penuh senyum, dan menjaga
pe­nampilan agar tetap berwibawa. Ia berdoa tatkala resah.  Ia sholat untuk mencari ketenangan.  Ia pergi haji ke Mekkah untuk mensucikan jiwa.

Kenapa haus, lapar, syah­wat, tidak memalukan, tetap ber­wibawa, ketenangan, mensuci­kan jiwa dan lain-lain merupakan kebutuhan manusia? Sebab di dalam diri manusia ada potensi hidup (thoqoh hayawiyah) yang berwujud pada kebutuhan jasma­ni (hajah udlwiyah) seperti lapar dan haus, dan kebutuhan-kebu­tuhan naluri (gharizah) seperti kebutuhan seksual, kebutuhan membela diri, menjaga martabat, menjaga kehormatan, dan kebu­tuhan beribadah.  Adanya kebu­tuhan-kebutuhan tersebut men­dorong orang berbuat untuk me­menuhinya.  Oleh karena itu, pada hakikatnya, perbuatan manusia (suluk) adalah aktivitas manusia  untuk memuaskan
ke­butuhan-kebuthannya baik yang bersifat kebutuhan jasmani mau­pun naluri.

Perbuatan seseorang dika­takan Islami manakala aktivitas yang dilakukannya dalam meme­nuhi kebutuhan-kebutuhan terse­but sesuai dengan ajaran Islam dan dia lakukan dengan kesa­daran menyesuaikan diri dengan syari'at agama Islam.

Dengan demikian masalah motivasi seseorang dalam ber­buat penting diperhatikan.  Ada­kalanya suatu perbuatan sama tampak luarnya, namun motiva­sinya berbeda.  
Suatu perbuatan dianggap baik oleh Islam, atau Islami, manakala dikerjakan sesuai de­ngan tata cara dan aturan Islam.

Allahu A'lam Bishshawwab

Senin, 23 April 2012

Waspada 'Benci dan Dengki'



"dengki dan benci ialah senang melihat orang lain susah"
n susah melihat orang lain senang"

"Janganlah kalian saling mendengki, saling menfitnah (untuk suatu persaingan yang tidak sehat), saling membenci, saling memusuhi dan jangan pula saling menelikung transaksi orang lain. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslimnya yang lain, ia tidak menzhaliminya, tidak mempermalukannya, tidak mendustakannya dan tidak pula melecehkannya. Takwa tempatnya adalah di sini -seraya Nabi SAW menunjuk ke dadanya tiga kali. Telah pantas seseorang disebut melakukan kejahatan, karena ia melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas sesama muslim yang lain adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya" 
(HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)


Di tengah hiruk pikuk zaman ini, dalam kehidupan sosial-politik dan tarik menarik kepentingan saat ini, sungguh kita patut merenungkan secara mendalam wasiat Nabi Muhammad SAW di atas. Kita sadar dan seluruh masyarakat dunia tahu, bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Bahkan Indonesia adalah negara muslim yang terbesar penduduknya di dunia. Tetapi mengapa dalam kehidupan sehari-hari, dalam hampir semua sektor kehidupan, khususnya dalam hubungan sosial, umat Islam Indonesia, termasuk sebagian kalangan penuntut ilmu, mempertontonkan akhlak yang justeru tidak Islami?

Jika didiagnosa dengan pendekatan iman, maka sebab dan sumber segala penyakit sosial umat adalah penyakit hati. Dan salah satu penyakit hati yang sangat ganas serta berbahaya bagi kesehatan hati adalah penyakit dengki. Bahayanya lagi, penyakit dengki ini tidak bekerja sendirian, tetapi -untuk memperparah penyakit hati yang diserangnya- ia melahirkan penyakit-penyakit turunan, sebagaimana disebutkan Nabi SAW di atas, yaitu saling menfitnah, saling membenci, saling memusuhi dan seterusnya.

Secara umum dengki atau iri hati bisa diartikan kebencian terhadap orang lain yang memiliki kenikmatan atau keutamaan yang melebihi dirinya.

Bahkan terkadang pula, sampai benci terhadap nikmat apapun yang diterima orang lain, meskipun dirinya memiliki kenikmatan tersebut, bahkan lebih banyak. Misal, dengki kepada kawan yang baru naik jabatan, dengki kepada tetangga yang baru saja beli mobil, dengki kepada saudara yang semua anaknya sarjana dan berpenghasilan tinggi dst. Kehidupan modern yang serba materialistis saat ini, -di mana segala sesuatu, hingga keberhasilan, diukur dengan uang dan materi- lebih berpeluang untuk membuka 'kran hati' untuk saling mendengki.

MACAM-MACAM BENCI DAN DENGKI

 
Pertama, ada pendengki yang berusaha menghilangkan nikmat yang diperoleh orang yang didengkinya, dengan ucapan seperti fitnah dan perbuatan, meskipun dia tidak mengharapkan nikmat tersebut pindah kepada dirinya.

Kedua, ada pendengki yang selain berusaha menghilangkan nikmat dari orang yang didengkinya, ia juga berusaha memindahkan nikmat tersebut kepada dirinya. Kedua macam dengki tersebut adalah dengki yang sangat tercela. Dan dosa dengki itulah yang merupakan dosa iblis. Iblis dengki kepada Adam karena Allah memberi keutamaan kepada Adam atas segenap malaikat dengan menyuruh para malaikat sujud (sebagai penghormatan) kepada Adam, mengajarkannya nama segala sesuatu dan menempatkannya di Surga. Demikianlah lalu iblis dengan kedengkiannya berusaha mengeluarkan Adam dari Surga.

Ketiga, ada orang yang bila mendengki orang lain, ia tidak melanjutkan dengki itu dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Dan demikian itulah tabiat yang sekaligus kelemahan manusia; hampir selalu menginginkan memiliki apa yang dimiliki orang lain. Menurut riwayat dari Al-Hasan, selama tidak dibuktikan dengan ucapan dan perbuatan, iri hati jenis ini tidak berdosa. Namun tentu, sebaiknya ia hilangkan perasaan dengki dan iri tersebut dari dalam hatinya, hingga tidak menjadi penyakit.

SEBAB-SEBAB BENCI DAN DENGKI

Pertama: Karena kecintaan kepada dunia
 
Rasa dengki pada dasarnya tidak timbul kecuali karena kecintaan kepada dunia. Dan dengki biasanya banyak terjadi di antara orang-orang terdekat; antarkeluarga, antarteman sejawat, antartetangga dan orang-orang yang berdekatan lainnya. Sebab rasa dengki itu timbul karena saling berebut pada satu tujuan. Dan itu tak akan terjadi pada orang-orang yang saling berjauhan, karena pada keduanya tidak ada ikatan sama sekali. Jika dikaitkan dengan teori-teori sosial, maka faktor timbulnya rasa dengki juga hampir sama dengan faktor timbulnya konflik. Menurut teori konflik, konflik hanya terjadi pada orang-orang yang saling berdekatan, baik dalam hal pekerjaan, jabatan, kekeluargaan dan sebagainya.

Berbeda dengan pecinta dunia, orang-orang yang mencintai akhirat, yang mencintai untuk mengetahui Allah, malaikat, nabi-nabi dan kerajaanNya di langit maupun di bumi maka mereka tidak akan dengki kepada orang yang mengetahui hal yang sama. Bahkan sebaliknya, mereka malah mencintai dan bergembira terhadap orang-orang yang mengetahuiNya. Karena maksud mereka adalah mengetahui Allah dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Dan karena itu, tidak ada kedengkian di antara mereka.

Kecintaan kepada dunia yang mengakibatkan dengki antarsesama disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya karena permusuhan. Ini adalah penyebab kedengkian yang paling parah. Ia tidak suka orang lain menerima nikmat, karena dia adalah musuhnya. Diusahakanlah agar jangan ada kebajikan pada orang tersebut. Bila musuhnya itu mendapat nikmat, hatinya menjadi sakit karena bertentangan dengan tujuannya. Permusuhan itu tidak saja terjadi antar orang yang sama kedudukannya, tetapi bisa juga terjadi antara atasan dan bawahannya. Sehingga sang bawahan, misalnya selalu berusaha menggoyang kekuasaan dan wibawa atasannya. Atau sebaliknya, sang atasan selalu menindas dan mendzalimi bawahannya.


Kedua: Adanya ta'azzuz (merasa paling mulia)

Ia keberatan bila ada orang lain melebihi dirinya. Ia takut bila koleganya mendapatkan kekuasaan, pengetahuan atau harta yang bisa mengungguli dirinya.

Ketiga: Sifat takabbur atau sombong
 
Ia memandang remeh orang lain dan karena itu dia ingin agar dipatuhi dan diikuti perintahnya. Ia takut bila orang lain memperoleh nikmat, berbalik dan tidak mau tunduk padanya. Termasuk dalam sebab ini adalah kedengkian orang-orang kafir Quraisy kepada Nabi SAW, yang seorang anak yatim tapi kemudian dipilih Allah untuk menerima wahyuNya. Kedengkian orang-orang kafir Quraisy itu dilukiskan Allah dalam firmanNya: "Dan mereka berkata:'Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekkah dan Thaif) ini?" (Az Zukhruf: 31) Maksudnya, orang-orang kafir Quraisy itu tidak keberatan mengikuti Muhammad, andai saja beliau itu keturunan orang besar, tidak dari anak yatim atau orang biasa.

Keempat: Merasa ta'ajub dan heran terhadap kehebatan dirinya

Hal ini sebagaimana yang biasa terjadi pada umat-umat terdahulu saat menerima dakwah para rasul Allah. Mereka heran manusia yang sama dengan dirinya, bahkan yang lebih rendah kedudukan sosialnya, lalu menyandang pangkat kerasulan, karena itu mereka mendengkinya dan berusaha menghilangkan pangkat kenabian tersebut, sehingga mereka berkata: "Adakah Allah mengutus manusia untuk menjadi Rasul?" (QS. Al Mu'minun: 34).

Allah menjawab keheranan mereka dengan firmanNya: "Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudaha-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?" (QS. Al A'raaf: 63)


Kelima: Takut mendapat saingan

Bila seseorang menginginkan atau mencintai sesuatu maka ia khawatir kalau mendapat saingan dari orang lain, sehingga tidak terkabullah apa yang ia inginkan. Karena itu, setiap kelebihan yang ada pada orang lain selalu ia tutup-tutupi.
Bila tidak, dan persaingan terjadi secara sportif, ia takut kalau dirinya tersaingi dan kalah.

Dalam hal ini bisa kita misalkan dengan apa yang terjadi antardua wanita yang memperebutkan seorang calon suami, atau sebaliknya. Atau sesama murid di hadapan gurunya, seorang alim dengan alim lainnya untuk mendapatkan pengikut yang lebih banyak dari lainnya, dsb.

Keenam: Sifat ambisius nan rakus dalam hal kepemimpinan (hubbur riyasah)

Hubbur riyasah dengan hubbul jah (senang pangkat-kedudukan) adalah saling berkaitan. Ia tidak menoleh terhadap kelemahan dirinya, seolah-olah dirinya tak ada tolok bandingnya. Jika ada orang di pojok dunia yang ingin menandinginya, tentu itu menyakitkan hatinya, ia akan mendengkinya dan menginginkan lebih baik orang itu mati saja atau paling tidak hilang pengaruhnya.

Ketujuh: Adanya kekikiran dalam hal kebaikan terhadap sesama hamba Allah

Ia gembira jika disampaikan kabar padanya bahwa si fulan tidak berhasil dalam usahanya. Sebaliknya, ia merasa sedih jika diberitakan, si fulan telah berhasil mencapai kesuksesan dan kepangkatan yang dicarinya. Orang semacam ini senang bila orang lain terbelakang dari dirinya, seakan-akan orang lain itu mengambil dari milik dan simpanannya. Ia ingin meskipun nikmat itu tidak jatuh pada dirinya sendiri, agar ia tidak jatuh pada orang lain. Ia tidak saja kikir dengan hartanya sendiri, tetapi kikir dengan harta orang lain. Ia tidak rela Allah memberi nikmat kepada orang lain. Dan inilah sebab kedengkian yang banyak terjadi. Selain hal-hal di atas, mungkin masih ada sebab-sebab kedengkian lain, tapi paling tidak, inilah sebab yang banyak terjadi.

CARA MENGOBATI 
BENCI DAN DENGKI

Hasad atau dengki adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Dan hati tidak bisa diobati kecuali dengan ilmu dan amal. Ilmu tentang dengki yaitu hendaknya kita ketahui tentang hakekat hasad yang sangat membahayakan kita, baik dalam hal agama maupun dunia.

Kedengkian itu setitikpun tidak membahayakan orang yang kita dengki, baik dalam hal agama maupun dunianya, bahkan ia malah memetik manfaat darinya. Dan nikmat itu tidak akan hilang dari orang yang kita dengki hanya karena kedengkian kita. Bahkan seandainya ada orang yang tidak beriman kepada hari Kebangkitan, tentu lebih baik baginya meninggalkan sifat dengki daripada harus menanggung sakit hati yang berkepanjangan dengan tiada manfaat sama sekali, apatah lagi jika kemudian siksa akhirat yang sangat pedih menanti?

Bahkan kemenangan itu ada pada orang yang didengki, baik untuk agama maupun dunia. Dalam hal agama, orang itu teraniaya oleh si pendengki, apalagi jika kedengkian itu tercermin dalam kata-kata, umpatan, penyebaran rahasia, kejelekan, fitnah dsb. Dan balasan itu akan dijumpainya di akhirat. Adapun manfaatnya di dunia, orang pendengki itu tujuannya yang terpenting ialah kesusahan orang yang didengkinya.

Kegembiraan orang yang didengki adalah kesedihan pendengki, dan itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap kehidupan orang yang didengki.

Terapi amal untuk menghilangkan sifat dengki yaitu: 
  1. Hendaknya kita melakukan apa yang merupakan lawan dari kedengkian. Misalnya, jika kita merasakan telah timbul iri hati kepada perbuatan seseorang, hendaknya kita berusaha memuji perbuatan baiknya 
  2. Jika jiwa ingin sombong, hendaknya kita melawannya dengan rendah hati 
  3. Jika dalam hati kita terbetik keinginan menahan nikmat orang lain maka kita harus berusaha menambahkan nikmat itu untuknya. Jangan sampai rasa iri itu kita beri kesempatan tumbuh dalam hati kita. Kita harus berusaha menghilangkannya. Kita mesti cepat-cepat menggerojok orang yang kita dengki itu dengan berbagai bentuk kebaikan, mendoakannya, menyiarkan keutamaan-keutamaannya dst. Sampai orang yang kita dengki itu menjadi saudara muslim yang kita cintai, sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Sulit memang, tetapi kita harus usahakan, bila ingin bebas dari sifat dengki dan iri hati.
 
Akhirnya mari kita renungkan kata-kata Ibnu Sirin: 
'Saya tidak pernah mendengki kepada seorangpun dalam urusan dunia, sebab jika dia penduduk Surga maka bagaimana aku menghasudnya dalam urusan dunia sedangkan dia berjalan menuju Surga. 
Dan jika dia penduduk Neraka, bagaimana mungkin aku menghasud dalam urusan dunianya sementara dia sedang berjalan menuju ke neraka.'
Rasulullah SAW bersabda:"Jauhilah dengki, karena dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api makan kayu bakar."
(HR. Abu Daud) 

"cintailah saudara saudari kita, berikanlah senyummu untuk mereka . . .
 

Rabu, 18 April 2012

Tangisan Hati . .

"Sahabat, mengapa termenung...
"Usah lara kau simpan sendiri...
"Cobalah ungkapkan padaku...
"Agar dapat meringankan bebanmu...



Sahabat, ingatlah firman Allah SWT, bacalah dengan seksama :

... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.
 
(QS. Al-Baqarah: 216) 

Laa Tahzan Innalloha Ma'anaa

 Setiap masalah selalu pasti akan ada solusinya, tetaplah setia terhadap Al-Qur'an dan Sunnah

Jangan tinggalkan Dia Sang Pemilik Cinta, Sang Pencipta Seluruh Jagat Raya

Allah SWT adalah yang maha membolak-balikkan hati, 
"Ya Robbanaa teguhkanlah hati kami selalu di jalanMu
hingga ajal menjembut

" TETAPI,, JANGAN BERHENTI LANGKAHKAN KAKI "

Senin, 16 April 2012

Ujian Nasional... "aku atuutt..."

UJIAN NASIONAL... DIRIKU DATANG....
TUNGGU AKU YACH.... AKU BISA... AKU BISZA... insya Allah AKU BISZA GITU LOCH...



TIPS OR CARANYA GAR BERHASIL UN BUAT KAMU...

1. jangan takutt,
2. tak lupa belajar slalu,
3. latihan juga yuuk, 
4. optimis dunk, 
5. istirahat yg cukuup,
6. do'a n ibadah tetep rajin hingga jika mata qt dah tertutup,
7. and pasrahkan hasil kepada Allah SWT selalu...

UJIAN NASIONAL AKU DATAAAAAAAAAAANGG...!!
" TUNGGU AKSI CERDASKU TUK JUJUR SELALU..."


Senin, 09 April 2012

"Menikah..Capa Takutt"

...walau sedetik sebelum IJAB QABUL, 
si dia masih HARAM bagimu...

(: WASPADALAAH :)


"suami berkata : ini istriku... sang istripun berkata: ini suamiku..."

Don't Berlebihan

"DUNIA INI PENTINGG...!!
AKHIRAT JUGA SANGAT PENTING..!!
DUNIA TAK BOLEH DITINGGALKAN DAN DIBIARKAN BEGITU SAJA..."



WALO KAU BAHAGIA DI DUNIA, 
PANJANG USIA DI DUNIA, 
KAYA RAYA DI DUNIA, 
" BELUM TENTU DI AKHIRAT SELAMAT 
JIKA TAK B'IMAN TAK B'TAQWA 
HINGGA AKHIR HAYAT "



Tawazun artinya seimbang. Allah telah mengisyaratkan agar kita hidup seimbang, sebagaimana Allah telah menjadikan alam beserta isinya berada dalam sebuah keseimbangan. (QS.67:3)


            Manusia dan agama Islam kedua-duanya merupakan ciptaan Allah yang sesuai dengan fitrah yang telah Allah tetapkan. Mustahil Allah menciptakan agama Islam untuk manusia yang tidak sesuai dengan fitrah tersebut (QS.30:30). Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa manusia itu diciptakan sesuai dengan fitrah Allah yaitu memilki naluri beragama (agama tauhid : al-Islam) dan Allah menghendaki manusia untuk tetap dalam fitrah itu. Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid, itu hanyalah karena pengaruh lingkungan (Hadits,”Tiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah (Islam) orangtuanyalah yang menjadikan ia sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”).


            Sesuai dengan fitrah Allah,manusia memiliki tiga potensi, yaitu al-jasad (jasmani), al-aql (akal), dan ar-ruh (ruhani). Islam menghendaki ketiga dimensi tersebut berada dalam keadaan tawazun (seimbang). Perintah untuk menegakkan neraca keseimbangan ini dapat dilihat pada QS.55:7-9.


            Ketiga potensi ini membutuhkan makanannya masing-masing, yaitu :

1. Jasmani
            Jasmani atau fisik adalah amanah dari Allah swt,karena itu harus kita jaga . Dalam sebuah hadits dikatakan ,”Mu’min yang kuat itu lebih baik atau disukai Allah daripada mu’min yang lemah.”(HR.Muslim), maka jasmani pun harus dipenuhi kebutuhannya agar menjadi kuat. Kebutuhannya adalah makanan, yaitu makanan yang halalan thoyyiban (halal dan baik) (QS.80:24,2:168), beristirahat (QS.78:9), kebutuhan biologis (QS.30:20-21) dan hal-hal lain yang menjadikan jasmani kuat.

2. Akal
            Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal. Akal pulalah yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal manusia mampu mengenali hakikat sesuatu, mencegahnya dari kejahatan dan perbuatan jelek. Membantunya dalam memanfaatkan kekayaan alam yang oleh Allah diperuntukkan baginya supaya manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifatullah fil-ardhi (wakil Allah di atas bumi) (QS.2:30;33:72). Kebutuhan akal adalah ilmu (QS.3:190) untuk pemenuhan sarana kehidupannya.

3. Ruh (hati)     
            Kebutuhannya adalah dzikrullah (QS.13:28;62:9-10). Pemenuhan kebutuhan ruhani sangat penting, agar ruh/jiwa tetap memiliki semangat hidup, tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut jiwa akan mati dan tidak sanggup mengemban amanah besar yang dilimpahkan kepadanya.


            Dengan keseimbangan, manusia dapat meraih kebahagiaan hakiki yang merupakan ni’mat Allah, karena pelaksanaan syariah sesuai dengan fitrahnya. Untuk skala ketawazunan akan menempatkan umat Islam menjadi umat pertengahan / ummatan wasathon (QS.2:143), yaitu umat yang seimbang.

Kebahagiaan pada diri manusia itu dapat berupa:
·         Kebahagiaan bathin/jiwa, dalam bentuk ketenangan jiwa (QS.13:28)
·         Kebahagiaan dzahir/gerak, dalam bentuk kesetabilan, ketenangan ibadah, bekerja dan aktivitas lainnya.
            Dengan menyeimbangkan dirinya, maka manusia tersebut tergolong sebagai hamba yang pandai mensyukuri ni’mat Allah. Hamba/manusia seperti inilah yang disebut manusia seutuhnya.

Contoh-contoh manusia yang tidak tawazun
·         Manusia Atheis: tidak mengakui Allah, hanya bersandar pada akal (rasio sebagai dasar).
·         Manusia Materialis: mementingkan masalah jasmani/materi saja.
·         Manusia Pantheis (kebatinan): bersandar pada hati/batinnya saja.


Bagaimanakah Pendapat Anda tentang Fakta berikut ??

1.   Banyak artis yang hidup dengan kemewahan, namun akhirnya dia mati bunuh diri akibat over dosis obat-obatan terlarang (NAZA). Menurut kamu, apa sebenarnya arti kebahagiaan itu?
2.     Sejujurnya, apakah kamu selama ini sudah hidup seimbang?


Minggu, 08 April 2012

Kehidupan 'Aisyah Ra

BIDADARI SURGA ITU BERNAMA 
'AISYAH

Di tengah maraknya 'tokoh idola' para artis saat ini, hendaknya kita menyadari bahwa sejak ribuan tahun yang lalu kita telah mempunyai teladan terhebat sepanjang sejarah.Baik bagi laki-laki maupun wanita, adapun bagi wanita diantaranya adalah tokoh tercantik nan cerdas 'Aisyah radhiyallahu 'anha, sosok yang sangat istimewa nan mulia bagai bidadari surga yang hadir di dunia.

Beliau adalah Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah binti Abu Bakr, Shiddiqqah binti Shiddiqul Akbar, istri tercinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lahir empat tahun setelah diangkatnya Muhammad menjadi seorang Nabi. Ibu beliau bernama Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams bin Kinanah yang meninggal dunia pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup yaitu tepatnya pada tahun ke-6 H.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah dua tahun sebelum hijrah melalui sebuah ikatan suci yang mengukuhkan gelar Aisyah menjadi ummul mukminin, tatkala itu Aisyah masih berumur enam tahun. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun rumah tangga dengannya setelah berhijrah, tepatnya pada bulan Syawwal tahun ke-2 Hijriah dan ia sudah berumur sembilan tahun. Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pasca meninggalnya Khadijah sedang aku masih berumur enam tahun, dan aku dipertemukan dengan Beliau tatkala aku berumur sembilan tahun. Para wanita datang kepadaku padahal aku sedang asyik bermain ayunan dan rambutku terurai panjang, lalu mereka menghiasiku dan mempertemukan aku dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Abu Dawud: 9435). Kemudian biduk rumah tangga itu berlangsung dalam suka dan duka selama 8 tahun 5 bulan, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia pada tahun 11 H. Sedang Aisyah baru berumur 18 tahun.
'Aisyah adalah seorang wanita berparas cantik berkulit putih, sebab itulah ia sering dipanggil dengan “Humaira”. Selain cantik, ia juga dikenal sebagai seorang wanita cerdas yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkannya untuk menjaid pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau. Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) gambar Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, “Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat.” (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041))
Selain menjadi seorang pendamping setiap yang selalu siap memberi dorongan dan motivasi kepada suami tercinta di tengah beratnya medan dakwah dan permusuhan dari kaumnya, Aisyah juga tampil menjadi seorang penuntut ilmu yang senantiasa belajar dalam madrasah nubuwwah di mana beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya. Beliau tercatat termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu di antaranya ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab. Setidaknya sebanyak 1.210 hadits yang beliau riwayatkan telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dan 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sehingga pembesar para sahabat kibar tatkala mereka mendapatkan permasalahan mereka datang dan merujuk kepada ibunda Aisyah.

Kedudukan Aisyah di Sisi Rasulullah

Suatu hari orang-orang Habasyah masuk masjid dan menunjukkan atraksi permainan di dalam masjid, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Aisyah, “Wahai Humaira, apakah engkau mau melihat mereka?” Aisyah menjawab, “Iya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan pintu, lalu aku datang dan aku letakkan daguku pada pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tempelkan wajahku pada pipi beliau.” Lalu ia mengatakan, “Di antara perkataan mereka tatkala itu adalah, ‘Abul Qasim adalah seorang yang baik’.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Ia menjawab: “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah.” Maka beliau pun tetap berdiri. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi pertanyaannya, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Namun, Aisyah tetap menjawab, “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aisyah mengatakan, “Sebenarnya bukan karena aku senang melihat permainan mereka, tetapi aku hanya ingin memperlihatkan kepada para wanita bagaimana kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapku dan kedudukanku terhadapnya.” (HR. An-Nasa’i (5/307), lihat Ash Shahihah (3277))

Canda Nabi kepada Aisyah

Aisyah bercerita, “Suatu waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk menemuiku sedang aku tengah bermain-main dengan gadis-gadis kecil.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apa ini wahai Aisyah.” Lalu aku katakan, “Itu adalah kuda Nabi Sulaiman yang memiliki sayap.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa. (HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat (8/68), lihat Shahih Ibnu Hibban (13/174))
Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah dan Aisyah menang. Aisyah bercerita, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku gemuk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan, “Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu’.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 23/47), lihat Al-Misykah (2.238))

Keutamaan-keutamaan Aisyah

Banyak sekali keutamaan yang dimiliki oleh Ibunda Aisyah, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam sabdanya:
“Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imron dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan Aisyah atas semua wanita sepeerti keutamaan tsarid atas segala makanan.” (HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))
Beberapa kemuliaan itu di antaranya:

Pertama: Beliau adalah satu-satunya istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinikahi tatkala gadis, berbeda dengan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain karena mereka dinikahi tatkala janda.
Aisyah sendiri pernah mengatakan, “Aku telah diberi sembilan perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun setelah Maryam. Jibril telah menunjukkan gambarku tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah untuk menikahiku, beliau menikahiku tatkala aku masih gadis dan tidaklah beliau menikahi seorang gadis kecuali diriku, beliau meninggal dunia sedang kepalanya berada dalam dekapanku serta beliau dikuburkan di rumahku, para malaikat menaungi rumahku, Al-Quran turun sedang aku dan beliau berada dalam satu selimut, aku adalah putri kekasih dan sahabat terdekatnhya, pembelaan kesucianku turun dari atas langit, aku dilhairkan dari dua orang tua yang baik, aku dijanjikan dengna ampunan dan rezeki yang mulia.” (Lihat al-Hujjah Fi Bayan Mahajjah (2/398))
Kedua: Beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan wanita.
Suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab, “Bapaknya.” (HR. Bukhari (3662) dan Muslim (2384))
Maka pantaskah kita membenci apalagi mencela orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!! Mencela Aisyah berarti mencela, menyakiti hati, dan mencoreng kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Na’udzubillah.
Ketiga: Aisyah adalah wanita yang paling alim daripada wanita lainnya.
Berkata az-Zuhri, “Apabila ilmu Aisyah dikumpulkan dengna ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu Aisyah lebih utama.” (Lihat Al-Mustadrak Imam Hakim (4/11))
Berkata Atha’, “Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat-pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.” (Lihat al-Mustadrok Imam Hakim (4/11))
Berkata Ibnu Abdil Barr, “Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki kelebihan dalam tiga bidang ilmu: ilmu fiqih, ilmu kesehetan, dan ilmu syair.”
Keempat: Para pembesar sahabat apabila menjumpai ketidakpahaman dalam masalah agama, maka mereka datang kepada Aisyah dan menanyakannya hingga Aisyah menyebutkan jawabannya.
Berkata Abu Musa al-Asy’ari, “Tidaklah kami kebingungan tentang suatu hadits lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan jawaban dari sisinya.” (Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3044))
Kelima: Tatkala istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi pilihan untuk tetap bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengna kehidupan apa adanya, atau diceraikan dan akan mendapatkan dunia, maka Aisyah adalah orang pertama yang menyatakan tetap bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimanapun kondisi beliau sehingga istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain mengikuti pilihan-pilihannya.
Keenam: Syari’at tayammum disyari’atkan karena sebab beliau, yaitu tatkala manusia mencarikan kalungnya yang hilang di suatu tempat hingga datang waktu Shalat namun mereka tidak menjumpai air hingga disyari’atkanlah tayammum.
Berkata Usaid bin Khudair, “Itu adalah awal keberkahan bagi kalian wahai keluarga Abu Bakr.” (HR. Bukhari (334))
Ketujuh: Aisyah adalah wanita yang dibela kesuciannya dari langit ketujuh.
Prahara tuduhan zina yang dilontarkan orang-orang munafik untuk menjatuhkan martabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat istri beliau telah tumbang dengan turunnya 16 ayat secara berurutan yang akan senantiasa dibaca hingga hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala mempersaksikan kesucian Aisyah dan menjanjikannya dengan ampunan dan rezeki yang baik.
Namun, karena ketawadhu’annya (kerendahan hatinya), Aisyah mengatakan, “Sesungguhnya perkara yang menimpaku atas diriku itu lebih hina bila sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tetnangku melalui wahyu yang akan senantiasa dibaca.” (HR. Bukhari (4141))
Oleh karenanya, apabila Masruq meriwayatkan hadits dari Aisyah, beliau selalu mengatakan, “Telah bercerita kepadaku Shiddiqoh binti Shiddiq, wanita yang suci dan disucikan.”
Kedelapan: Barang siapa yang menuduh beliau telah berzina maka dia kafir, karena Al-Quran telah turun dan menyucikan dirinya, berbeda dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.
Kesembilan: Dengan sebab beliau Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan hukuman cambuk bagi orang yang menuduh wanita muhShanat (yang menjaga diri) berzina, tanpa bukti yang dibenarkan syari’at.
Kesepuluh: Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, Beliau memilih tinggal di rumah Aisyah dan akhirnya Beliau pun meninggal dunia dalam dekapan Aisyah.
Berkata Abu Wafa’ Ibnu Aqil, “Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk tinggal di rumah Aisyah tatkala sakit dan memilih bapaknya (Abu Bakr) untuk menggantikannya mengimami manusia, namun mengapa keutamaan agung semacam ini bisa terlupakan oleh hati orang-orang Rafidhah padahal hampir-hampir saja keutamaan ini tidak luput sampaipun oleh binatang, bagaimana dengan mereka…?!!”
Aisyah meninggal dunia di Madinah malam selasa tanggal 17 Ramadhan 57 H, pada masa pemerintahan Muawiyah, di usianya yang ke 65 tahun, setelah berwasiat untuk dishalati oleh Abu Hurairah dan dikuburkan di pekuburan Baqi pada malam itu juga. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai Aisyah dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Aamiin.

Mutiara Teladan
Beberapa teladan yang telah dicontohkan Aisyah kepada kita di antaranya:
  1. Perlakuan baik seorang istri dapat membekas pada diri suami dan hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang suami yang akan selalu ia kenang hingga ajal menjemputnya.
  2. Hendaklah para wanita menjaga mahkota dan kesuciannya, karena kecantikan dan keelokan itu adalah amanah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus senantiasa ia jaga dan tidaklah boleh dia peruntukkan kecuali kepada yang berhak atasnya.
  3. Hendaklah para istri mereka belajar dan mencontoh keShalihan suaminya. Istri, pada hakikatnya adalah pemimpin yang di tangannya ada tanggung jawab besar tentang pendidikan anak dan akhlaknya, karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Wallahu A’lam Bishshawab