“Dan hendaklah takut (kepada Allah SWT ) orang-orang yang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.

Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar
(QS. An-Nisa’ : 9)

Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia pulang

(HR. Tirmidzi)

AJF

AJF
"DALAM KEBERSAMAAN KITA ADA KEMUDAHAN. . . DALAM KEMUDAHAN ADA KEBERHASILAN & DALAM KEBERHASILAN AKAN LAHIR KEBAHAGIAN" " M A R I JALIN UKHUWAH. . . INDAHKAN DUNIA DENGAN KEBAIKAN. . . " SATUKAN TEKAD RAIHLAH IMPIAN KITA. . . S E L A M A - L A M A N Y A "

Senin, 31 Oktober 2011

Ya'juj dan Ma'juj

Dari Anas r.a. berkata: Seorang Arab bertanya kepada Rasulullah SAW, "Kapankah hari kiamat datang?" Rasulullah SAW menjawab, "Apakah bekalmu untuk menghadapinya?" Ia menjawabnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka Rasulullah saw bersabda, "Engkau akan berkumpul dengan orang yang engkau cintai." (Bukhari - Muslim)

Di antara tanda Kiamat Kubra adalah keluarnya Ya`juj Ma`juj dari kurungannya. Keluarnya mereka sebagai tanda Kiamat Kubra wajib kita imani karena dalil-dalil telah menetapkannya. 
Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman:
“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari Berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata), ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim’.” 
Al-Anbiya`: (96-97)
Keluarnya mereka adalah keburukan yang dekat yang telah diperingatkan oleh Rasulullah. Dari Zainab binti Jahsy bahwa Nabi datang kepadanya dengan tergopoh-gopoh. Beliau bersabda :
Laa ilaha illallah, celaka orang-orang Arab dari keburukan yang telah dekat. Pada hari ini benteng Ya`juj Ma`juj dibuka seperti ini. Rasulullah melingkarkan ibu jarinya dengan jari telunjuknya.”Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1341; Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1987). (Muttafaq alaihi,
Dalam surat al-Kahfi ayat 94-98. Allah menjelaskan bahwa Ya`juj Ma`juj dikurung oleh Dzulkarnain dengan baja, karena mereka berbuat kerusakan di bumi sehingga mereka tidak keluar darinya sampai tiba saatnya janji Allah.
Mereka keluar setelah Isa turun dan membunuh Dajjal. Keluarnya mereka dari kurungan memiliki cerita tersendiri yang disebutkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam hadits no. 3153 dan Ibnu Majah no. 4131 dari Abu Hurairah, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 1735. Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda :
“Sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj membongkarnya setiap hari, sampai ketika mereka hampir melihat cahaya matahari. Pemimpin mereka berkata, ‘Kalian pulanglah, kita teruskan besok’. Lalu Allah mengembalikannya lebih kuat dari sebelumnya. Hingga ketika masa mereka telah tiba dan Allah ingin mengeluarkan mereka kepada ma-nusia, mereka menggali, ketika mereka hampir melihat cahaya ma-tahari, pemimpin mereka berkata, ‘Kalian pulanglah, kita teruskan besok, insya Allah Subhanahu Wata’ala’. Mereka mengucapkan insya Allah. Mereka kembali ke tempat mereka menggali, mereka mendapatkan galian da-lam keadaan seperti kemarin. Sehingga mereka (berhasil) menggali dan keluar kepada manusia. Mereka meminum air sampai kering dan orang-orang berlindung di benteng mereka. Lalu mereka me-lemparkan panah-panah mereka ke langit, dan ia kembali dengan berlumuran darah. Mereka berkata, ‘Kita telah mengalahkan pendu-duk bumi dan mengungguli penghuni langit’.”

Siapakah Ya'juj dan Ma'juj ?
Nama Ya`juj Ma`juj, ada yang berkata, ia bukan nama Arab. Ada yang berkata, ia adalah nama Arab, diambil dari أَجِيْجُ النَّارِ yang berarti bergolaknya api, atau dari اَلْأَجُّ yang berarti lari cepat. Apapun itu, begitulah nama mereka yang tercantum di dalam al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi. Mereka adalah sekelompok umat dari Bani Adam, jumlah mereka sangatlah besar.
Mengenai ciri-ciri mereka, terdapat sebuah hadits di Musnad Imam Ahmad (5/271), al-Haitsami dalam Majmu’ az-Zawa`id (8/9) berkata tentangnya, “Rawi-rawinya adalah rawi-rawi ash-Shahih.” Hadits tersebut menjelaskan bahwa mereka berwajah lebar seperti tameng yang menonjol dengan rambut merah kecoklatan, mata sipit, datang dengan cepat dari tempat yang tinggi.

Rasulullah SAW bersabda  :
“Ketika Isa dalam kondisi demikian, Allah mewahyukan kepada Isa bin Maryam, ‘Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hambaKu, tak seorang pun mampu memerangi mereka, maka bawalah hamba-hambaKu berlindung di ath-Thur’. Lalu Allah mengeluarkan Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka mengalir dari segala penjuru. Rom-bongan pertama melewati danau Thabariyah dan meminum airnya. Rombongan terakhir menyusul sementara air danau telah menge-ring, mereka berkata, ‘Sepertinya dulu di sini pernah ada air’. Nabi Isa ‘Alaihissalam dan teman-temannya dikepung sehingga kepala sapi bagi mereka lebih berharga daripada 100 dinar bagi kalian sekarang ini, lalu Nabi Isa ‘Alaihissalam dan kawan-kawan berdoa kepada Allah. Lalu Allah mengirim ulat di leher Ya`juj dan Ma`juj, maka mereka mati bergelimpangan seketika seperti matinya satu jiwa. Kemudian Allah menurunkan Nabi Isa dan kawan-kawannya ke bumi, maka tidak ada sejengkal tempat pun di bumi kecuali dipenuhi oleh bau busuk mereka (Ya`juj dan Ma`juj). Lalu Nabiyullah Isa ‘Alaihissalam dan teman-temannya berdoa kepada Allah, kemudian Allah menurunkan hujan deras yang mengguyur seluruh rumah, baik yang terbuat dari tanah atau kain (tenda). Hujan itu membasuh bumi sehingga ia seperti cermin yang berkilauan.” (Mukhtashar Shahih Muslim, no. 2048).

Sahabat, iman kepada tanda-tanda Hari Kiamat secara umum, Dajjal, Ya`juj, dan Ma`juj secara khusus termasuk beriman kepada perkara ghaib yang merupakan inti daripada iman itu sendiri. Di sinilah letak ujiannya. Kalau beriman kepada sesuatu yang riil dilihat dan disaksikan maka ia tidak bernilai ujian apa pun.Mudah-mudahan kita semua termasuk hamba Alloh SWT yang benar-benar beriman dan bertaqwa kepadaNya sehingga dapat selamat di dunia dan akhirat, insya Alloh.

Wallohu A'lam Bishshowab

Minggu, 30 Oktober 2011

Tahfidzul Qur'an


KEUTAMAAN MENGHAFAL AL-QUR’AN


Tahukah Anda pengertian Al-Qur'an ?
Apakah Anda mempunyai Al-Qur'an ?
Sudahkah Anda mampu membaca Al-Qur'an ? 
Kapankah terakhir kali Anda membaca Al-Qur'an ?
Sudah berapa surat atau ayat Al-Qur'an yang Anda hafal ?

Alloh SWT telah menjanjikan kelebihan kepada mereka yang menghafal al Quran seperti yang digambarkan di bawah.

1.MEREKA ADALAH KELUARGA ALLAH SWT.
Sabda Rasulullah s.a.w:
“Dari Anas ra. Ia berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia.” Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah s.a.w bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: “Iaitu ahli Quran (orang yang membaca atau menghafal Al- Quran dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.

2.DI TEMPATKAN SYURGA YANG PALING TINGGI
Sabda rasulullah s.a.w:
“Dari Abdullah Bin Amr Bin Al Ash ra dari nabi s.a.w, baginda bersabda; Diakhirat nanti para ahli Al Quran di perintahkan, “Bacalah dan naiklah kesyurga. Dan bacalah Al Quran dengan tartil seperti engkau membacanya dengan tartil pada waktu di dunia. Tempat tinggal mu di syurga berdasarkan ayat paling akhir yang engkau baca.”

3.AHLI AL QURAN ADALAH ORANG YANG BIJAKSANA DI SYURGA
Sabda rasulullah s.a.w “Dari  Anas ra. Bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda; “Para pembaca Al Quran itu adalah orang-orang yang arif di antara penghuni syurga,”

4.MENGHORMATI ORANG YANG MENGHAFAL AL QURAN BERERTI MENGAGUNGKAN ALLAH SWT.
Sabda rasulullah s..a.w  “Dari  Abu Musa Al Asya’ari ra.ia berkata bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Diantara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati Orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal Al-Quran yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan Al-Quran tidak di amalkan, serta menghormati kepada penguasa yang adil.”

5.HATI PENGHAFAL AL-QURAN TIDAK DI SIKSA
Sabda rasulullah s.a.w.
” Dari Abdullah Bin Mas’ud ra. Dari  nabi s.a.w. baginda bersabda: ” bacalah Al Quran kerana Allah tidak akan menyeksa hati orang yang hafal al-quran.
Sesungguhanya Al -Quran ini adalah hidangan Allah, siapa yang memasukkunya ia akan aman. Dan barangsiapa yang mencintai Al Quran maka hendaklah ia bergembira.”

6.MEREKA LEBIH BERHAK MENJADI IMAM DALAM SOLAT
Sabda rasulullah s.a.w. :
“Dari Ibnu Mas’ud ra. Dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda; “yang menjadi imam dalam solat suatu kaum hendaknya yang paling pandai membaca Al Quran.”

7.DISAYANGI RASULULLAH S.A.W
Sabda rasulullah s.a.w.:
“Dari  Jabir Bin Abdullah ra. Bahawa nabi s.a.w menyatukan dua orang dari  orang-orang yang gugur dalam perang uhud dalam satu liang lahad.
Kemudian nabi s.a.w. bertanya, “dari mereka berdua siapakah paling banyak hafal Al Quran?” apabila ada orang yang dapat menunjukkan kepada salah satunya, maka nabi s.a.w memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke liang lahad.”

8.DAPAT MEMBERIKAN SYAFAAT KEPADA KELUARGA
Sabda rasulullah s.a.w.:
“Dari  Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah ia berkata, “Barangsiapamembaca Al Quran dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya kedalam syurga dan memberikannya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya di mana mereka semuanya telah di tetapkan untuk masuk neraka.”

9.PENGHAFAL AL QURAN AKAN MEMAKAI MAHKOTA KEHORMATAN
Sabda rasulullah s.a.w.:
“Dari  Abu Hurairah ra.dari nabi s.a.w. baginda bersabda: “orang yang hafal Al Quran nanti pada hari kiamatnanti akan datang dan Al Quran akan berkata; “Wahai Tuhan ,pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru.” Maka orang tersebut di berikan mahkota kehormatan. Al Quran berkata lagi:
“Wahai Tuhan tambahlah pakaiannya.” Maka orang itu di beri pakaian kehormatannya. Al Quran lalu berkata lagi, “Wahai Tuhan, redailah dia.” Maka kepadanya di katakan; “Bacalah dan naiklah.” Dan untuk setiap ayat, ia di beri tambahan satu kebajikan.”

10.HAFAL AL QURAN MERUPAKAN BEKAL YANG PALING BAIK.
Sabda rasulullah s.a.w.:
“Dari  jabir bin nufair, katanya rasulullah s.a.w. bersabda; “Sesungguhnya kamu tidak akan kembali menghadap Allah dengan membawa sesuatu yang paling baik daripada sesuatu yang berasal dari-Nya yaitu Al Quran.

11.ORANG TUA MEMPEROLEHI PAHALA KHUSUS JIKA ANAKNYA PENGHAFAL AL QURAN.
Sabda rasulullah s.a.w.:
“Dari  Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahawasanya ia mendengar Rasulullah s..a.w bersabda: “Pada hari kiamat nanti, Al Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: “Apakah anda mengenalku?”.
Penghafal tadi menjawab; “saya tidak mengenal kamu.” Al Quran berkata; “saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: “kenapa kami di beri dengan pakaian begini?”. Kemudian di jawab, “kerana anakmu hafal Al Quran.”
Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi di perintahkan, “bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya.” Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil)

12.AKAN MENEMPATI TINGKATAN TERTINGGI DI DALAM SYURGA.
Sabda rasulullah s.a.w.:
“Dari  Sisyah ra ia berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda; jumlah tingkatan-tingkatan syurga sama dengan jumlah ayat-ayat Al Quran. Maka tingkatan syurga yang di masuki oleh penghafal Al Quran adalah tingkatan yang paling atas, dimana tidak ada tingkatan lagi sesudah itu.
Semoga dengan memahami hal ini, kita semua bisa lebih terpacu untuk bisa menghafal Al Qur’an setiap harinya, semampu kita.

Umiy. . .


  KASIH SAYANG SEORANG IBU

Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?”
Sebagai balasannya, kau jawab, “Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan, “Aku tidak ingin seperti Ibu.”
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.

Sebagai balasannya, kau mengeluh, “Bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?”
Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai pernikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya,”Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!”
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau jawab, “Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.

JIKA BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA MEMBERIKAN KASIH SAYANGMU LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN SELAMA INI DAN JIKA BELIAU SUDAH TIADA, INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU..

Akrab Dengan Al-Qur'an


'BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR 'AN

'BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR 'AN

 

a). Tilawah adalah ibadah yang sangat dicintai Allah swt. Kecintaan Allah terhadap tilawah para hamba-Nya terlihat pada perhatiannya yang besar untuk mendengarkan alunan suara hamba yang khusyuk mengeja huruf demi huruf kalam-Nya.
“Sungguh Allah SWT lebih besar perhatiannya mendengarkan seseorang yang bagus suaranya dengan membaca Al-Qur’an daripada seorang penyanyi terhadap nyanyiannya. “ (HR Ibnu Majah)
Kata bagus suaranya dalam hadits di atas tentunya tidak terbatas pada orang yang suaranya merdu, yang sudah tentu tidak dimiliki semua orang. Namun, lebih kita pahami dengan makna Jaudatul Ada’ (bagus prakteknya). Terbukti, apalah artinya suara merdu jika makhorij huruf-nya dan ahkam tajwid-nya tidak beres. Maka, hendaknya perhatian kita pada urgensi tahsin tilawah (perbaikan bacaan) harus nyata, sebagai konsekuensi iman kepada Al-Kitab. Artinya, tilawah yang bagus merupakan indikasi keimanan seseorang
“Orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan haqqo tilaawatihi (bacaan yang sebenarnya), merekalah orang-orang yang beriman kepadanya.” (Al-Baqarah : 121)
Sebagian ulama menjelaskan makna haqqo tilaawatihi dengan terfungsikannya tiga unsur dalam diri pembaca Al-qur’an. Akal mampu memahami apa yang dibaca. Lisan mampu melafadzkan bacaan dengan perenungan dan penghayatan, bukan hanya bacaan yang lewat di kerongkogan saja. Anggota badan mengimplementasi nilai-nilai qur’ani dalam setiap aktivitasnya.
b). Baiknya tilawah berarti menjaga keaslian Al-Qur’an
Al-Qur’an diwahyukan Jibril as. kepada Rasulullah saw. degan bacaan yang baik, begitu juga Rasulullah kepada para shahabat, para shahabat kepada para tabi’in, demikian seterusnya. Agar dapat dipertanggungjawabkan keaslian bacaan tersebut, para ulama mengabadikannya dengan adanya sanad yaitu runtutan para pengajar Al-Qur’an dari zaman Rasul saw. sampai sekarang, yang biasa diperoleh oleh orang yang ber-talaqqi Al-Qur;an kepada seorang qori’ (orang yang alim dalam ilmu tilawah) dari awal Al-Qur’an sampai akhirnya. Sehingga, para ulama telah menetapkan bahwa tilawah sesuai dengan tajwid, hukumnya fardhu ‘ain. Sebagaimana Imam Al-Jazari telah menjelaskan.
c). Baiknya tilawah memudahkan pembaca/pendengar men-tadabburi Al-Qur’an.
“Inilah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang memberkahi, agar mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan dijadikan peringatan bagi orang-orang yang berakal.” (Shaad : 29)
Hampir tidak mungkin dapat memperhatikan kandungan ayat-ayat qur’an dengan baik bila bacaan qur’annya tidak baik (apalagi pembaca qur’annya juga tidak shalih), begitu juga orang yang mendengarkan bacaannya. Terlebih jika bacaan itu dilakukan dalam shalat.

Mengapa? Sebab, bacaan yang tidak baik akan mengakibatkan pembaca —kalau menyadari— dan pendengarnya terkonsentrasi penuh pada bacaannya yang belepotan. Sehingga, bubarlah konsentrasi mereka pada kandungan ayat yang sedang dibaca.
d). Baiknya tilawah memudahkan seseorang meraih pahala Allah sebanyak-banyaknya.
Rasulullah saw. mewasiatkan, hendaknya khatam Al-qur’an dalam sebulan .
” Abdullah bin ’Amr berkata bahwa Rasulullah saw. berkata kepadaku, ’Berpuasalah kamu tiga hari tiap bulan dan selesaikan Al-qur’an dalam sebulan.” (HR Abu Dawud)
Bagaimana mungkin seseorang dapat menyelesaikan tilawah 30 juz dalam sebulan dengan bacaan yang terbata-bata atau kurang lancar? Hanya dengan tilawah yang baik dan dibarengi kesabaran melaksanakan perintahlah kita mampu menunaikannya. Walau sesibuk apa pun urusan seseorang, sebab tilawah yang baik dan lancar hanya butuh waktu 30-40 menit setiap satu juz. Hal ini dapat dilakukan dalam sekali atau dua kali duduk dalam sehari —pagi dan malam masing-masing 20 menit, atau setiap usai shalat fardhu cukup 8 menit.
e). Baiknya tilawah mendukung pengajaran Al-qur’an kepada orang lain, minimal keluarganya.
Kebiasaan mengajarkan tilawah Al-Qur’an kepada orang lain hendaknya dibudayakan, baik dalam lingkup kecil maupun besar. Mengenai pengajaran tilawah yang dilakukan oleh orang yang bacaannya tidak baik –dalam kondisi tertentu masih ditolerir–, namun resikonya berarti menanamkan bacaan yang salah pada orang lain. Jadi, setiap muslim harus memiliki andil dalam proyek amal ini —minimal kepada anak atau keluarga. Sebab bila tidak, mereka pasti rugi lantaran tidak mendapatkan keberkahan qur’an. ”Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)
f). Baiknya tilawah menjadikan seseorang menjadi dai yang dipercaya masyarakat.
Seorang dai adalah orang yang mengajak orang lain pada jalan Allah, maka sudah tentu ia tidak akan lepas dari sumber materi dakwah yang disampaikan, yakni Al-Qur’an. Pengucapan yang benar terhadap ayat-ayat Allah akan menambah tsiqah masyarakat kepada sang dai. Sebaliknya bacaan yang tidak benar, justru akan menjauhkan sebagian masyarakat terhadapnya. Seorang dai tentunya harus lebih peka dalam memahmi kondisi masyarakat, tidak malah bersikap tidak peduli. Masyarakat biasanya mencerca dai yang salah mengucapkan walau satu huruf saja, sebaliknya mereka bersikap biasa saja terhadap orang yang sama sekali tidak melaksanakan Al-qur’an pada diri dan keluarganya. Maka, dai harus menyadari kondisi ini dengan tekun melakukan tahsin tilawah-nya.
g). Baiknya tilawah akan dapat mengangkat kualitas seseorang
      Kedudukan orang yang baik tilawahnya, pada maqam para anbiya dan malaikat. 
      Para    ulama menjelaskan bahwa ukuran mahir, selain baik tilawahnya, juga harus hapal,  
      paham, dan mengamalkan isinya. “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an bersama para 
      malaikat yang mulia dan taat.” (HR Muslim)

"hidupkan hatimu"

Hati adalah cermin





Senjata Itu Bernama Lidah


LidaH

Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid, hidup seorang ulama bernama Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri. Di samping sebagai ulama, beliau juga seorang abid yang banyak sujud kepada Allah SWT. Namun ibadahnya yang banyak itu, tidak mendorong niat beliau untuk ber’uzlah (mengasingkan diri) dari masyarakat. Bahkan beliau termasuk da’i pemberani dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahyu munkar.
Alkisah, ketika Khalifah Harun Al-Rasyid sedang melakukan ibadah haji, sebagaimana lazimnya penguasa sekarang, seluruh tempat yang akan dilaluinya ditutup untuk umum. Pada saat Khalifah sedang melakukan sa'i (lari kecil) antara Shafa dan Marwah seorang diri, sambil disaksikan ribuan jamaah haji, berkatalah salah seorang dari mereka kepada ulama tadi, "Hai tuan guru, apakah boleh seorang khalifah mencegah rakyatnya beribadah kepada Allah?” 

Ulama itu menjawab, “Apakah kamu ingin agar aku mencegah kezaliman ini padahal kamu tidak berani melakukannya? Orang yang tidak mampu membela kebenaran adalah syetan bisu”.

Selanjutnya berangkatlah Abdullah Al-Amri ke tempat sa'i, sesampainya di dekat Shafa, kebetulan saat itu khalifah baru saja tiba di sana, berteriaklah beliau, “Haruuun ….! (tanpa menyebut jabatan khalifah). Mendengar jeritan tadi, seluruh jamaah haji –termasuk khalifah– menghadapkan wajahnya ke arah datangnya suara. Setelah khalifah tahu siapa yang memanggilnya, segera beliau menjawab, “Labbaika ya' amin.”

“Naiklah ke bukit Shafa! Lihatlah ke Ka'bah, berapakah jumlah manusia di sana?” Tanya sang ulama. “Tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah,” jawab khalifah. “Ketahuilah, setiap orang dari mereka akan diminta pertanggungjawabanmu oleh Allah atas dirimu dan seluruh rakyatmu. Lihatlah kepada dirimu! Apakah pantas engkau perlakukan umat seperti ini?” Mendengar ucapan ulama tersebut, menangislah khalifah seraya mengakui kesalahannya yang beliau lakukan.

Dari kisah di atas, dapat diambil pelajaran betapa lidah itu mempunyai peran yang sangat penting dalam menegakkan Al-Haq. Dan benarlah pepatah “Lidah lebih tajam dari pedang”. Allah SWT juga memuji orang-orang yang mengaktifkan lidahnya untuk berda'wah.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang-orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (Q.S 41:33)
Sebagai salah satu sarana amar ma'ruf nahyu munkar, lidah telah terbukti keampuhannya sejak dimulainya dakwah Islam oleh Rasulullah SAW. Dia ampuh untuk mengajak kepada kebaikan, juga untuk mencegah kemungkaran dan kebatilan.sejarah telah mencatat betapa seorang nenek tua berani menegur Umar bin Khathab yang sedang berpidato di atas mimbar, karena kekeliruan khalifah dalam masalah mas kawin. Juga ketika khalifah Umar baru saja diangkat menjadi pemimpin umat, Beliau berpidato di atas mimbar, seraya berkata, “Hai manusia, apakah yang akan kalian kerjakan jika aku menyimpang dalam memimpin umat?” Kami akan luruskan penyimpangan Anda dengan pedang kami”. Inilah contoh dari keberanian umat dalam menegakkan Al-Haq.

Pada saat lidah menjadi tumpul, banyak sekali kerusakan dan kemungkaran yang ditimbulkan oleh masyarakat dan kalau kemungkaran sudah dominan, pembela Al-Haq tak akan berharga lagi. Orang-orang jujur menjadi hina. Masyarakat lebih cenderung kepada maksiat, dan kebenaran hanya menjadi permainan lidah. Yang muda durhaka dan yang tua bergelimang dosa.

Alquran hanya sebagai nyanyian dan ulama penuh dengan kemunafikan. Yang kecil tidak menghormati yang besar dan yang kaya tidak mengasihi yang miskin. Pada saat itu ilmu dikuasai orang-orang bejat dan kekuasaan dipegang oleh orang-orang tamak. Kalau yang demikian itu sudah terjadi, mungkin laknat Allah yang akan tiba sebagaimana yang terjadi pada Bani Israel dahulu.
Firman Alloh SWT :
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka selalu durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.(QS 5:78-79).

Dalam kaitan ayat di atas, Ustadz Sayyid Qutb menulis dalam tafsir Zhilalnya, ”Manhaj Islami menghendaki agar jamaah muslimah memiliki eksistensi yang hidup dan kokoh. Ia harus mampu menolak berbagai bentuk penyimpangan dan kemaksiatan sebelum menjadi fenomena umum di masyarakat. Ia harus kokoh membela Al-Haq dan peka terhadap gejala-gejala kebatilan. Sebagaimana manhaj tadi juga menghendaki kepada tokoh masyarakat dan agama agar melaksanakan amanah yang dibebankan dan mampu menghadapi berbagai bentuk kejahatan, kerusakan dan kezaliman, tanpa sedikit pun dihantui rasa takut kepada penguasa, kaum elit danlih berganti dengan segala kezaliman dan kebiadabannya. Sayangnya, sejarah terkadang sepi dari tokoh-tokoh Al-Haq yang akan mengimbangi bahkan mengalahkan kebatilan tersebut. Kalau dulu, ketika terjadi riddah (keluar dari agama) ada Abu Bakar Shiddiq, siapakah tokoh yang diharapkan menghadapi pemurtadan masa kini? 

Rasanya setiap muslim sekarang ini harus mengasahi lidahnya, agar tidak tumpul ketika menyaksikan kebenaran dikebiri dan kebatilan disanjung-sanjung.

 SETIALAH KEPADA KEBENARAN DAN KEBAIKAN


Waspada Virus Futuur



Antisipasi Futuur

 


   
Di dalam beraktifitas, kadang kala seorang da'i terlalu berlebihan atau memaksakan diri dalam berda'wah - amaliyah beribadah - tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi diri, baik fisik, kesehatan maupun psikis. Sedangkan dalam diri manusia memiliki kemampuan yang terbatas. Melampaui batas kewajaran dalam melakukan hal-hal yang mubah, sikap ekstrim dalam melaksanakan aturan agama, mengutamakan hidup 'uzlah (menyendiri) daripada berjamaah. Menyepelekan aktifitas harian, kurang mengingat kematian dan akhirat, mengerjakan sebagian dari syariat agama, mengabaikan kebutuhan jasmani dan membiarkan dirinya termasuki sesuatu yang haram atau bernilai syubhat, tidak terprogramnya aktifitas yang dilakukan sehingga tidak siap menghadapi kendala da'wah, melalaikan kaidah sunnatullah, dan berlarut-larut dalam melakukan maksiat sehingga meremehkan dosa-dosa yang kecil. Akhirnya terbiasa dengan dosa-dosa besar, serta berteman dengan orang yang berpenyakit futuur. Semua itu yang menyebabkan seseorang yang sedang ditanda kefutuuran.

Futuur adalah suatu penyakit hati yang efek minimalnya timbul rasa malas, lamban, dan sikap santai dalam melakukan amaliyah yang sebelumnya pernah dilakukan dengan penuh semangat dan menggebu-gebu, dan efek maksimalnya terputus sama sekali dari praktek suatu amaliyah tersebut. Penyakit rohani ini kerap menjangkiti para aktifis da'wah dalam menggeluti jalan jihad fi sabilillah. Oleh karena itu, penyakit rohani (futuur) ini tidak dibiarkan berlarut-larut dalam diri aktifis da'wah dan harus segera ditanggulangi sedini mungkin. Adapun untuk mengatasi futuur tersebut adalah :

1. Menjauhi perbuatan maksiat dan keburukan baik yang besar ataupun kecil.
Perbuatan maksiat itu ibarat api yang membakar hati serta akan mengundang kemurkaan Allah swt. Dan barang siapa yang dimurkai oleh Tuhannya, maka ia akan merugi dengan kerugian yang nyata, sebagaimana firman-Nya, "…Dan barang siapa ditimpa kemurkaan-Ku maka binasalah dia." (Thaha: 81)

2. Tekun dalam melaksanakan kewajiban harian.
Sesungguhnya melakukan kewajiban harian - membaca Al qur'an, al ma'tsurat, serta melakukan aneka shalat sunnah lainnya, seperti dhuha, qiyamullail, dan sebagainya - akan menimbulkan keimanan yang baik, memberikan keuletan pada jiwa, menggerakkan dan mempertinggi semangat, serta memperkuat 'azam (tekad) dalam berkhidmat kepada Allah swt.

3. Menghindarkan diri dari sikap berlebihan dalam menjalankan agama.
Membebaskan diri dari sikap berlebihan dan melewati batas bukan berarti meninggalkan suatu amal atau justru menyepelekannya, tetapi adanya sesuatu keseimbangan (iqthishaad) dan sikap pertengahan (tawassuth) disertai dengan usaha untuk melaksanakan secara kontinyu dan istiqomah terhadap semua sunah Rasul
"lakukanlah amal itu sebatas kesanggupanmu, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan, dan sesungguhnya amal yang paling disukai Allah ialah amal yang dikerjakan terus menerus sekalipun sedikit (Mutafaq 'alaih).

4. Terjun dalam lingkungan jamaah dan tidak meninggalkannya dalam sikap apapun.
"Berjamaah itu menimbulkan rahmat (kasih sayang) sedangkan berpecah belah akan menyebabkan turunnya azab..." (HR. Ahmad).

5. Menyadari bentuk kendala yang akan dihadapi.
Dengan menyadari adanya kendala dalam menempuh jalan da'wah, kita akan memiliki bekal serta persiapan yang baik saat kendala itu benar-benar menghadang. Disamping itu da'i akan memiliki kesempatan untuk mengantisipasinya, khususnya yang berkaitan dengan penyakit futuur tersebut.

6. Ketelitian dan merencanakan strategi yang baik.
Dalam melakukan da'wah da'i harus senantiasa memperhatikan skala prioritas dan mengatur strategi, yakni dengan mendahulukan hal-hal yang penting dan menangguhkan hal-hal yang kurang begitu penting. Insya Allah laju perjalanan da'wah akan berjalan dengan lancar dan berhasil mencapai sasaran. Sebaliknya jika mengabaikannya akan mudah terjebak untuk memasuki kancah pertarungan sampingan atau berputar pada masalah juz'iyyah (sektoral).

7. Senantiasa menjalin hubungan dengan para shalihin dan mujahidin.
Hal ini perlu kita lakukan, mengingat para shalihin dan para mujahidin tersebut merupakan para hamba Allah yang memiliki jiwa yang bersih, cahaya hati, dan kilauan rohani, sepi dari sikap mencela dan memaksa. Oleh karena itu, jika kita senantiasa menjalin hubungan dengan mereka, akan dapat menghidupkan kembali tekad dan memicu semangat kita yang terkadang mudah turun-naik. Rasulullah memberi perhatian dalam hal ini lewat sabdanya, "Maukah kalian kukabari tentang orang yang paling baik?" Sahabat menjawab, "Tentu, ya Rasulullah." Beliau lalu berkata, "Yaitu seorang yang jika engkau melihatnya ia akan mengingatkan engkau akan Allah SWT." (HR. Ibnu Majah).

8. Memberikan waktu kepada jasmani untuk istirahat, makan, dan minum secukupnya.
Hal ini akan dapat memperbaharui semangat dalam tubuh dan mengembalikan kekuatan dan vitalitasnya. Nabi saw mengisyaratkan hal ini kepada para aktivis, pada saat beliau memasuki mesjid kemudian melihat sebuah tali yang dibentangkan di antara dua buah tiang. Beliau lalu bertanya, "Tali apa ini?" Para sahabat menjawab, "Itu tali milik Zainab. Jika ia merasa letih beribadah, ia akan segera bergantung pada tali ini (untuk beribadah)". Mendengar penjelasan tersebut beliau lalu bersabda, "Lepaskan tali itu, dan lakukanlah oleh kalian shalat selama kalian masih kuat, tetapi jika merasa lelah hendaklah kalian tidur." (Muttafaq 'alaih).

9. Menghibur diri dengan hal-hal yang dibolehkan.
Misalkan bermain dan bergurau dengan anggota keluarga (anak dan istri), melakukan rihlah (wisata) bersama mereka, seperti memancing, berolah raga, tadabbur (merenungi) dan tafakkur (memikirkan) keindahan alam, hiking (mendaki gunung), latihan pengembaraan untuk melatih, membekali, dan membiasakan diri ketika berhadapan dengan suatu kesulitan, berkebun, dan lain-lain.

10. Melakukan kajian secara kontinyu terhadap buku-buku yang membahas perjalanan hidup atau sejarah para sahabat atau orang-orang shalihin lainnya.
Semua kisah mereka itu sarat dengan hikmah dan perjalanan. Dapat kita jadikan sumber referensi serta bahan bandingan dalam menghadapi persoalan-persoalan yang kita hadapi saat ini. "Sungguh, di dalam kisah-kisah mereka (para nabi) terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berfikir…" (QS Yusuf: 111).

11. Mengingat kematian dan kejadian-kejadian yang bakal terjadi selanjutnya.
Dengan senantiasa mengingat kematian dan kejadian-kejadian yang bakal dihadapi selanjutnya akan dapat membangunkan jiwa dari kelelapan, membangkitkannya dari kemalasan, mengingatkannya dari kelelapan, mengingatkannya dari kelalaian, sehingga kita akan kembali bersemangat dan mulai meneruskan amaliyah. Cara yang paling baik untuk mengingat kematian adalah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, yakni dengan mempersering ziarah kubur, mengantarkan jenazah, atau mengunjungi orang-orang yang tengah dilanda sakit keras. 

12. Mengingat kenikmatan surga dan azab neraka.
Hal ini akan mampu mengusir rasa kantuk dari kelopak mata, menggerakkan dan membangkitkan semangat yang mulai kendor dan melemah. Dalam sebuah riwayat dari Haram bin Hayyan, ia pernah keluar pada suatu malam, kemudian ia memanggil-manggil dengan suara keras, "Aku terpikat oleh surga. Jadi bagaimanakah seseorang yang menginginkannya dapat tidur? Dan aku sangat takut pada siksa neraka. Jadi, bagaimanakah orang yang ingin menjauhinya dapat tidur?" Kemudian ia membaca sebuah ayat, "Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" (At-Takhwiif bi an-Naar, Ibnu Rajab).

13. Menghadiri majelis-majelis ilmu.
Karena ilmu adalah penghidup hati, maka ketika seseorang mendengarkan kata-kata dari seorang alim yang shadiq (benar) dan mukhlis (ikhlas), maka hal itu akan dapat menyuburkan semangat dirinya. Mahabenar Allah yang telah berfirman, "…Sesungguhnya yang takut terhadap Allah adalah hamba-hamba-Nya yang berilmu…" (QS. Faathir: 28). "Dan katakanlah, Ya Tuhan, tambahkanlah aku ilmu pengetahuan." (QS. Thaahaa: 114).

14. Menjalankan ajaran agama Islam secara total.
Hal tersebut lebih menjamin kontinuitas suatu amal hingga batas akhir kehidupan kita kelak.

15. Muhasabatu an nafs (mengoreksi jiwa).
Senantiasa memantau keadaan hati dapat mengantisipasi suatu kesalahan pada waktu dini, sehingga proses pengobatannya akan lebih mudah. "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." (QS. Al Hasyr: 18).
 
Maraji': Penyebab Gagalnya Dakwah (Dr. Sayyid Muhammad Nuh).

Sabtu, 29 Oktober 2011

Bidadari Itu Bernama Fathimah Az-Zahra

Sang Putri Rasululloh SAW
dambaan mukmin sejati




Beliau adalah putri ke 4 dari anak anak Rasululloh Shallallahu alaihi wassalam, dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid. Sesungguhnya allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki kelahiran Fathimah yang mendekati tahun ke 5 sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah sebagai menengah ketika terjadi perselisiha antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakan kembali Hajar Aswad setelah Ka’abah diperbaharui. Dengan kecerdasan akalnya beliau mampu memecahkan persoalan yang hampir menjadikan peperangan diantara kabilah-kabilah yang ada di Makkah.

Kelahiran Fahimah disambut gembira oleh Rasululloh Shallallahu alaihi wassalam dengan memberikan nama Fathimah dan julakannya Az-Zahra, sedangkan kunyahnya adalah Ummu Abiha (Ibu dari bapaknya).
Ia putri yang mirip dengan ayahnya, Ia tumbuh dewasa dan ketika menginjak usia 5 tahun terjadi peristiwa besar terhadap ayahnya yaitu turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban oleh ayahnya. Dan ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan kepada ayahnya.sampai cobaan yang berat dengan meninggal ibunya Khadijah. Ia sangat pun sedih dengan kematian ibunya.

Pada saat kaum muslimin hijrah ke madinah, Fathima dan kakanya \ummu Kulsum tetap tinggal di Makkah sampai Nabi mengutus orang untuk menjemputnya.Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar, para sahabat berusaha meminag Fathimah. Abu Bakar dan Umar maju lebih dahulu untuk meminang tapi nabi menolak dengan lemah lembut.Lalau Ali bin Abi Thalib dating kepada Rasulullah untuk melamar, lalu ketika nabi bertanya, “Apakah engkau mempunyai sesuatu ?”, Tidak ada ya Rasulullah,” jawabku. “ Dimana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan kepadamu,” Tanya beliau. “ Masih ada padaku wahai Rasulullah,” jawabku. “Berikan itu kepadanya (Fatihmah) sebagai mahar,”.kata beliau.

Lalu ali bergegas pulang dan membawa baju besinya, lalu Nabi menyuruh menjualnya dan baju besi itu dijual kepada Utsman bin Affan seharga 470 dirham, kemudian diberikan kepada Rasulullah dan diserahkan kepada Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin.

Kaum muslim merasa gembira atas perkawinan Fathimah dan Ali bin Abi Thalib, setelah setahun menikah lalu dikaruniai anak bernama Al- Hasan dan saat Hasan genap berusia 1 tahun lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun ke 4 H. pada tahun kelima H ia melahirkan anak perempuan bernama Zainab dan yang terakhir benama Ummu Kultsum.

Rasullah sangat menyayangi Fathimah, setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu menemui Fathimah sebelum menemui istri istrinya. Aisyah berkata ,” Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah selain Fathimah, jika ia dating mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fathimah bila Rasulullah dating mengunjunginya.”.

Rasulullah mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:” Sungguh Fathima bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah bearti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fathimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”.

Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menjalankan haji wada’ dan ketika ia melihat Fathima, beliau menemuinya dengan ramah sambil berkata,” Selamat dating wahai putriku”. Lalu Beliau menyuruh duduk disamping kanannya dan membisikan sesuatu, sehingga Fathimah menangis dengan tangisan yang keras, tak kala Fathimah sedih lalu Beliau membisikan sesuatu kepadanya yang menyebabkan Fathimah tersenyum.
Takala Aisyah bertanya tentang apa yang dibisiknnya lalu Fathimah menjawab,” Saya tak ingin membuka rahasia”. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah bertanya lagi kepada Fathimah tentang apa yang dibisikan Rasulullah kepadanya sehingga membuat Fathimah menangis dan tersenyum. Lalu Fathimah menjawab,” Adapun yang Beliau kepada saya pertama kali adalah beliau memberitahu bahwa sesungguhnya Jibril telah membacakan al-Qura’an dengan hapalan kepada beliau setiap tahun sekali, sekarang dia membacakannya setahun 2 kali, lalu Beliau berkata “Sungguh saya melihat ajalku telah dekat, maka bertakwalah dan bersabarlah, sebaik baiknya Salaf (pendahulu) untukmu adalah Aku.”. Maka akupun menangis yang engkau lihat saat kesedihanku. Dan saat Beliau membisikan yang kedua kali, Beliau berkata,” Wahai Fathimah apakah engkau tidak suka menjadi penghulu wanita wanita penghuni surga dan engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku”.Kemudian saya tertawa.

"Putriku sayang,, jadilah bidadari surga..":-)
Takala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, Fathimah jatuh sakit, namaun ia merasa gembira karena kabar gembira yang diterima dari ayahnya. Tak lama kemudian iapun beralih ke sisi Alloh SWT pada malam selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.

Al Wala' Wal Bara'


Pengertian Wala’ dan Bara’

                Secara bahasa, Wala’ berasal dari kata al-walayah yang artinya nasab, pertolongan pembebasan budak, sedangkan orangnya disebut al-Muwalat yang artinya orang yang menolong.Bara’ berarti lepas atau bebas dan jauh dari.
                Secara istilah wala’ berarti pertolongan, kecintaan, pemuliaan, penghormatan, kesamaan dengan orang-orang yang dicintai baik secara zahir maupun batin (loyalitas) [2:257].
                Penjelasan lebih jauh definisi wala’ dan bara’, seperti yang dikatakan Syaikhul-Islam, Ibnu Taimiyyah:”Al-walayah kebalikan dari al-’Adawah.Asal pengertian dari al-Walayah adalah kecintaan dan kedekatan.Sedangkan pengertian al-’Adawah adalah kebencian dan kejauhan.Al-wali artinya yang dekat”.

Pentingnya Wala’ dan Bara’

                Wala’ dan Bara’ merupakan keharusan karena merupakan bukti kecintaan seorang mukmin kepada Allah.Syekh Hafizh al-Hikamy berkata,”Tanda kecintaan hamba kepada Rabbnya ialah: mendahulukan apa yang dicintai-Nya, meskipun hawa nafsunya menentang, membenci apa yang dibenci-Nya meskipun hawa nafsunya condong kepadanya, mengangkat orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai pemimpinnya, memusuhi orang yang memusuhi-Nya, mengikuti Rasulullah, meniti jejaknya dan menerima petunjuk-Nya”.At-Thabrani meriwayatkan dalam al-Kabir, dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tali iman yang paling kuat adalah loyalitas terhadap pemimpin karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah pula”.Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, menjelaskan perkataan Ibnu Abbas: “Perkataan Ibnu Abbas ra.: “Loyalitas pemimpin karena Allah”, menjelaskan tentang keharusan kecintaan karena Allah yaitu loyalitas karena Allah pula.Hal ini merupakan isyarat bahwa sikap tersebut tidak hanya terbatas pada kecintaan semata, tetapi harus disertai loyalitas yang merupakan keharusan kecintaan.Loyalitas itu berupa tindakan memberi pertolongan, menghormati, memuliakan, selalu bersama orang-orang yang dicintai, zhahir dan bathin.Dan perkataannya: “Membenci karena Allah”, menjelaskan keharusan kebencian karena Allah, yaitu berupa permusuhan.Maksudnya ialah memperlihatkan permusuhan, langsung berupa tindakan, seperti jihad menghadapi musuh-musuh Allah, melepaskan diri dari mereka, menjauhi mereka zhahir dan bathin. Sikap ini tidak hanya sekadar kebencian hati tetapi harus disertai pula dengan sikap-sikap yang harus dilakukan [61:4]”.

                Wala’ dan bara’ juga merupakan pengejawantahan dari kalimat Laa ilaha illallah.Kalimat ini merupakan penolakan terhadap segala bentuk ilah yang diikuti dengan mengukuhkan Allah saja sebagai satu-satunya ilah.Jika seseorang memulai dengan menegakkan Laa ilaha dalam dirinya maka akan tumbuh al-Bara’.Al-Bara’ ditujukan kepada:
a.     Arbaba, sesuatu yang dijadikan Tuhan [9:31]
b.     Aaliha, tuhan-tuhan yang disembah selain Allah [25:3, 11:54]
c.     Andaada, tandingan-tandingan Allah [2:165]
d.     Thogut, sesuatu yang melampaui batas [2:256].

Dengan membatalkan semua bentuk ilah dan mengecualikannya untuk Allah maka akan tumbuh al-Wala’.Al-Wala’ diberikan kepada:
a.     Allah [2:257, 22:78, 66:4]
b.     Islam [3:85, 5:3]
c.     Rasul [3:31-33]
d.     Orang-orang mukmin atau sholeh [3:28, 3:3, 4:89, 5:51, 60:1, 9:71].



REFERENSI
Muhammad bin Sa’id bin Salim Al-Qahthany, Loyalitas Muslim terhadap Islam, Ramadhani
Muhammad bin Sa’id bin Salim Al-Qahthany,Muh. bin Abdul Wahhab dan Muhammad Qutb, Memurnikan Laa Ilaaha Illallah, GIP